Bila Cinta

Bila Cinta
Juana Pingsan


__ADS_3

Lin Mei membawa Juana kembali ke kediamannya. Dengan papahan Lin Mei dan Merlita, Juana masuk ke dalam kamar temu dan berbaring.


" Nak, ayo ganti baju dulu. Biar enak tidurnya." Bujuk Lin Mei.  Juana mengangguk menurutinya.


Dengan sabar Lin Mei melepas aksesoris kepala Juana dan Merlita membantu menampung air hangat di bathtub untuk sahabatnya itu mandi.


Tak perlu waktu lama bagi Juana menghapus make up yang menempel di wajahnya. Lin Mei juga telah selesai dengan rambut Juana.


" Sekarang mandi dulu gih. Lita udah siapin airnya."


" Iya, ma"


Juana masuk dalam kamar mandi dan berendam. Melepas kepenatannya. Semua masalah yang merundungnya membuat hati dan tubuhnya terasa lemah. Tanpa ia sadari, kesadarannya menghilang.


Lebih dari 30 menit dan Juana tak kunjung keluar. Lin Mei menjadi gelisah.


Tok...tok...


" Na! Juana!" Panggilnya.


Tok...tok..


Tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu kamar mandi tapi terkunci. Lin Mei berlari tergopoh-gopoh keluar.


" LITA! MERLITA! MBOK MINAH!" Lin Mei berteriak sekencang-kencangnya memanggil seisi rumah.


" Ma! Kenapa kok teriak-teriak?" Merlita berlari mendekati Lin Mei


" Ya, nyah? Ada apa, nyah?" Terlihat mbok Minah juga tergopoh berjalan menaiki tangga.


" Cepat! Cepat! Dobrak pintu kamar mandi! Cepat!" Seru Lin Mei seraya menunjuk ke arah kamar tamu. Merlita mengerutkan alisnya lalu berlari.


Tok...tok..


" Na! Juana!" Panggil Merlita.


" Mbok! Panggil pak Di ke sini! Cepat!" Peringah Merlita.


" I-iya, non." Mbok Minah berlari keluar memanggil pak Di atau pak Dito yang adalah satpam kediaman Darwin.


Merlita terus menggedor dan menggerak-gerakkan gagang pintu.


Lin Mei sudah menghubungi Darwin. Laki-laki setengah baya itu bergegas meninggalkan klien yang ia temui.


" Maaf! Saya harus pulang sekarang. Ada masalah. Silahkan dengan asisten saya, Mahfud." Ucapnya pada sang klien. Melihat wajah panik Darwin, klien itu mengangguk mengerti.

__ADS_1


Darwin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Radit! Radit! Awas kau!" Teriak Darwin dalam mobil.


Di kediaman Darwin, pak Di berusaha mendobrak namun gagal. Ia segera mencari obeng dan merusak gagang pintu.


Tlangg...


Gagang pintu berhasil lepas. Pak Dito hendak membuka pintu tapi Lin Mei melarangnya.


" Stop, pak Di! Aku aja!" Seketika pak Dito menyingkir dan Lin Mei segera masuk.


" JUANA!"


" JUANA!"


Pekik Lin Mei dan Merlita bergantian. Kepala Juana sudah tenggelam saat mereka menemukannya.


Merlita segera melepas sumbatan air di bathtub, Lin Mei mengangkat kepala Juana lalu Merlita juga membantu mengangkatnya.


" Ma, panggil ambulan!" Suruh Merlita.


" I-iya," Wanita itu berlari keluar kamar mandi. Karena gugup ia lupa menaruh ponselnya.


" Ma!" Panggil Darwin


" Pa! Ce-cepat panggil ambulan!" Jawab Merlita. " Cepat pa!" Imbuhnya.


" Iya..iya,"


Di dalam kamar mandi, Merlita memberikan Juana pertolongan pertama. Ia masuk ke dalam bathtub dan mendudukkan Juana. Memasukkan tangannya dari bawah ketiak dan menautkan jarinya dibawah dada Juana lalu menghentak-hentakkannya seperti hendak mengangkat tubuhnya.


3 kali Merlita melakukannya dan akhirnya Juana bisa memuntahkan air yang telah masuk. Lin Mei yang masuk saat Merlita melakukan pertolongan pertama, terus menangis. Ia segera mengeringkan seluruh tubuh Juana dan memakaikan gadis itu daster dan celana dalam sebelum memanggil Darwin dan Dito


Darwin dan Dito meletakkan Juana di atas kasur. Tak beberapa lama ambulan datang dan membawa Juana ke rumah sakit. Di IGD selama 4 jam, akhirnya Juana bisa dipindah ke ruang rawat. Menurut dokter, Juana tenggelam karena pingsan yang disebabkan stress dan kelelahan sebelumnya. Jadi, tidak ada indikasi bunuh diri seperti bayangan keluarga Darwin.


Darwin yang mendengar cerita dari bawahan, istri dan anaknya, mengepalkan erat tangannya.


" Aku akan urus semuanya. Aku akan kirim Juana ke Belanda. Biar di sana dia tinggal sama Darren dan Sofia." Kata Darwin pada istri dan anaknya.


" Iya, pa. Aku akan menguruskan paspor buat Juana besok. Visanya semoga cepat turun ya, pa."


Darwin mengangguk. Ia segera menghubungi kolega dan adik kandungnya agar permohonan Visa Juana segera disetujui.


3 hari Juana harus dirawat. Dalam 3 hari itu juga Radit tak pulang. Ia hanya mengirim pesan namun tak ada satupun balasan.

__ADS_1


" Gak biasanya. Ada apa, ya?" Gumam Radit


" Kenapa, mas?" Tanya Lia ketika ia melihat Radit duduk termenung di atas dipan dengan alis berkerut menatap ponselnya saat ia keluar kamar mandi.


" Hah? Oh, gak ada apa-apa, sayang." Jawab Radit dengan senyum.


" Mas, kapan kamu cerai'in cewek itu?" Tanya Lia manja seraya ikut naik ke atas ranjang.


" Iya, sayang. Aku masih nunggu dia yang minta. Kalau aku yang minta terus mama tahu, aku bisa dilempar mama dari rumah, Yang." Jelas Radit sambil mengelus sayang rambut kekasih gelapnya itu.


" Ih! Dasar cewek udik! Udah tahu kamu gak cinta, kok bisa-bisanya sih dia gak langsung cerai'in kamu!" Ucap Lia sebal.


Radit terdiam. Yang salah di sini adalah dirinya dan Lia. Tapi, imbasnya pada gadis yang sudah ia anggap adik itu.


" Yang!" Panggil Lia, " kamu mikirin dia, ya? Kamu mulai suka sama dia?" Tuduh Lia.


" Bukan, sayang. Bukan gitu. Tapi, Juana gak salah dalam masalah ini. Aku yang ngajak dia nikah, maksain dia malah. Jadi, aku..."


" Mas! Kok kamu jadi belain cewek sialan itu sih! Jelas-jelas dia yang ngrebut kamu dari aku!" Lia melepaskan diri dari pelukan Radit dan berbaring menutup tubuhnya dengan selimut.


" Sayang, bukan gitu. Tapi..."


" Sudah mas! Aku mau tidur! Capek!" Ketus Lia. Radit menghela nafas dan mengusap kasar wajahnya. Ia ikut berbaring, namun saat ia hendak menarik Lia ke dalam pelukannya, Lia menghempaskan tangannya kasar.


" Haduh! Ya, sudahlah!" Radit membalikkan badannya dan memunggungi Lia. Melihat kekasihnya memunggunginya, Lia semakin geram. Ia bangun dan keluar kamar serta membanting pintu kamarnya.


Radit tak mengejarnya. Ia membiarkan Lia pergi dan meneruskan tidurnya.


Di dalam kamar tamu, Lia meremas bantal melampiaskan kekesalannya.


" Awas kau ya, Radit! Kalau kamu sampai pergi ke cewek sialan itu, aku ucek-ucek beneran dia!" Geram Lia.


Pagi hari, Radit sudah bersiap pergi. Saat ia turun dan ke meja makan, tak ada makanan tersaji. Diarahkannya matanya ke lantai atas dan menggelegkan kepala.


" Tiap hari aku harus sarapan di kantor, fiuhh.." Radit beranjak dari sana dan berangkat ke kantor.


Sampai di kantor, Radit disambut banyaknya pekerjaan dan masalah pencabutan saham secara sepihak dari perusahaan Linxia Industri.


" Pak, saya sudah tanyakan apa masalahnya pada mereka. Tapi, mereka hanya menjawab itu adalah keputusan kantor pusat." Jelas Bagas, asisten Radit.


" Buat janji ketemu sama Direkturnya." Perintah Radit seraya memeriksa lembaran-lembaran kertas di atas mejanya.


" Baik, pak!" Sahut Bagas


" Kenapa mereka tiba-tiba narik sahamnya? Perasaan proyek resortnya baik-baik aja." Gumam Radit.

__ADS_1


__ADS_2