Bila Cinta

Bila Cinta
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

6 tahun kemudian


Juana sedang asyik berada di taman belakang memperhatikan seorang anak yang berlarian berkejar-kejaran dengan seekor anjing.



" Litaaa!!" Teriak anak itu. Juana berbalik. Senyumnya mengembang.


" Mer! kok gak bilang mau datang? Mana papa?" Tanya Juana seraya memeluk sahabatnya itu dan bercipika cipiki seperti biasa.


" Ck...kok papa? Papaku kan dah jadi kakak iparmu!" Tegur Merlita.


" Hush!"


Keduanya tergelak. Darwin tersenyum melihat kelakuan keduanya dari kejauhan


Bugh


" Uhff..aduh...sepupuku udah tambah besar aja. Tambah ganteng, eh.."


Anak itu semakin melebarkan senyumnya, menampakkan deretan gigi susunya.


" Lita, nanti Lita lama kan, disini?" Tanya anak itu dengan mata polosnya.


Merlita mengusap rambut sepupu kecilnya dengan lembut.


" Kenapa? Dennis kangen, ya?"


" Iya, Dennis pengen main PS lagi sama Lita," ujar Dennis


" Lho, mama kan ada."


" Mama gak asyik. Mama selalu kalah!" Kesal Dennis sambil memanyunkan bibirnya.


" Lho, mama kalah karna Dennis terlalu pintar, " kilah Juana


" Bukan. Karna mama yang gak bisa main!"


Merlita terpingkal mendengar kepolosan Dennis mengumbar aib mamanya yang tidak bisa menyenangkan putranya. Sementara Juana mencebik kesal. Ia memang tak bisa bermain game. Dari kecil ia tak suka bermain permainan laki-laki itu dan tak ingin mengetahui caranya. Sekarang, karna anak laki-laki satu-satunya itu, ia harus ikut bermain.


" Sudah..sudah...Ayo kita makan siang dulu!" Panggil Lin Mei.


" Ayo, Na. Mama dah manggil makan tuh!" Kata Merlita semangat.


" Ih, Lita kalo soal makan aja semangat. Giliran disuruh om Darwin bersihin kamar, lemes kayak belum makan 3 hari." Celetuk Dennis. Ia ingat benar kelakuan sepupunya yang berpaut usia sangat jauh darinya.


Giliran Juana terpingkal mendengar kejujuran Dennis soal keburukan Merlita.


" Hish...dasar kamu Dennis! Lita gak mau main Dennis kalo gitu..hmmphh!" ucap Lita kesal

__ADS_1


Juana terus tergelak sambil berjalan menuju ruang makan. Si bocah pintar, Dennis, sudah berlari dan merayu kakak sepupunya itu.


" Dennis! Ayo cuci tangannya dulu, sayang!" Panggil Juana.


" Iya, ma." Jawab Dennis


" Lita...nanti beneran main sama Dennis, ya? Ya?" Rayu Dennis lalu berlari ke dapur mencuci tangannya.


Dennis mengambil tempat duduk di sisi Merlita seperti biasa jika sepupunya itu datang.


" Sudah, ayo makan dulu." Kata Darwin. Setelah berdoa bersama, Lin Mei mulai mengambilkan suaminya makan. Dan Juana, ia mulai mengambilkan makan putranya.


" Na, setelah ini ikut papa ke ruang kerja, ya?" Kata Darwin.


" Baik, pa."


Setelah menghabiskan makan siangnya, Juana mengantar Dennis mencuci tangan dan mengeringkannya.


" Dennis, mama ke ruangannya om Darwin dulu, ya. Dennis main sama Merlita. Oke?" pamit Juana. Dennis mengangguk dan berlari mencari rivalnya dalam bermain PS.


Juana membuat kopi dan teh untuk Darwin, isteinya dan dirinya juga. Tak lupa, ia membawa piring berisi kue brownies yang baru ia buat tadi pagi dan menaruh semuanya di nampan.


Didalam ruang kerja, laki-laki setengah baya itu sudah duduk bersama istrinya menunggu Juana.


Tok..tok..


" Masuk!" Seru Darwin


Juana meletakkan nampannya dan menaruh kopi, teh ke depan Darwin dan Lin Mei juga dirinya. Ia juga meletakkan Brownies di tengah meja dan piring-piring kecil dan sendoknya di depan mereka masing-masing.


" Makasih, sayang." Ucap Lin Mei tersenyum.


" Sama-sama, ma." Sahut Juana.


" Na, bagaimana kabarmu selama disini? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Darwin memulai pembicaraannya.


" Juana baik-baik saja, pa." Jawab Juana jujur.


Darwin mengangguk lalu menghela nafasnya kasar.


" Na, sepertinya...kamu harus kembali ke Indonesia," kata Darwin selanjutnya.


Deg


' Kembali ke Indonesia?' benaknya mulai kembali ke masa-masa pahit yang ia lalui.


" Tapi...tapi kenapa, pa?" Tanya Juana.


" Sayang, bacalah ini. Ini kami dapat dari mantan pembantu dirumah kakekmu. Dia berjuang mencarimu, tapi tidak ketemu. Lalu, ia pergi ke kantor lamamu. Untung pengacara Devina masih di sana." Terang Lin Mei setelah menyodorkan sebuah surat pada Juana.

__ADS_1


Juana membuka surat itu dan sesekali memandang Darwin dan Lin Mei.


Ia mulai membaca setiap kata di dalam surat yang dikirim Bi Ijah padanya. Mulutnya menganga tak percaya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya tanpa ia pedulikan.


" Pa...ma...i-ini..."


Darwin dan Lin Mei mengangguk. Juana meremas surat itu dan menangis. Lin Mei segera menghampirinya dan memeluknya. Ia pun ikut menangis. Betapa menyakitkannya kehidupan Juana.


Beberapa menit kemudian, Juana sudah mulai tenang. Ia menghapus air matanya. Lin Mei mengambil teh yang dibuat Juana tadi dan memberikannya pada Juana


" Terima kasih, ma," lirih Juana. Lin Mei mengangguk dan tersenyum. Ia menata rambut Juana yang berantakan.


" Juana mau kembali, pa. Juana harus membuat mereka dihukum," ucap Juana dengan serius.


" Iya, nak. Papa dan mamamu sudah siapkan semuanya. Terserah mau kapan kamu berangkat," kata Darwin


" Tapi, pa. Kak Darren? Juana gak bisa meninggalkan kak Darren. " Ucap Juana panik.


" Nak, selama kamu di Indonesia, kami yang akan di sini bersama Darren. Jangan kuatir. Kamu bisa ke sini sewaktu-waktu," kata Darwin lagi.


Ia memahami kekhawatiran Juana. Karna itu, ia sudah merencanakan semuanya bersama dengan istrinya. Perusahaannya di Indonesia sudah ditangani Merlita dan tunangannya. Jadi, ia bisa sedikit tenang untuk berada di Den Haag beberapa waktu.


" Baiklah, pa. Juana akan bicara dengan Dennis dulu. Papa tahu sendiri, dia tak bisa jauh dari papanya," ucap Juana. Darwin dan Lin Mei mengangguk


" Iya, sayang. Kalau memang Dennis mau disini, juga gak papa. Mama sama papa masih kuat kok jaga anak. Ya kan, pa?" Jawab Lin Mei. Darwin mengangguk dan merangkul istrinya.


" Iya, pa..ma. Kalau begitu, Juana keluar dulu," pamit Juana


" Iya, sayang. Oh, ya. Browniesmu masih ada lagi?" Tanya Darwin. Entah kapan laki-laki paruh baya itu mulai melahap brownies buatan Juana, hingga hanya tersisa 1 potong di piring.


Juana dan Lin Mei melongo melihatnya.


" Ya ampun, pa...kamu sudah makan brownies sepiring, tapi masih kurang?" Tanya Lin Mei sambil mengangkat piring tempat brownies yang hanya tinggal sepotong itu dan menggigitnya. Matanya membulat


" Hmm...Juana ini enak banget. Masih ada lagi?" Tanya Lin Mei


Juana dan Darwin terkekeh mendengarnya.


" Ada kok, ma. Bentar Juana ambilkan."


Juana segera beranjak dari situ dan menuju dapur.


Untunglah ia memasak banyak brownies hari ini. Karena saat memasukkan coklat, tanpa sengaja ia memasukkannya terlalu banyak dan membuatnya terlalu manis. Alhasil, ia harus menambah tepung dan telurnya.


Setelah mengantar brownies ke ruang kerja Darwin, Juana membawakan pula kue kesukaan Dennis itu ke ruang keluarga. Dimana, putranya dan Merlita sedang seru-serunya bermain.


" Jangan terlalu lama mainnya, Dennis. Mama mau bilang sesuatu sama Dennis nanti, ya?" Kata Juana.


" Hmm.." Jawab Dennis. Juana menggelengkan kepalanya dan berlalu

__ADS_1


Ceklek


Juana masuk ke dalam kamar, dimana seorang laki-laki tengah terbaring


__ADS_2