
Radit terus berkutat dengan semua berkas-berkas di mejanya.
Drrrtt...drrttt
Tanpa melihat pemamggilnya, Radit mengangkat teleponnya.
" Hallo!"
" Hallo, kak. Ini Juana."
Tangan Radit terhenti. Tubuhnya membeku.
" Hallo...hallo kak!" Panggil Juana.
" Ah, eh.. I-iya, Na. Ada apa?" Tanya Radit.
" Apa kakak masih sibuk?"
" Ehm, yaa...begitulah. Kenapa?"
" Apa.. kakak pulang malam ini?"
Radit terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Jika ia pulang, Lia pasti akan marah padanya. Jika ia tak pulang, ia takut Juana curiga.
" Eh, aku masih belum tahu, Na. Kenapa?" Tanya Radit
" Oh, baiklah. Hanya tanya aja, kak. Takutnya kakak pulang, akunya pas gak masak...hehehe.."
" Hmm.. kalau aku bisa pulang, nanti aku kabari, ya. "
" Oke, kak. Dah."
Panggilan itu terputus. Radit melempar ponselnya ke meja dan meraup wajahnya.
" Apa yang harus aku lakukan?" Radit mengacak rambutnya dan melonggarkan dasinya.
Kepalanya pening memikirkan masalahnya. Ia merasa sangat bersalah pada Juana. Tapi ia merasa berat melepaskan Lia, kekasihnya.
ting
Sebuah pesan dari Lia masuk;
Nanti malam antar aku ke mall, ya. Aku mau beli baju buat acara aku sama temen-temen besok.
Radit kembali dilanda kebingungan. Tapi, sepertinya cinta telah membutakan mata hatinya.
To: Lia
oke
send
" Maaf, Na. Aku gak bisa pulang. Besok aku akan pulang" Lirihnya. Tak lama ia segera berkutat dengan pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa menemani Lia berbelanja.
__ADS_1
***
Sementara itu, Juana sudah siap pulang. Dokter sudah mengijinkannya untuk istirahat dirumah. Lin Mei dan Merlita menjemputnya.
" Ma, Juana mau ke apartemen dulu. Mau beresin barang-barang Juana. Boleh?" Kata Juana meminta ijin.
" Iya, sayang. Mama sama Merlita antar. Apa perlu bantuan?"
" Gak ma. Gak usah. Barang Juana gak banyak kok. Cuma 1 koper aja." Jawab Juana tersenyum
Lin Mei mengangguk. Merlita melajukan mobilnya ke apartemen Radit di Dharmawangsa. Sampai di sana, Juana segera turun sementara Lin Mei dan Merlita memutuskan menunggu di lobby.
" Ma, apa visa Juana sudah siap?" Tanya Merlita saat mereka sudah duduk di sofa lobby apartemen Dharmawangsa.
" Hmm... mama rasa sebentar lagi beres. Temen papamu di kedutaan yang bantu urus."
" Hmm... aku harap Juana bisa lebih baik di sana, ma. Dia sudah terlalu menderita di sini." Ucap Merlita sendu. Matanya mulai berkaca-kaca.
" Iya, sayang. Mama tahu. Juana juga anak mama. " Lin Mei memeluk putrinya dan mengelus lembut punggungnya.
Di dalam Apartemen, Juana mulai membereskan semua pakaian dan barang ***** bengeknya ke dalam koper dan sebuah tas kecil. Ia mengambil album pernikahannya yang masih tersimpan rapi dalam dos di gudang
Juana mengambil semua foto di sana dan juga foto besar dalam sebuah frame yang tak pernah terpasang.
flashback on
Juana memutuskan menyibukkan diri membersihkan apartemen ketika saat sabtu ia libur, Radit tak ada menemaninya. Saat ia membersihkan gudang, ia menemukan sebuah dos dan sebuah pigura besar bertuliskan nama studio foto yang dipakai dalam pernikahannya.
Juana membongkar bungkus pigura itu dan tampaklah disana foto dirinya dan Radit dalam balutan pakaian pengantin. Juana juga membuka dos yang ternyata berisi foto-foto pernikahannya
Flashback off
" Sekarang, aku membebaskanmu, kak."
Juana melepas foto itu dari frame foto besar itu dan juga semua foto dari album pernikahannya dan menaruhnya dalam sebuah kresek.
Selesai dengan keperluannya di kamar dan gudang, Juana melihat ke dapur. Peralatan rumah tangga yang ia beli tertata rapi dalam kabinet dapur.
" Aku pasti akan memasak untukmu terakhir kalinya, kak."
Merasa tak ada lagi yang harus ia bereskan, Juana segera turun menemui Merlita dan Lin Mei.
" Sudah semua?" Tanya Lin Mei
Juana tersenyum dan mengangguk. Mereka segera masuk dalam mobil dan kembali ke kediaman Merlita.
Sore hari, Darwin kembali dan membawa amplop coklat. Juana sedang membantu Lin Mei menyiapkan makan malam.
" Papa dah pulang?" Sapa Merlita sambil bergelayut manja pada lengan papanya.
" Kenapa? Papa gak boleh pulang sore?"
" Bukan gitu, cuma gak biasanya aja."
__ADS_1
" Hahaha... hari ini anak-anak papa berkumpul, jadi papa harus cepet pulang." Jawab Darwin sambil memeluk putrinya dan mengecup puncak kepalanya.
" Eh, papa. Sudah pulang? Aku siapin air mandinya dulu, ya?" Sambut Lin Mei. Darwin memeluk istrinya itu dan mengecup keningnya.
" Iya, sayang. Makasih, ya."
Lin Mei mengangguk dan segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya untuk menyiapkan baju ganti dan air mandi suami tercintanya.
" Na! Kamu sudah baikan, nak?" Tanya Darwin ketika Juana baru saja keluar dari dapur sambil membawa masakan.
" Iya, pa. Sudah. Papa mau Juana buatin kopi?"
" Gak usah, nak. Kita makan malam aja sebentar lagi, ya. Sekarang papa mau mandi dulu." Kata Darwin seraya mengusap lembut kepala Juana dan berlalu ke kamarnya
" Na, mbok Minah mana?" Tanya Merlita.
" Lagi dibelakang nyedokin sayur. Kenapa?"
" Gak ada sih, cuma gue dari tadi kok gak lihat. Biasanya juga di sini dah rame sama latahnya." Kata Merlita tertawa.
" Kalo rame, lo sewot. Sekarang diem, lo bilang gak rame... gimana sih lo?"
" Hahaha... kok lo yang sewot sih, Na. Lagi PMS, yaaa..." Goda Merlita
" Ck...dah udah.. gue siapin makan malam dulu. Nyok, bantuin gue!"
" Iya.. iya... bawel!"
Malam itu, Juana kembali menikmati kebersamaan dalam keluarga Darwin. Kemanjaan Darwin pada istrinya dan keketusan Lin Mei menjadi pemanis yang membuat Juana merasa berat untuk berpisah.
" Na.... ini... Paspor sama Visa kamu sudah siap. Papa juga sudah buatin rekening atas nama kamu buat kamu nanti tinggal di Den Haag. Untuk tiket, papa tunggu kamu mau kapan." Kata Darwin dan menyodorkan amplop coklat pada Juana.
Juana mengambil amplop itu dan membukanya.
" Terima kasih, pa, ma, Mer. Juana gak tahu..."
" Sstt... sekali lagi kamu bilang terima kasih, papa mama gak ijinin kamu tinggal di sini dan panggil kami papa mama!" Sergah Darwin
" Ma-maaf pa."
" Hmm." Darwin mendehem kesal. Ia marah karena Juana masih menarik diri dengan keluarganya. Padahal, ia sudah menyayangi dan menganggap Juana seperti anaknya sendiri.
" Pa, sudah jangan gitu. Anak kita bentar lagi pergi, jangan malah dimarahin dong." Protes Lin Mei.
" Pa, Juana minta maaf. Jangan marah lagi ya, pa." Rayu Juana dengan memberikan daging lada hitam kesukaan Darwin.
" Iya...sudah...sudah. Oh, ya. Perceraianmu gimana? Sudah beres?" Tanya Lin Mei
" Juana sudah telepon bu Devina. Katanya gugatannya sudah masuk. Besok, Juana dikasi suratnya." Jawab Juana.
" Terus rencanamu selanjutnya?" Tanya Darwin
" Rencana...Juana yang akan kasih tahu kak Radit. Juana dan kak Radit menikah baik-baik. Jadi, Juana juga mau berpisah baik-baik, pa. Besok aku mau minta kak Radit pulang supaya bisa ngomong."
__ADS_1
Darwin mengangguk mengerti. Lin Mei dan Merlita menghela nafas. Makan malam kembali diteruskan namun kini dalam keheningan.