Bila Cinta

Bila Cinta
Maafkan Aku


__ADS_3

Radit memarkirkan mobilnya di sebuah Cafe sore itu. Berkumpul bersama sahabatnya berharap mendapat solusi atas kegundahannya.


" Hai, bro! Wah, pengantin baru udah keluar aja nih..." Sapa Dion, salah satu sahabat akrab Radit sejak SMA. Ia adalah putra pertama dari keluarga Wilarman, pengusaha minyak terkenal si Indonesia dan Asia.


" Waduh, kusut lagi tuh muka... gak dapat jatah nih kayaknya," goda Benny. Benny dan Radit bertemu saat mereka kuliah di Melbourne, Australia. Keduanya menjadi dekat setelah Radit tanpa sengaja menolong Benny saat ia putus asa karna ditinggal sang kekasih menghadap sang Khalik. Benny adalah putra bungsu seorang pejabat pemerintah. Walau terbilang keluarga berada, tapi Benny selalu tampil sederhana sehingga tak banyak yang tahu background keluarganya.


" Haisshh... Rese' lo!" Kesah Radit dan menempatkan bokongnya di salah satu kursi di depan sahabat-sahabatnya itu.


" Napa, lo?" Tanya Benny. Dion mengangkat alis sambil menyesap kopi Luwaknya.


" Gue bingung, guys. Gue masih belum bisa nrima Juana jadi istri gue." Keluh Radit.


" Woi! Brengsek lo, ya Dit! Elo yang maksa dia buat nikah sama lo. Giliran dah nikah, lo sia-sia'in. Waduh, masih waras gak lo?" Omel Dion.


" Iya, makanya itu. Gue jadi ngerasa bersalah ama Juana. Tapi gue masih belum bisa nglupain Lia."


" Cewek tukang selingkuh masih lo pikirin, Dit..Dit. Ingat bung, lo itu sudah jadi suami. Inget! SUAMI!" Tutur Benny menekankan kata Suami.


" Kalo lo terus-terusan kayak gini, lama-lama Juana ninggalin lo, nyahok lo! "


Radit tersentak mendengar ucapan Dion. Namun, bukan rasa takit kehilangan sosok Juana, tapi ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada sang mama nantinya. Ia tahu bagaimana mamanya itu.


" Berapa kali lo gak pulang?" Tanya Dion


" 2 hari," Kata Radit jujur


" Ya, Tuhan, Dit. Elo baru nikah 4 hari, trus 2 hari lo tinggal kerja sampe malam ditambah 2 hari lo gak pulang? Lo ini ****' apa O'on sih?" Omel Benny


" Hei, Dit. Gue mau tanya, kalo lo di posisi Juana, apa yang bakal lo lakuin? Hmm?" Lagi Dion membuat mulut Radit terkunci. Tak akan mungkin ia akan menerimanya jika ia saat ini berada di posisi Juana.


" Tapi..."


" Hmmm... Sekarang serah lo deh, Dit. Gue sama Dion udah ngasi tahu lo, masalah lo mau berubah ato kagak, itu serah lo. Pilihan ada di tangan lo sendiri. Jangan sampe lo salah ambil keputusan trus nyesel. Ingat, Dit. Penyesalan selalu di belakang." Peringatan Benny membuat Radit semakin pusing. Di satu sisi ia belum bisa menerima Juana sebagai istri yang ia paksa secara halus untuk menikah dengannya tapi di sisi lain ia sungguh tak mau pernikahan ini.

__ADS_1


" Iya, sekarang lo balik ke istri lo, lakuin sesuai janji lo waktu lo nikahin dia. Ingat, Dit. Janji lo itu bukan hanya di hadapan pendeta ama manusia doang, tapi di hadapan Tuhan." Saran Dion.


" Dah, gue ama Dion balik dulu, ya. Gue harus balik Melbourne besok subuh."


" Iya, adik gue juga masuk rumah sakit tadi siang di Singapur. Jadi, gue harus kesana malam ini. Lo pulang aja ke istri lo, oke? Dah, gue pamit ya.." Pamit Dion


" Semoga lo ambil keputusan yang bener, bro! Aku balik!" Pamit Benny juga pada Radit dan kedua sahabatnya itu menepuk bahu Radit pelan dan bergegas pergi.


" Aarrgghh... Ya, Tuhan. Aku bingung..." Keluh Radit mengusap kasar wajahnya. Setelah menghabiskan kopi yang ia pesan dan membayarnya, Radit berjalan gontai ke tempat parkir. Memandang sejenak lalu lalangnya kendaraan beberapa saat, lalu membuka pintu mobilnya dan melaju.


Radit berhenti di depan apartemennya. Tapi, entah kenapa ia masih enggan untuk masuk dan bertemu Juana. Akhirnya, ia kembali menancap gasnya menuju rumah barunya.


Melempar begitu saja jas yang sedari tadi ia sampirkan ditangannya entah kemana, Radit memandang sekeliling rumahnya. Kosong. Hanya ada perabot dan beberapa foto-foto pre-wedding dirinya dan Lia yang terpajang di ruang TV dan ruang tamu.


" Kenapa lo tega sama gue, Lia? Apa salah gue sama lo?" Lirih Radit. Ia terus memandangi wajah mantan kekasihnya itu dan mengusap pelan foto wanita itu.


" Sekarang gue harus gimana? Juana gak bersalah tapi gue udah nyeret dia ke masalah kita, sayang.."


Radit menaruh kembali foto itu diatas meja TV dan melangkah menaiki tangga menuju kamar utama. Kamar yang sudah ia hias sesuai keinginan tunangannya itu dan dengan walk-in closet (ruang ganti yang berisi pakaian dan ***** bengeknya) yang dipenuhi dengan berbagai kebutuhan Lia mulai dari sepatu, baju, tas hingga perhiasan.


Juana yang sudah kembali dari kantor, berganti baju dan mulai membersihkan apartemen, ia juga memasak untuk dirinya sendiri. Dan malam ini, selesai dengan ritual mandinya ia kembali makan malam sendiri.


Seperti malam sebelumnya, ia menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas skripsinya dan beberapa tugas kantor dan menyelesaikannya hingga tengah malam baru beristirahat.


Radit semalaman tak dapat memejamkan matanya. Lingkaran hitam tercetak jelas matanya. Selesai mandi ia bergegas turun dan menyambar kunci mobilnya menancap gas menuju apartemen.


Waktu menunjukkan pukul 7.30 dan Juana sudah bersiap ke kantor. Ia sengaja berangkat lebih pagi, karena menurutnya tak ada alasan buatnya untuk berangkat seperti biasa yakni jam 8.30 pagi. Rumah sudah bersih dan suaminya tak ada berita kapan akan pulang. Sebenarnya ia ingin bertanya lewat pesan tapi ia takut Radit tak akan menyukainya.


Ceklek


" Kamu sudah mau berangkat?" Juana berjingkat kaget ketika ia mendengar suara menyapa telinganya.


" Kak Radit? Oh, aku kira langsung ke kantor. Maaf, aku gak masak..heee..." Ucap Juana dengan cengirannya berusaha menutupi kegugupannya.

__ADS_1


" Gak papa. Mau kuantar?"


" Gak usah, kak. Kakak kelihatan lelah. Istrirahat aja. Aku sudah pesan Gojek, kok. Apa kakak nanti ke kantor?"


" Aku mau istirahat aja, capek."


" Oh, ya udah. Aku berangkat, kak." Pamit Juana. Radit hanya memandang kepergian Juana tanpa suara.


Rasa bersalah karena sikapnya terhadap Juana membuatnya tak tahu apa yang harus ia lakukan


" Maafkan aku, Na." Lirihnya


Radit masuk dalam kamarnya dan merebahkan diri.


Siang hari, Juana memesankan Radit makan siang lewat aplikasi dan meneruskan pekerjaannya.


drrrrtt...drrrrtt.


Sebuah panggilan masuk membuat Juana menghentikan kegiatannya. Tanpa melihat nama pemanggil, Juana mengangkatnya.


" Hallo?" Sapa Juana


" Datang ke Cafe 24 di jl. Berlian 37, 30 menit lagi. Jangan menolak. Ini penting." Belum lagi Juana menjawab, panggilan itu terputus begitu saja.


" Nadia, mau apa lagi dia?" Gumamnya.


" Bim!" Panggil Juana.


" Hmm, ada apa?"


" Aku pinjam pena rekam lo, boleh?"


" Oh, boleh. Gak masalah. Nih!" Bima memberikannya pena rekamnya pada Juana.

__ADS_1


" Thanks!" Ucap Juana tersenyum


__ADS_2