Bila Cinta

Bila Cinta
Banyak Yang Menyayangimu


__ADS_3

Juana menjalani hari seperti biasa. Ia terus mencoba mengerti Radit dan tak bertanya apapun. Ia masih memasak untuk suaminya itu dan melakukan tugasnya.


Akhir-akhir ini Radit jarang pulang. Ia hanya mengirim pesan kalau dirinya sibuk dengan berbagai macam proyek. Juana selalu bersabar dan menjawab setiap pesan Radit.


" Kak, udah pulang? Aku buatin kopi, ya?" Sambut Juana dengam senyum.


Jam 12 malam laki-laki itu pulang ke apartemen. Juana yang bersiap tidur mendengar pintu dibuka, segera berlari keluar dan menyambut suaminya.


" Gak usah, Na. Kamu kok belum tidur?"


" Barusan selesai ngerjain tugas kantor, kak." Jawab Juana.


" Oh!" Radit tak berkata apa-apa lagi dan masuk ke kamarnya.


" Kamu kenapa gak jujur sama aku, kak?" Lirih Juana dengan mata memandang pintu kamar suaminya dan kembali ke kamarnya.


Flashback on


2 bulan yang lalu, Juana berhasil lulus sidang skripsi yang merupakan sidang terakhir dan penutupan untuk yudisium dan wisuda di kampus Juana. Ia akan mengikuti wisuda bulan berikutnya. Sedang Merlita, ia juga akan di wisuda bersamanya setelah lulus 2 bulan sebelum sidang akhir skripsi Juana.


Juana sudah mengirim pesan pada Radit bahwa ia sudah lulus skripsi. Tapi tak ada balasan.


" Na, papa ngajakin kita makan di Bunga Rampai. Kita kesana sekarang, yuk!" Ajak Merlita. Juana mengangguk dan tersenyum lemah. Ia masih menunggu balasan Radit.


1 jam kemudian mereka sampai di restoran elit di kawasan Menteng, Jakarta Pusat itu. Juana melupakan sejenak pikirannya tentang Radit dan berjalan mengikuti langkah Merlita, sahabatnya.


" Itu papa. Pa!" Panggil Merlita dan melambaikan tangan yang di sambut senyuman dan lambaian kedua orang tua Merlita yang telah menunggu di meja.


Merlita menarik tangan Juana dan mendekati tempat duduk yang Darwin dan Lin Mei tempati. Sepasang suami istri paruh baya itu berdiri dan menyambut Juana. Memberi pelukan hangat dan mengucapkan selamat.


" Selamat ya, nak. Kamu berhasil!" Kata Darwin sambil mengusap kepala Juana.


" Iya, selamat ya, sayang. Akhirnya perjuanganmu berhasil." Timpal Lin Mei dan memeluk Juana.


" Mana suamimu?" Tanya Darwin tiba-tiba. Juana menelan salivanya. Merlita yang mengerti langsung menengahi.

__ADS_1


" Kak Radit ada tugas di luar kota, pa." Sahut Merlita.


" Oh, tapi kamu sudah kabarin kan, nak?" Tanya Darwin lagi. Juana mengangguk dengan senyum dipaksakan. Merlita mengusap lengan sahabatnya dan mengajaknya duduk. Merlita sudah mengetahui semuanya dari Juana. Bahwa, Radit selalu pulang larut malam dan kadang tak pulang rumah.


" Ayo, kita makan! Merayakan keberhasilan putriku tercinta!" Ujar Lin Mei senang sambil menepuk tangannya.


" Oh, berarti cinta mama ke Merlita dah berkurang nih, ya?" Sindir Merlita


" Oh, hahaha... tahu aja kamu." Jawab enteng Lin Mei membuat Darwin tergelak dan Merlita memberengut kesal.


Juana terharu. Ia begitu bahagia karena ada orang yang masih begitu menyayanginya bak keluarga dan anak sendiri.


" Hei..hei... kok nangis, nak? Kenapa? Apa kami salah ngomong?" Tanya Darwin bingung dan menoleh ke arah istrinya yang juga kebingungan dan hendak berdiri untuk memeluk sahabat putrinya yang sudah anggap anak itu.


" Nggak, pa. Juana nangis karena Juana bahagia punya orang tua dan saudara yang sayang sama Juana..." Ucap Juana dengan air mata yang menetes. Merlita memeluk sahabatnya itu dan mengusap punggungnya. Lin Mei pun mendekati gadis cantik itu. Ia memeluk dan mengecup pelipis Juana.


" Sayang, kami juga beruntung punya putri sepertimu. Dan, terima kasih sudah hadir di keluarga kami, nak." Jawab Lin Mei tanpa melepas pelukannya dan rela duduk berdempetan dengan Juana.


" Nak, banyak orang menyayangimu. Karena kau adalah kau. Kamu juga punya suami yang sayang sama kamu, kan? Jadi, jangan pernah berpikir semua orang benci sama kamu, ya?" Sambung Darwin. Tangis Juana kian pecah ketika Darwin menyebut suami.


' Aku cari tahu nanti' batin Darwin.


Setelah beberapa saat, Juana sudah tenang.


" Pa, ma, Juana ke toilet dulu, ya?" Pamit Juana. Darwin dan Lin Mei mengangguk.


" Cepet balik, ya!" ucap Merlita.


Juana mengangguk dan tersenyum. Ia membawa pouch tempat ia menaruh bedak dan lip gloss.


Juana mencuci mukanya dan mengelapnya dengan tissue. menepuk-nepuk pelan kedua pipinya dan menyapukan bedak pada wajah cantik mulusnya dan memberi sedikit polesan lip gloss.


Selesai merapikan wajahnya, Juana berjalan menuju arah mejanya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang selalu ia rindukan keberadaannya ada di tepat di depannya.


" Ternyata ini penyebab kamu malas pulang dan membalas pesanku ya, kak?"

__ADS_1


tes...tes


air mata Juana kembali jatuh. Ia segera menghapus air matanya dan mengambil ponselnya.


Ya, Raditya. Suaminya yang jarang pulang itu ternyata sedang bersama wanita lain. Wanita yang selalu ada di hati suaminya. Wanita yang telah membuatnya masuk dalam pernikahan terpaksa ini. Juana bersida menikah karena ia tak tega melihat Raditya, laki-laki yang selalu ada di hatinya itu terus memohon dan memelas padanya untuk menyelamatkan reputasinya.


Juana akhirnya harus kembali ke toilet dan memoles bedaknya lagi.


" Na! Aduh, betah banget lo di sini." Tiba-tiba Merlita datang dan mengejutkannya


" Ah, aduh! Bikin kaget aja lo!"


" Lo tuh lama banget!" Tampik Merlita


" Sorry, gue tadi BAB dulu. Sakit perut...hehe," kilah Juana.


Keduanya berjalan kembali ke meja. Langkah Merlita terhenti ketika ia tanpa sengaja melihat Radit. Juana menoleh dan menarik Merlita.


" Tapi, na.."


" Jangan, tolong," pinta Juana menunduk dan menelan salivanya menahan tangis. Merlita terpaksa mengikuti keinginan Juana dan kembali ke meja pesanan kedua orang tuanya.


Makanan yang lezat tak lagi membuat Juana berselara. Ia terpaksa menelan semua yang Lin Mei taruh di piringnya karna tak mau membuat wanita itu kecewa.


Juana menoleh dan melihat suaminya menggandeng mesra kekasihnya berjalan keluar. Rupanya Radit masih belum menyadari keberadaanya.


3 minggu setelah kejadian itu, Juana kembali tanpa sengaja memergoki suaminya bergandengan mesra di sebuah mall. Saat itu Juana hendak membeli sepatu bersama Merlita. Awalnya ia menolak, tapi entah kenapa Merlita memaksanya. Dan di situlah, Juana melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa teriris.


Radit masih pulang kerumah walau tengah malam. Dan, seperti biasa Juana menunggunya. Ia kadang membuatkan pula kopi untuk suaminya itu jika laki-laki itu mau, tapi beberapa kali menolak dan langsung masuk ke dalam kamar.


2 hari lalu ia mengirim pesan pada suaminya bahwa ia akan wisuda. Dan, hari ini laki-laki itu kembali setelah sempat 5 hari berturut-turut menghilang tanpa kabar. Sms dan telepon tak pernah ada balasan.


Selama 6 pernikahan, hanya 1x mereka berkunjung ke rumah orang tua Radit. Dan, itu 3 bulan setelah pernikahan mereka. Tapi, selanjutnya tidak pernah lagi. Karena adik bungsu Radit yang gagal ginjal dan berada di Australia perlu perhatian mereka.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2