
" Mau bicara apa, Na?" Tanya Radit setelah menyesap kopi buatan Juana.
" Kak, kakak gak bahagia ya sama pernikahan kita?"
Deg
Radit membeku dan menelan salivanya. Lidahnya kelu.
" Na, ak..."
" Gak papa, kak. Aku tahu kakak tersiksa dengan pernikahan ini..." Juana tersenyum dan menatap Radit. Sementara Radit ia ingin mengucapkan sesuatu tapi tak bisa.
" Kak, aku sayang kakak..."
Deg
Lagi Radit menatap wajah teduh Juana tanpa bisa berkata-kata.
" Karena itu, aku pengen banget kakak bahagia. Aku gak mau jadi penghalang kebahagiaan kakak. Karena itu,.." Juana menyodorkan sebuah amplop.
" Bukalah, kak." Radit mengambil amplop itu perlahan. Ia masih melihat Juana tersenyum hangat padanya.
Radit mengeluarkan kertas dari dalamnya.
" Itu gugatan cerai dari aku..."
Deg
Radit melebarkan kedua matanya tak percaya.
" Dan menikahlah dengan kekasih kakak. Lia."
Radit mengeryitkan dahinya. Ia masih belum percaya yang didengarnya.
" Aku tahu selama ini kakak bersama Lia. Dan, kakak sangat bahagia kalau sama Lia. Karena itu, aku melepaskan kakak." Juana melepas cincin pernikahannya dan mendorongnya ke arah Radit.
" Ka-kamu tahu?" Tanya Radit dengan mata membulat dan mulut menganga tak percaya
" Maaf, karena aku... kakak harus tersiksa. Tadi adalah makan malam terakhir yang aku buatin buat kakak. Sebagai cendera mata dari aku buat kakak. Kita menikah baik-baik karena itu, aku mau kita juga mengakhirinya dengan baik." Juana menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali tersenyum
" Itu aja yang mau aku omongin, kak. Kalau begitu, aku permisi." Juana berdiri dan mengambil tasnya lalu berbalik.
' Kak, katakan padaku, jangan pergi. Aku akan tinggal kalau kau mengatakannya.' Harap Juana dalam hati seraya melangkah ke pintu.
" Na!"
Juana tersenyum mendengar Radit memanggilnya. Tapi, ia masih berdiri menghadap pintu.
' Katakan, kak. Katakan kamu gak mau aku pergi.' Seru Juana dalam hati
__ADS_1
" Terima kasih. Maafkan aku."
Senyum Juana menghilang. Ia mengangguk.
" Selamat Tinggal, kak." Ucapnya
Tes
Dengan berat Juana membuka pintu apartemen. Di dalam lift Juana terisak menahan tangis. Untunglah, tadi sebelum berbicara dengan Radit, Juana sudah mengirim pesan pada Merlita untuk menjemputnya.
Sampai di lobby, Juana berjalan dengan cepat dan menundukkan kepalanya. Di depan, sudah ada Merlita yang menunggunya. Ia masuk dan menangis terisak dalam pelukan sahabatnya.
" Menangislah, Na." Kata Merlita, ia memilih memarkirkan mobilnya dan mendekap sahabatnya.
Di dalam apartemen, Radit memandangi surat gugatan Juana dan cincin yang pernah ia sematkan di jari manis gadis itu.
" Semoga kamu juga bahagia, Na. Maafkan aku. Aku sudah terlalu menyakitimu. Terima kasih buat semuanya, Na. Terima kasih." Kata Radit. Hatinya bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya ia bisa bersama Lia dan sedih karena ia sudah menyakiti seseorang yang harusnya ia jaga.
Hari berikutnya, Juana sudah berada di pesawat yang akan membawanya ke negeri kincir angin, Belanda.
Beberapa hari kemudian, sidang pertama perceraiannya dengan Radit hanya dihadiri oleh pengacaranya. Ada sedikit rasa kecewa di hati Radit karena tak melihat Juana.
Beberapa hari ini ia mulai merindukan gadis itu. Ada rasa kehilangan di dalam hatinya. Tapi entah kenapa.
" Permisi, bu." Radit menghentikan langkah pengacara Juana.
" Ehm, kenapa Juana tidak datang, bu?" Tanya Radit
" Apa itu, bu? Maaf, saya hanya ingin bertemu sebentar."
" Maaf, pak. Tapi, saya tidak bisa mengatakannya. Itu adalah urusan pribadi klien saya."
" Baiklah, terima kasih."
" Baik. Saya permisi." Pamit Devina.
" Tunggu!" Panggil Radit lagi. Devina menghentikan langkahnya.
" Ada apa lagi, pak?" Tanya Devina
" Apa..apa dia baik-baik saja? Maaf, saya mencoba menghubunginya berulang kali tapi tidak bisa."
' Tentu aja gak bisa. Lah Juananya udah buang tuh nomer.' Batin Devina
" Iya, pak. Nona Juana baik-baik saja dan sehat." Jawab Devina. Kali ini dengan senyumnya
Radit mengangguk dan sedikit mengangkat bibirnya.
" Terima kasih."
__ADS_1
Devina mengangguk dan beranjak pergi. Radit melangkah gontai menuju mobilnya.
" Mas!" Panggil seseorang. Radit melihat Lia sudah berdiri menunggunya di luar mobil. Ia baru ingat, kalau Lia tadi ikut dengannya.
" Gimana? Udah resmi, kan?" Tanya Lia ceria. Radit menyatukan alisnya. Entah kenapa ia tak suka mendengar itu dari Lia.
" Mas, kok bengong sih!" Protes Lia.
" Gak papa... ayo masuk. Aku harus ngantor sekarang." Radit segera masuk ke dalam mobil. Lia pun dengan kesal masuk ke dalam mobil.
" Mas, tadi sudah resmi belum?" Tanya Lia dalam perjalanan
" Ya, belumlah. Kan baru sekali sidangnya." Jawab Radit ketus.
" Ih, mas! Kok ketus gitu sih jawabnya?!"
" Dah, diam aja kamu!"
Lia mengeraskan rahangnya dan duduk menyamping. Radit tak memperdulikan itu. Saat ini, ia masih bingung dengan hatinya.
Sampai di kantor, Lia terus menggandeng mesra Radit. Semua orang memandangnya jengah.
" Ih, lihat tuh! Kagak ada malu-malunya nggandeng suami orang," kata seorang karyawan
" Iya, kasihan istrinya pak Radit, ya?"
Pembicaraan mereka di dengar Bagas. Namun, ia juga sebenarnya menyetujui perkataan mereka. Istri Radit, Juana sangat sempurna dan baik. Ia ingat ketika ia disuruh Radit pergi ke apartemen untuk mengambil berkasnya yang tertinggal. Saat itu hari sabtu. Ia disambut Juana dengan sangat baik. Diberi minum dan juga menawarinya makan karena saat itu makan siang. Ia melihat sendiri Juana memasak dan membersihkan ruang TV.
Tapi entah apa yang dipikirkan atasannya itu hingga membuang seorang istri yang begitu sempurna hanya karena seorang wanita angkuh dan manja bahkan tak punya tata krama.
Didalam kantor Radit
" Sayang, nanti antar aku ke Senayan City, ya. Aku mau belanja." Kata Lia manja sambil memeluk Radit dari belakang.
Brakk
Radit dan Lia tersentak kaget ketika pintu ruangannya didobrak.
" Oo..jadi karena wanita ****** ini kamu berani menyakiti mantuku, Juana. Hmm?! Kau lupa dengan janjimu waktu kau memaksa Juana menikahimu, Radit!!" Sergah seorang wanita paruh baya yang masuk bersama seorang laki-laki yang berwajah mirip dengan Radit.
" Ma..Pa...Radit.." Radit bergetar mendengar suara mamanya yang tinggi. Ia tahu ia bersalah karena itu ia tak bisa membantah.
" Ma..Pa. kami saling mencintai.." Kata Lia
" Stop! Jangan pernah panggil aku papa dari mulut kotormu itu!" Bentak Papa Radit.
" Pa! Dia kekasihku!" Sergah Radit
" Dan aku papamu! Dengar kau ya wanita perebut suami orang! Aku tidak akan pernah sedetikpun merestui hubunganmu dengan anakku. Dan kau Radit! Jangan pernah berharap kau bisa menikahi wanita itu! Sekali kau menikahinya, kau akan kucoret sebagai pewaris keluargaku!" Geram Johan. Ia menarik Vina istrinya dan keluar dari kantor Radit.
__ADS_1
" Mas! Gimana ini? Aku gak mau gagal nikah sama kamu! Aku bilang apa nanti sama temen-temen aku kalau ternyata aku gak jadi nikah sama kamu. Terus sama papa mama aku juga. " Rengek Lia. Radit bertambah pusing dibuatnya.
" LIA! STOP! AKU PUSING!" Bentak Radit