
Hari kedua Juana berada di Jakarta dihabiskan untuk mengajak putranya bersenang-senang keliling Jakarta dan menikmati jajanan khas Jakarta.
Mereka kembali ketika hari sudah gelap. Sampai dirumah, Juana memandikan dan menngganti baju Dennis lalu menidurkannya. Selesai sudah tugasnya hari ini.
Setelah membersihkan diri, Juana duduk di depan meja yang ada di kamarnya dan mulai berkutat dengan laptopnya. Ia mempelajari setiap detil Perusahaan Ibunya yang kini telah beralih nama menjadi Budiarto Food.
“ Bagaimana aku bisa mengklaim perusahaan itu, sedang aku tak memegang surat wasiat dan Akta Pemindahan
Hak,” lirih Juana. Jemari lentik itu memijit pangkal hidungnya
Tok ... tok ... tok ...
“ Masuk!” seru Juana
Ceklek
“ Ah, Mbok ... masuk saja,” ucap Juana dengan senyumnya
“ Non belum tidur, ya? Ini, Mbok buatin kopi. Ini ada cemilan juga buat Non. Dimakan ya, Non,” kata Mbok Minah. Juana berdiri dan memeluk Mbok Minah dengan erat
“ Ah ... senengnya ada Mbok Minah ... hehehe ...”
Mbok Minah tersenyum dan mengusap punggung Juana lalu menepuknya lembut dan melepas pelukannya
“ Sudah, sekarang Non minum kopinya kalau masih mau kerja, ya?”
“ Iya, Mbok. Terima kasih, ya ...”
Mbok Minah tersenyum dan mengusap lembut tangan Juana yang masih berada di pinggangnya. Wanita tua itu keluar dari kamar Juana diiringi senyum manis gadis yang saat ini sudah menjadi bagian keluarga majikannya itu
Juana kembali mengotak-atik komputer, mempelajari semua dokumen yang dikirim Asisten Merlita, Alex, padanya. Malam telah sangat larut, ketika Juana menyudahi pekerjaannya.
Kediaman Radit
Malam itu, seperti biasa, Radit tidur ditemani dengan alkohol. Tak ada siapapun yang tinggal bersamanya. Apartemen yang dulu ia tempati bersama Juana, menjadi tempat terakhir yang ia pertahankan. Rumahnya dengan Lia sudah lama dijual ketika ia dan Lia berpisah dan wanita itu meminta harta. Tak ada yang tersisa. Hanya perusahaan kecil yang saat ini ia terus perjuangkan. Karena perusahaan itu adalah perusahaan pertama yang dirintis Ayahnya, sebelum Ayahnya kembali ke Australia untuk mengurus Raka dan Perusahaan milik keluarga Ibunda Radit.
__ADS_1
“ Juaaanaaaa .... teganya kau meninggalkanku dan menikah dengan orang lain ... aaaa ... apa kau mau membalasku, Naaa ... hah?! ... kau berhasil ... kau berhasil, Na ... kau berhasiiiilll ...” racau Radit dalam tidurnya.
Pagi hari, saat Bagas datang , ia sudah menggunakan masker. Begitulah setiap pagi, ia akan datang menjemput atasannya itu dan membantunya mengurus Apartemen yang selalu berbau aroma minuman haram itu. Bagas memanggil petugas kebersihan yang disediakan pihak Apartemen dan menyiapkan makanan di meja.
“ Pak, hari ini pesanan Bapak kosong. Restorannya tutup,” kata Bagas. Radit mendesak kesal, namun tetap memakan makanan yang sudah disediakan asisten setianya itu
“ Pak, nanti ada rapat dengan Perusahaan Budiarto. Apa ... Bapak mau menghadirinya?” tanya Bagas
Radit menaruh sendok dan garpunya. Mulutnya masih mengunyah makanan yang tak begitu cocok di lidahnya
“ Hmm ... aku ingin lihat apa yang mereka mau kali ini,” kata Radit. Ia masih ingat betul informasi yang asistennya laporkan perihal keluarga Budiarto dan apa yang lakukan terhadap Juana.
“ Baik, Pak. Saya akan konfirmasi dengan pihak mereka,” kata Bagas. Radit hanya mengangguk dan meneruskan sarapannya lalu berdiri dan melangkah pergi
Bagas terlihat kecewa. Ia sudah berusaha untuk membeli makanan yang sama seperti permintaan Radit selama 5 tahun terakhir yakni Cah brokoli, Daging Ayam Bumbu Peking, Daging Sapi Masak Lapis, Sup Asparagus dan Oseng Jamur Pedas. Tapi, restoran langganan tempat ia biasa membelinya, tiba-tiba saja hari itu tutup untuk sementara. Terpaksa ia pergi membelinya di dua restoran yang berbeda. Namun, hasilnya ... atasannya hanya memakannya sedikit. Sangat mengecewakan
Kediaman Darwin Tan
Juana pergi mengantar Dennis ke sekolah barunya. Awalnya, bocah laki-laki itu menolak. Tapi, setelah dibujuk, akhirnya ia bersedia ke sekolah.
“ Maaa ... Mama sudah bilang itu sama Dennis lebih 10 kali! Dennis sudah hafal!” seru Dennis kesal dan melipat tangannya di depan dada.
“ Oh, iya ya? Hahaha .... maafkan Mama. Mama lupa ... hehehe ...” sahut Juana dengan kekehannya dan mengusap gemas kepala Dennis. Bocah lelaki itu menghindar dan memberengut kesal
“ Baiklah, kalau terus marah-marah ... Mama tidak jadi beli es krim buat Dennis nanti siang,” goda Juana tanpa menatap putranya. Dennis buru-buru melepas sabuk pengamannya lalu turun dari jok mobilnya dan memeluk Juana serta menciumi wajah Mamanya itu. Juana tersenyum senang
“ Hahaha ... Aaa ... anak Mama ini pintar sekali sih ... oke, nanti siang pulang sekolah, kita beli es krim. Oke?” kata Juana
Dennis mengangguk cepat dan tersenyum membuka lebar mulutnya.
“ Non, kita sudah sampai,” kata Pak Man
“ Oh, iya Pak,” Juana segera melepas sabuk pengamannya dan menurunkan Dennis yang masih duduk diatas pangkuannya
Srekkk ...
__ADS_1
Pintu mobil dibuka oleh Pak Man. Dennis segera turun dengan tas kecilnya.
“ Pak, saya akan ke dalam sebentar untuk berbicara dengan gurunya. Tolong tunggu disini, ya,” pinta Juana
“ Baik, Non,” jawab Pak Man
Juana menggandeng Dennis masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ia disambut baik oleh para guru dan mengantarnya ke ruang kepala sekolah. Setelah berbincang sejenak dan menitipkan Dennis pada gurunya, Juana segera kembali ke mobil yang sudah menunggunya
“ Pak, kita ke MJ Resto, ya.” Kata Juana,
“ Baik, Non,”
30 menit perjalanan ditempuh dalam waktu satu setengah jam karena parahnya kemacetan di Jakarta. Di sebuah restoran yang asri dan sepi tanpa pengunjung, Pak Man menghentikan mobil yang ia kendarai di depan pintu masuk restoran itu. Juana turun dari mobil dengan menenteng tasnya dan sebuah tas lain berisi laptop kesayangannya lalu berjalan masuk.
“ Nona Juana,” sapa Manager Restoran itu
“ Hmm ... aku mau cek pembukuan dan menunya ya, Pak. Bisa tolong siapkan?” pinta Juana
“ Baik, Nona,” kata sang Manager bernama Arwandi Sutedja
Restoran MJ adalah restoran yang dirintis Juana dan Merlita sejak 5 tahun yang lalu. Awalnya, ia memasak untuk keluarga orangtua angkatnya, Darwin Tan. Namun, ketika beberapa kali mereka memakannya, Darwin Tan mengusulkan agar Juana membuat Restoran. Setelah berpikir panjang, akhirnya Juana menyetujuuinya.
Juana hanya memberikan resepnya pada Mbok Minah dan wanita tua itu yang akan meracik bumbunya dan memilahnya dalam plastik-plastik kecil. Semuanya diatur oleh Merlita. Mulai dari pemilihan pegawai dan penyewaan lahan yang mereka jadikan restoran yang kini sudah menjadi milik mereka.
Setiap bulan, Juana akan mengirim resep melalui E-mail kepada Merlita. Juana akan datang meninjau restorannya 6 bulan sekali dan kembali setelah hanya 3 hari berada di Indonesia. Kini, usaha mereka sudah memiliki nama di Jakarta dan sudah memiliki cabang hingga di beberapa kota besar di Indonesia.
Back to story
Juana sedang memeriksa pembukuan di kantornya di lantai 2 restoran itu, ketika Alex datang dengan terburu-buru padanya.
Tok ... tok ... tok ...
Ceklek
“ Juana ... Juana ... kita harus ke Bogor sekarang juga, ayo!” kata Alex sambil menarik tangan Juana
__ADS_1