Bila Cinta

Bila Cinta
Liburan


__ADS_3

Ujian semester telah selesai. Juana dan Merlita bernafas lega. Keduanya memang beda fakultas. Tapi keduanya selalu kompak dan tak terpisahkan. Menghadapi liburan, banyak rencana sudah tersusun rapi di benak mereka.


" Na, lo mau balik dulu ke rumah lo ato..." tanya Merlita dalam perjalanan ke kantin.


" Gak-lah. Barang gue smua udah di kontrakan. Kita berangkat kapan, my boss?"


" Lusa. Papa bilang dia masih ada rapat besok, jadi ya lusa... kenapa?"


" Gak papa, gue pengen cepet-cepet aja cari udara segar. Sumpek gue di Jakarta mulu!" ujar Juana. Ya, beberapa bulan terakhir, Ayahnya mulai berulah. Meminta akte Juana-lah, meminta Ijazah-lah, tapi semua di tolak Juana. Karena ia tahu maksud Ayahnya itu. Hingga beberapa hari terakhir, kontrakannya mendapat kunjungan orang tak dikenal, yang ia yakini orang suruhan, Nadia. Untunglah semua surat-surat dan beberapa peninggalan Bundanya sudah ia simpan di tempat yang aman.


Semua yang ia alami selama beberapa bulan ini tak pernah ia ceritakan pada Merlita atau siapapun. Ia tak mau sahabatnya itu ikut memikirkannya. Selain itu, liburan ini adalah hari di mana laki-laki yang selalu mengisi hatinya, bertunangan.


" Na, kak Radit mau tunangan, ya?" tanya Merlita saat mereka sedang asyik menikmati siomay bandung di kantin kampus.


" Hmm... yang gue dengar sih, kayak gitu," jawab Juana enteng seolah tak peduli. Padahal di dalam hatinya, ada rasa sakit dan sesak luar biasa.


" Lo, gak apa-apa, kan?" Merlita memandang prihatin pada sahabatnya itu. Ia tahu Juana sangat mencintai Radit walau tak satu kata pun terucap dari bibirnya, tapi sorot mata tak akan berbohong.


" Hahaha... lo ini Mer, kak Radit akhirnya tunangan sama cewek yang dia cinta. Ya, gue ngikut senenglah. Kalo dia gak cinta, nah, baru gue mikir." Merlita tak lagi membahas Radit dan keduanya asyik berbincang hal seru yang akan mereka lakukan saat liburan nanti.


Akhirnya inilah saat yang di nanti-nanti Juana. Berlibur. Melepaskan kepenatan dan pikiran yang selalu membuatnya merasa tertekan. Sebuah destinasi wisata di Indonesia yang sudah mendunia, menjadi tujuan wisata kedua sahabat itu. Raja Ampat atau yang berjuluk Amazon Lautan Dunia. Julukan ini terinspirasi karena posisi Raja Ampat. Dimana, berada di pusat segitiga karang dunia.


Juana telah siap dengan tas ransel sedang di pundak dan sebuah koper sedang, berdiri di teras kontrakannya menunggu Merlita. Tak lama, Merlita datang menjemputnya dengan mobil keluarga. Jarak antara kontrakan Juana dan Bandara lumayan jauh. Butuh 2 jam untuk sampai bandara.

__ADS_1


" Mer, Juana mana ktp kalian. Papa mau check-in," ujar papa Merlita, Darwin Tan. Pria keturunan Tionghoa yang menikah dengan wanita asli Tiongkok. Jadi tidak heran, wajah Merlita sangat kental dengan wajah oriental. Walau terbilang orang kaya, tak serta merta membuat Merlita dan keluarganya menjadi sombong. Mereka selalu membagi harta mereka pada mereka yang tak mampu. Mereka juga tak pernah membeda-bedakan orang. Itulah yang membuat Juana betah jika bersama dengan keluarga Merlita. Walau Juana berdarah jawa, tapi Merlita dan keluarganya tak mempermasalahkan itu. Menurut mereka, semua manusia itu sama, terlepas darah apa yang mengalir dalam tubuh mereka. Yang terpenting, hati.


Setelah proses check-in selesai, Merlita mulai merengek lapar.


" Na, gue laper banget. Cari camilan dulu, yuk. Take off masih 1 jam lagi kok..." ajak Merlita.


" Iya, gue juga. Tadi gak sempet sarapan. Ayo deh. Pamit papa mama dulu, takutnya mereka nyari-nyari lagi," mendapat ijin, keduanya berjalan mencari kedai yang akan menarik hati mereka sebagai pengisi perut yang sudah meronta meminta jatah. Oh, ya balik lagi ke panggilan Juana terhadap orang tua Merlita. Papa dan mama Merlita sangat nyaman dengan Juana. Rasa sayang mereka tumbuh sejak pertama kali Merlita membawa sahabatnya itu berkunjung ke rumah mereka, di kawasan elit di Jakarta. Karena itu, mereka melarang Juana memanggil mereka dengan sebutan tante dan om. Mereka meminta Juana memanggil dengan papa mama seperti putri mereka, Merlita.


Awalnya sangat canggung. Tapi lama kelamaan Juana terbiasa. Ia merasa mendapat keluarga yang utuh kembali. Dulu kedua orang tua Merlita meminta Juana tinggal bersama mereka, tapi Juana menolaknya secara halus. Bukan karena tidak suka, tapi Juana merasa bahwa ia harus menjaga hati Ayahnya. Walau Ayahnya tidak memperdulikannya, tapi tetap, laki-laki itu adalah ayah kandungnya, dan ia mau menjaga perasaannya.


Kembali ke Merlita dan Juana yang sedang mencari makan. Keduanya terus saja mengedarkan pandangan pada deretan kedai yang ada di bandara.


" Mer, kelihatannya mahal-mahal. Duh, balik aja yuk." gerutu Juana.


Bruk.,


" Ah... Aduh maaf, maaf..." Kata Juana sambil sedikit membungkukkan badannya.


" Juana!" panggil laki-laki yang tanpa sengaja terkena tumpahan kopi miliknya karena tubrukan Juana.


Juana mendongak dan matanya membulat tak percaya. Binar matanya sungguh menawan.


" Kak Radit! Kakak kok di sini?" pekik Juana. Merlita yang bersiap memesan di depan counter, berbalik dan melihat ke arah Juana dan Radit.

__ADS_1


" Ah, kakak mau ke Batam. Ada yang harus kakak urus di sana. Kamu kok di sini?"


" Iya, kak. Mau liburan bareng Merlita dan keluarganya." ucap Juana dengan senyum yang terus mengembang. Radit mengangguk dan tersenyum.


" Oke, deh. Kakak masuk dulu ya, bentar lagi mau take-off." Pamit Radit dan segera di angguki Juana. Tingkah Radit yang seakan enggan untuk beranjak, membuat Juana curiga.


" Kak, kakak gak papa?" tanya Juana dengan nada kuatir.


" Ah, gak... gak ada apa-apa kok, Na. Ok deh, kakak pergi, ya. Bye..." Juana belum sempat menjawab ketika Radit langsung pergi dan sedikit berlari.


" Kok, kayak ada masalah sih, kak Radit," Gumam Juana lirih.


" Duaarr! Hei, bengong aja lo! Ntar kesambet hantu bandara, nyahok lo!" goda Merlita karena melihat sahabatnya itu terbengong dan masih menatap arah kemana Radit pergi.


" Ceh, bukan hantu bandara yang bakal nyambet gue, dia yang bakal kesambet gue kali!" Guyonan Juana yang tanpa sadar berbicara sedikit keras, membuat pengunjung kedai dan orang-orang yang melintas, melihat kearahnya.


" Nah, bener kan, gue bilang apa... " celetuk Juana, membuat Merlita berlari meninggalkan Juana dengan ekspresi menggelikan.


" Ya, dasar si Jojon. Main asal ninggal aja dia... fiuhh.." Juana berjalan santai kembali ke ke tempat kedua orang tua Merlita menunggu.


"***Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Sorong dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12."


"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Sorong please boarding from door A12, Thank you***."

__ADS_1


" Lho, ma, mana Juana sama Merlita. Belum balik, ya?" Tanya papa Darwin. Mama Lin Mei pun menjadi panik dan mulai menekan nomor putrinya.


__ADS_2