Bila Cinta

Bila Cinta
Kematian Danu


__ADS_3

Yeni terus menangis dalam pelukan putra sulungnya. Lia pun tak jauh berbeda. Semua orang menanti kabar dari balik pintu kaca bertuliskan IGD.


" Ma, jangan nangis terus. Kita berdoa aja, semoga tidak ada yang serius," ujar Aldo. Ia juga merasa sedih, tapi sebagai anak sulung, ia harus bisa jadi tiang yang kokoh bagi keluarganya.


Tak lama, pintu kaca itupun terbuka.


" Keluarga Tuan Danuarta?" Panggil seseorang dengan jas putih


" Sa-saya dok, saya istrinya," sahut Yeni.


" Maaf, bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin...Sekali lagi, maafkan kami," ucap dokter laki-laki berkaca mata itu sambil menunduk.


Yeni luruh ke lantai.


" Mamaaaa..." Teriak Aldo. Air mata sudah tak terbendung lagi. Aldo memanggil suster dan meminta mereka merawat mamanya.


Lia yang juga mendengar itu, lemas seketika. Beruntung ada Radit yang menangkap tubuhnya.


" Papa...papa, mas..." ucap Lia di tengah-tengah tangisnya. Radit memeluk erat kekasihnya. Ia menyesal memberitahukan kehamilan Lia pada calon mertuanya. Seandainya ia tahu akan jadi seperti ini, ia pasti akan menyembunyikan kehamilan Lia.


Tubuh kaku Danuarta telah ditutupi kain putih. Aldo sebagai anak pertama berusaha tegar. Tapi, sebagai seorang anak, ia tak lepas dari rasa kehilangan. Sosok ayah yang begitu ia puja, kini telah pergi untuk selamanya.


" Papa, maafkan aku, pa. Tolong bangun, bangun paaa....huwaaaaa," tangis pilu Aldo membuat seseorang yang baru saja datang menjatuhkan tas ranselnya.


brukkk...


Aldo terkejut, ia menoleh dan melihat adiknya, Aldi telah datang.


" Kak...papa cuma tidur, kan? Iya, kan? Karena papa kangen sama aku, makanya papa pura-pura kayak gini. Benerkan, kak?" Tanya Aldi. Airmatanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Aldo berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya, tapi tak bisa.


Ketika tak ada jawaban keluar dari mulut sang kakak, Ia berlari dan mendekap jenazah ayahnya.


" tidaaakkk....papaaaa....ini Aldi, pa. Papa banguuunnnn...paaaaa...." Tangis Aldi pecah.


" Pa, papa bangunnn...Aldi sudah pulang, pa. Aldi janji, Aldi gak akan ninggalin papa sama mama lagi. Paa...bangunnn...."


Aldo menarik adiknya dan memeluknya erat.


Setengah jam kemudian, seseorang membuka sekat korden tempat ayah mereka berada.

__ADS_1


" Maaf, kami harus memindahkan almarhum ke kamar jenazah," kata seorang perawat laki-laki. Ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Kehilangan seseorang yang terdekat dan dikasihi, adalah cobaan yang paling berat.


" Tunggu, kami masih tunggu mama kami, mas." Kata Aldo.


" Maaf, mas. Tapi..."


" 15 menit...tidak 10 menit saja. Ya, mas. Tolong, mas." pinta Aldi


Perawat itu menghela nafas dengan berat, tapi akhirnya ia mengangguk.


" Terima kasih, mas." ucap Aldo.


Perawat itu meninggalkan ruang tindakan dan memberi waktu pada mereka.


" Mas, mana mama sama Lia?" tanya Aldi.


" Mama pingsan. Lia..." Aldo menghela nafasnya dan menggeleng.


Setelah mendengar Danu tiada, Radit membawa Lia ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri.


" Mas, sekarang bagaimana? Aku yakin mama marah sama kita," lirih Lia.


Radit kembali memeluk kekasihnya. Ia pun masih belum bisa berpikir apa-apa. Semuanya kacau. Tak sesuai perkiraannya.


" Sebaiknya kita balik ke dalam, sayang." Ajak Radit. Lia mengangguk. Radit terus merangkul bahu Lia dan perlahan berjalan kembali ke IGD.


Sampai di sana, mereka melihat ayah Lia tertutup kain putih berada di atas brankar dan didorong oleh 2 orang perawat sedang 2 kakak Lia berjalan di belakangnya.


" Papa..PA!!!" Jerit Lia. Ia berlari dan mendekati jenazah ayahnya. Tapi, belum sempat mendekat, suara seorang wanita menghentikan niatnya.


" Berhentiiii!!! Jangan kau sentuh suamikuuu!!!" Pekik Yeni.


Aldi menautkan alisnya heran. Ia tak mengerti kenapa mamanya melarang Lia berada di dekat ayahnya sendiri.


" Ma, Lia mohon...hik..hiks...dia...dia papaku, ma," Isak Lia memohon.


Yeni yang sedang berada di kursi roda langsung berdiri dan melangkah cepat lalu mendorong putri satu-satunya itu.


" Lia!!!" Pekik Radit


" Mama!!" Seru Aldi. Aldo meletakkan tangannya di atas pundak adikknya dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Tapi kenapa, kak?" Tanya Aldi. Ia mengalihkan pandangannya pada Yeni dan Lia, " kak, jangan bilang kalau papa gak ada...karena Lia?!" Selidik Aldi. Kakaknya menunduk dan menitikkan air mata. Bola mata Aldi membulat. Matanya menatap tajam adiknya dan Radit. Sepertinya ia mulai mengerti.


Tanpa basa-basi, Aldi mendekati adiknya yang saat ini masih menangis dalam pelukan sang kekasih seraya menatap jenazah Danu.


" Kau, apa yang sudah kamu lakukan sama papa?!!!" Bentak Aldi. Matanya memerah karena geram. Radit membalikkan badannya melindungi calon ibu anaknya.


" Oh, pasti ini gara-gara kalian berdua. Kalian pasangan selingkuh, makanya papa jadi seperti ini, IYA KAN!!"


Radit hanya menunduk tak bisa menjawab.


" Sekarang, kamu pergi dari sini! PERGIIII!!" Usir Aldi. Kali ini Aldo tak menghalangi apa yang Aldi lakukan. Ia pun merasa geram dengan adik dan kekasihnya itu.


" TIDAK AKAN!!! Papa juga papaku!!!" Bentak Lia balik.


" KALAU KAMU ANGGAP DIA PAPA, KAMU GAK AKAN BIKIN DIA SAKIT HATI DAN MALU KARNA KELAKUANMU!!!"


" DIAAAAMMM!!!" Radit berteriak menghentikan keduanya. Ia kembali menatap calon kakak iparnya sekaligus sahabatnya itu.


" Lia anak dari papa Danu, dia berhak lihat papanya untuk terakhir kali!" Tegas Radit.


Yeni yang sedari tadi diam dalam pelukan Aldo, menjadi geram.


" Jangan pernah panggil suamiku papa. Lebih-lebih suamiku tidak pernah merestuimu sampai dia seperti ini. Gara-gara kalian berdua, suamiku harus pergi meninggalkan aku dan kedua anak lelakiku!!"


" Maa...aku juga anakmuu..." rengek Lia


" Aku bukan mamamu lagi, setelah KAU membunuh suamiku!" Kata Yeni pedas. Hatinya sudah terbakar emosi. Karna mereka berdua ia harus kehilangan suami yang sangat ia cintai.


" Maaa..." rengek Lia lagi


" Stop! Jangan pernah lagi kau datang menemui kami! Aku juga tidak pernah punya adik PELAKOR sepertimu!!" Sergah Aldi.


Lia menjadi geram ketika kakaknya menyebutnya pelakor. Tapi, belum ia bisa menjawab, seorang satpam menghentikan perdebatan mereka.


" Ma, ayo. Biarkan aja mereka," Ujar Aldo.


Aldo, Aldi dan Yeni berjalan menuju ruang jenazah. Aldo sudah memberi kabar pada orang rumah, untuk membawa setelan jas Danu dan menyuruh asisten ayahnya menyiapkan keperluan persemayaman jenazah.


Sampai hari terakhir persemayaman, Johan dan Vina tak menampakkan batang hidung mereka. Mereka hanya mengirim rangkaian bunga dan menyuruh asisten pribadi Johan untuk datang dan menyampaikan bela sungkawa.


Sebulan setelah pemakaman Danu, Radit dan Lia tak menunjukkan kemajuan dalam hubungan mereka. Keluarga Lia tak mau lagi menerimanya. Bahkan, saat ayahnya disemayamkan dan dikubur, ia tak diijinkan masuk. Lia hanya bisa melihat dari kejauhan.

__ADS_1


" Mas, sekarang rencana kita, gimana?" Tanya Lia setelah mereka selesai dengan pergulatan panas.


" Maksudmu?" Tanya Radit seraya membelai rambut kekasihnya


__ADS_2