
Radit sudah berada di rumah keluarganya. Kemarin malam, ia tidak datang memenuhi panggilan sang mama. Tapi, siang ini, ia tak dapat lagi mengelak. Setelah mengatur nafasnya, ia keluar dan menyambut uluran tangan Lia.
Keduanya masuk ke dalam rumah besar keluarga Mahesa dan disambut pelayan yang ada disitu.
" Tuan...nyonya sudah menunggu di taman belakang," tutur asisten rumah tangga yang sudah bekerja pada keluarga Mahesa sejak ia masih balita.
" Hmm," Radit menggandeng Lia menuju taman belakang. Tempat ia dulu bercengkerama dengan mama Vina, ibunda Radit saat ia masih berstatus tunangan Radit.
" Ma," panggil Radit. Wanita paruh baya yang sedang menikmati tehnya menoleh pada ke arah suara yang memanggilnya.
Vina meletakkan cangkirnya lalu berdiri dan menatap tajam keduanya.
" Aku hanya memanggilmu, Radit!" Tukas Vina pada anak sulungnya.
" Ma, jangan seperti itu dong.." pinta Radit memelas
" Kalau kamu masih mau jadi anak mama, cepat tinggalkan perempuan laknat ini!" Geram Vina
" Ma! Dia calon istri Radit!" Sergah Radit.
" Karena dia kamu berani menaikkan suaramu?!" Mata Vina membulat dan menunjuk Radit.
" Ma, ijinkan Lia bicara seben..." Ucap Lia
" Stop! Jangan pernah kamu panggil aku mama dari mulut kotormu itu! Entah sudah berapa wanita sepertiku yang sudah kau panggil begitu lalu kau tusuk mereka dari belakang! " Potong Vina
" Tante.."
" Kamu tidak punya hak berbicara di rumah ini! Cepat pergi dari sini! Rumah ini tidak menerima wanita sepertimu!" Usir Vina.
" Ma! Kalau mama usir Lia, mama berarti juga usir Radit!"
" Silahkan! Anakku hanya Raka Mahesa!" Emosi Vina tersulut karena perkataan putranya itu. Sebegitunya ia membela pelakor yang jelas-jelas sudah membuat kehidupan Radit dan Juana berantakan, mempermalukan keluarga dan membuatnya geram karena ia tahu bagaimana wanita yang dicintai anaknya itu, wanita itu tak sebaik yang ia pikirkan.
" Oke! Radit pergi dari sini. Ini terakhir kalinya Radit pulang ke sini. Dan Radit akan kembali, saat mama dan papa sudah menerima pilihanku!" Tegas Radit. Ia segera berbalik dan mengandeng Lia.
" Tunggu, mas. Aku mau bilang sesuatu dulu sama tante," kata Lia. Radit mengeryit tak mengerti. Tapi, ia melepas tangan kekasihnya dan melihatnya mendekati Vina.
Radit perlahan mendekati keduanya. Ia mendengar bagaimana Lia meminta waktu berbicara pada mamanya.
" Tante, saya dan Radit saling mencintai, dan...di dalam sini, sudah ada buah cinta kami, cucu tante." Kata-kata Lia bagai petir yang menyambar Vina siang bolong. Radit juga terkejut mendengarnya. Ia memang sudah berhubungan dengan Lia, tapi ia selalu memakai pengaman. Jadi, bagaimana mungkin Lia bisa hamil?
__ADS_1
" Ka-kau hamil?!" Tanya Vina. Matanya mendelik dan menunjuk perut Lia. Wanita berambut sebahu itu tersenyum dan mengangguk. Radit berlari dan menarik Lia agar menghadapnya.
" Kamu beneran hamil?" Tanya Radit. Bola mata Radit menatap lekat wanitanya. Lia menghela nafas dan mengangguk.
" Iya, sayang. Aku hamil. Hamil anak kamu," ucapnya. Radit menoleh melihat mamanya.
" Ma, mama tega mau membuang ibu dari anakku?" Tanya Radit.
" Aku sampai kapanpun, tidak akan sudi menerima dia jadi menantuku!" Keukeuh Vina lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Radit menatap punggung mamanya dengan sendu. Ia tak menyangka, walaupun mamanya tahu ia akan segera menjadi seorang oma. Hatinya sama sekali tak tergerak.
" Sayang, ayo kita pulang," ajak Radit. Lia tersenyum dan meraih tangan Radit, bergalayut manja di lengan kekar kekasihnya.
Di dalam mobil, Radit terdiam. Dia masih berusaha mencerna kabar yang disampaikan Lia.
" Sayang, apa kamu gak suka kalo aku hamil, hmm?" Tanya Lia manja
" Bukan gitu, sayang. Hanya saja, aku selalu pake pengaman waktu sama kamu. Kok..."
" Ooh...kamu mau nuduh aku selingkuh trus gak mau ngakuin anak kamu sendiri? Gitu?!" Tuduh Lia
" Tahu' deh!" Lia menepis tangan Radit dari perutnya dan melipat tangannya.
" Maafin aku, sayang. Ya..." Rayu Radit dan berusaha memegang tangan Lia tapi ditolak pemiliknya.
" Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Kita cek kandungan kamu. Gimana?"
Tak ada jawaban dari wanita di sampingnya. Radit menghela nafas dan melajukan mobilnya menuji rumah sakit.
Di ruangan dokter, Lia kembali menatap layar monitor di depannya.
" Ini janinnya, bu. Dia sehat, janin ibu sudah...10 minggu," kata dokter Diana.
Suster membantu Lia membersihkan perutnya dari gel yang tadi ditaruh di perutnya sebelum USG.
" Pak, tolong dijaga istrinya. Ini resep obat mual. Hanya diminum saat mual saja, ya. Dan ini vitamin untuk janin diminum 2x sehari, siang dan malam setelah makan. Hindari makanan yang dibakar dan perbanyak ikan dari laut dalam untuk kecerdasan calon bayi Bapak dan Ibu nantinya, ya. Kembali lagi bulan depan," Jelas dokter Diana
" Baik, dok. Terima kasih. Kami permisi." Pamit Radit. Lia hanya terdiam tanpa berkata apapun.
" Mas! Aku gak suka ikan. Ogah aku!" Protes Lia ketika mereka sudah di dalam mobil.
__ADS_1
" Sayang, itu demi bayi kita. Gak papa, ya...hmm?" Bujuk Radit.
" Gak! Pokoknya gak mau ya gak mau! Jangan maksa!" Teriak Lia
Radit menghela nafasnya geram. Tapi, dia harus bisa menahan emosi demi bayinya.
Hari itu berakhir dengan Radit membawa Lia berbelanja di mall dan menuruti semua kemauan Lia untuk menyenangkannya
Seminggu sudah berlalu. Radit dan Lia kini berada di kediaman keluarga Lia.
" Pa, ma...kami mau menikah. Tolong kasih kami restu, ya..." pinta Lia. Danuarta dan Yeni membuang muka mereka. Mereka sama sekali tak menyetujui hubungan keduanya. Alasannya sama, yaitu karena Radit dan Lia sama-sama bercerai dan membuat aib.
" Pa, ma. Radit janji, Radit akan jaga Lia dan anak Radit sebaik mungkin," janji Radit
Danuarta dan Yeni menoleh menatap keduanya.
" Anak? Apa maksudmu?" Tanya Danu
" Lia, sekarang sedang hamil, pa. Sudah 11 minggu sekarang," ucap Radit dengan senyum serta menggenggam tangan Lia.
" Kalian! Kalian! Kalian memang anak-anak kurang ajar!!!" Teriak Danu. Tiba-tiba Danu memegang dadanya yang terasa sakit.
"Pa! Ya, Tuhan...Aldoo!!!" Panggil Yeni panik. Radit dan Lia terkejut melihat Danu yang ambruk.
" Li...a...kau...bu...at...pa..pa..ke..ce..wa..."
Tak
Tangan Danu tergeletak ke lantai. Matanya terpejam.
" Pa, papaaa..." jerit Lia
" Papaaaa!!!" Jerit Yeni. Aldo yang berada di lantai 2 segera turun lalu berusaha mengangkat tubuh Danu. Tapi, usahanya gagal karena tubuh Danu yang tambun.
" Mas! Coba kita gotong barengan," saran Radit.
" Kamu jangan pernah sentuh suami saya!" Sergah Yeni
" Ma! Jangan sekarang! Lihat kondisi papa dulu!"
Yeni mengalah, ia juga memanggil pak No, tukang kebunnya dan pak To, satpamnya untuk membantu mengangkat Danu.
__ADS_1