Bila Cinta

Bila Cinta
Selamat Datang Kembali


__ADS_3

2 manusia beda usia berdiri di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka menunggu asisten Merlita yang terlambat karena jalanan macet parah.


Juana mengajak putranya berjalan menuju kedai roti untuk mengisi perut mereka.


" Ma, apa ini yang namanya Jakarta?" tanya Dennis masih dengan bahasa Belandanya karena ia hanya bisa sedikit saja Bahasa Indonesia.


" Ini Tangerang, sayang. Nanti baru sampai Jakartanya," terang Juana


" Hah?! masih lama lagi?" tanya Dennis dengan mata membulat. Badannya sudah terasa lelah. Walaupun mereka menggunakan penerbangan dengan fasilitas First Class, tapi tetap saja, badan kecil Dennis merasa lelah.


" Tidak lama, kok. Hanya sekitar 1 jam,"


" Ma, Dennis pengen bobok di kasur ..." rengek Dennis


" Iya, sabar. Sebentar lagi, ya ... sekarang makan dulu rotinya, hmm?" bujuk Juana seraya mengelus lembut rambut putranya.


Dennis hanya mengangguk dan menggigit rotinya dengan sebal.


20 menit kemudian, asisten Merlita, Alex, datang menjemput keduanya. Juana dan Dennis duduk di dalam mobil MPV berlambang tanda V jatuh milik Merlita, sementara Alex menunggu Pak Man, sopir pribadi Merlita memasukkan koper-koper Juana dan Dennis ke dalam mobil.


" Nona, selamat datang kembali di Indonesia, saya Alex, yang akan membantu Anda selama di sini," kata Alex


" Baiklah, Alex. Oh, ya ... panggil aku Juana aja, ya? Aku gak suka dipanggil seperti kamu tadi," kata Juana dengan sedikit senyum.


" Ah, tapi ..."


" Alex, jangan membantah. Aku tidak suka," jawab Juana lalu bersandar dan menutup mata. Penerbangan selama hampir 14 jam itu membuatnya sangat lelah.


Alex terdiam. Ia mengangguk pasrah.


" Jalan, Pak!" titahnya pada pada sopir


Sampai di kediaman keluarga Darwin, Mbok Minah menyambutnya di teras. Ia segera berlari dan memeluk Juana yang baru saja turun.


" Non Juanaaa!!" teriaknya. Ia memeluk erat anak angkat Darwin itu dan terisak. Ia sangat menyayangi Juana, terlebih wanita dalam pelukannya itu selalu saja menganggapnya seperti keluarga sendiri dan suka membantunya.


" Kamu sehat, kan?" tanyanya seraya mengecek tubuh Juana. Membuat Juana tersenyum bahagia


Cup


Cup

__ADS_1


" Juana sangat sehat dan Juana sangat kangen Mbok Min, Mbok apa kabarnya?" kata Juana setelah mencium pipi asisten rumah tangga Darwin yang berusia 65 tahun itu.


" Non ... Mbok juga baik, Non" jawab Mbok Minah tersenyum senang ketika mendapat ciuman Juana.


" Ah, sebentar Mbok." Juana melepas pelukannya lalu masuk kembali ke dalam mobil. Tak berapa lama, ia menggendong Dennis keluar.


" Duh, Gusti! Ganteng e bocah iki (gantengnya bocah ini)! Anak siapa ini, Non?"


" Ya, anaknya Juanalah, Mbok. Masa anak tetangga Juana bawa kesini,"


Mata Mbok Minah membulat. Wajahnya sumringah. Ia melihat wajah Dennis yang tertidur pulas di bahu Juana.


" Biar Mbok aja yang gendong, Non," tawar Mbok Minah


" Mbok, gak papa Juana aja ... nanti encok Mbok Minah kambuh lagi," Goda Juana. Mbok Minah terkekeh dan menepuk tangan Juana.


Alex tersenyum melihat interaksi keduanya. Seakan tak ada batasan mana atasan dan bawahan. Ia mengerti sekarang, kenapa Juana menyuruhnya memanggil nama.


" Ayo, masuk, Non. Kamar Non dan ..." kata-kata Mbok Monah terpotong. Ia tak tahu nama anak Juana.


" Dennis, Mbok. Namanya Dennis," kata Juana


" Pak Di mana, Mbok? Kok gak kelihatan?" tanya Juana. Saat masuk gerbang tadi, Juana melihat satpamnya telah berganti.


" Pak Dito ... sudah meninggal 3 tahun lalu, Non. Dia kena serangan jantung pas ada dirumahnya," jawab Mbok Minah sedih.


" Ya, Tuhan. Juana gak tahu, Mbok. Besok tolong antar Juana ke rumahnya ya, Mbok?" pinta Emy. Mbok Minah mengangguk.


" Nah, ini kamarnya. Dennis tidurkan di sini aja, ayo..." Mbok Minah menarik selimut dan menepuk ranjang Queen bed itu agar Juana menidurkan Dennis di sana.


Juana menurutinya. Ia membaringakan Dennis dan mengecup kening putranya.


" Ya, sudah. Biarin dia istirahat, Non." kata Mbok Minah lalu mengantar Juana ke kamar sebelah.


" Ini, Non. Ini kamar Non Juana."


Juana masuk dan melihat kamarnya. Lengkap. Bersih. Rapi.


" Papa pasti tahu aku bakal pulang," gumam Juana ketika ia mengedarkan matanya ke seluruh kamar.


Ada meja kerja plus komputer dan printer, ada rak buku penuh dengan buku seputar Hukum Indonesia dan Hukum Internasional dan beberapa buku motivasi lainnya.

__ADS_1


Di sana juga sudah tersedia meja rias dan skin care atau produk perawatan wajah yang pastinya dari Lin Mei dan Merlita.


" Non Juana mau tidur dulu apa mandi dulu?" tanya Mbok Minah memutus tatapannya pada isi kamarnya


" Ah, aku mandi dulu aja, Mbok. Badanku gak enak rasanya," jawab Juana


" Ya, sudah. Semua seperti biasa, Non. Tempat dan peralatannya masih di tempat biasanya," kata Mbok Minah. Emy tersenyum dan mengangguk.


Mbok Minah berbalik dan keluar dari kamar Juana setelah melihat Juana masuk ke dalam kamar mandi.


Mbok Minah membuatkan susu dan menaruhnya di atas nakas. Ia tahu kebiasaan Juana yang sulit tidur. Ia akan tertidur pulas setelah menegak segelas susu.


Di perusahaan MS, Radit masih terus berjuang mencari investor agar perusahaannya dapat bangkit kembali. Walau sudah 7 tahun, tapi perusahaannya masih saja tak bisa kembali ke masa kejayaannya saat dipegang Ayahnya.


" Gas! Apa kau sudah menghubungi perusahaan Valcon?" tanya Radir pada asisten setianya.


" Sudah. Mereka bersedia memberi waktu buat Anda besok di Cafe Welce di Senayan City jam 11 siang.


" Hmm ... oke kalau gitu. Ada lagi?"


" Soal Hotel di Bali, saya masih belum menerima informasi, bagaimana Anda mempunyai saham di sana dan bagaimana pula saham itu tiba-tiba saja terjual," kata Bagas.


" Hmm, iya ... aku hampir lupa. Sudah mau 8 tahun aku juga masih penasaran," kata Radit.


"Apa mungkin mereka hanya meminjam nama Anda saja, Pak?" spekulasi Bagas


" Hmm ... bisa juga, Gas. Karena aku sama sekali gak pernah merasa beli," jawab Radit


" Oh, ya. Apa ... apa kamu ada kabar soal ... soal Juana?"


Bagas menghela nafas. Sudah hampir 7 tahun ia mencari keberadaan mantan istri bosnya, tapi selalu saja nihil. Teman-teman kuliah Juana pun tak ada yang tahu.


" Pak, sebenarnya cara yang cepat, Anda bertanya pada Pak Darwin atau Nona Merlita. Karena mereka orang terdekatnya," kata Bagas. Radit memijat pelipisnya. Ia sudah berkali-kali minta bertemu Darwin tapi selalu ditolak, ia sudah ke rumah, ke perusahaan Darwin tapi tetap saja ditolak. Merlita, sahabat Juana juga menolak memberitahunya dan bahkan memberinya pertanyaan yang masih tak ia ketahui jawabannya.


" Pak, saya ... saya ada dapat informasi soal keluarga Bu Juana," kata Bagas ragu. Kepalanya menunduk


Radit mendongak, ia menatap asistennya," Katakan, apa itu?"


" Ehm ... nama Nona Juana sudah tak ada lagi di kartu keluarga Pak Hermawan Budiarto, setahun setelah meninggalnya istri sah Pak Hermawan. Dan, perusahaan Budiarto Food sebenarnya adalah milik dari Ibu kandung Bu Juana, Metha. Tapi, sepeninggal Ibundanya, semuanya jatuh ke tangan Pak Hermawan. Bu Juana ... juga tinggal di kontrakan dan bekerja untuk memenuhi biaya hidupnya,"


" A-apa kau bilang?"

__ADS_1


__ADS_2