
Radit tak bisa konsentrasi melakukan pekerjaannya. Berulang kali ia salah memberikan klik persetujuan di komputernya dan Bagas selalu mengingatkannya.
" Gas! Aku off dulu hari ini. Aku mau pulang dulu." Kata Radit seraya mengambil jasnya dan berjalan pergi
" Baik, pak." Jawab Bagas membungkuk dan melihat atasannya berlalu dan menutup pintu. Bagas mengikutinya hingga di depan lift.
" Pak, semoga Anda pikiran Anda terbuka." Gumam Bagas. Alina yang mendengar perkataan Bagas tersenyum menyetujuinya.
Radit melajukan mobilnya pulang ke rumahnya dan Lia. Setelah memarkirkan mobilnya, Radit berjalan memasuki rumah. Rumah terlihat sepi.
" Tuan! Sudah pulang?" Sambut seorang wanita paruh baya. Ia mengambil tas dan jas Radit.
" Hmm. Mana Lia?" Tanya Radit
" Nyonya bukannya tadi sama Tuan?" Bi Tina balik bertanya.
' Jadi belum pulang?' batin Radit. Ia menghela nafasnya dan mengangguk pada bi Tina dan melangkah naik ke lantai 2. Dimana, kamarnya dan Lia berada.
Radit membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia merebahkan tubuh lelahnya ke tempat tidur. Pikirannya tiba-tiba saja melayang pada Juana. Radit menggelengkan kepalanya berusaha menghapus bayangan Juana.
Pukul 10 malam Lia baru kembali. Radit sudah selesai dengan makan malam dan bersiap istirahat ketika wanitanya itu pulang.
" Mas! Dah dari tadi pulangnya?" Tanya Lia sambil menghapus make upnya. Radit hanya terdiam dan melihat jengah kekasihnya itu.
" Mas! Kok diam aja sih? "
Radit merebahkan diri dan menarik selimutnya tanpa membalas pertanyaan Lia. Melihat sikap Radit, Lia membuang botol pembersih make up nya ke atas meja dan menghentakkan kakinya masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Saat masuk ke dalam kamar, ia mendengar dengkuran Radit. Karena geram, ia melempar bantalnya ke arah Radit dan membuat laki-laki itu terbangun karena kaget.
" Lia! Apa-apaan sih kamu?!" Bentak Radit.
" Mas! Kamu itu kenapa kok gak jawab aku?! Harusnya aku yang marah! Kok mas sekarang yang marah sama Lia?! "
" Kamu masih tanya?! Kamu itu perempuan! Kenapa pulang malam?! Kamu anggap apa aku?! Hah?!" Wajah Radit memerah karena geram dengan sikap Lia. Ia mengambil bantalnya dan beranjak pergi.
" Mas!" Panggil Lia. Tapi, panggilannya tak dihiraukan lelaki itu.
__ADS_1
Radit memutuskan tidur di kamar tamu. Lama barulah ia bisa terlelap. Sementara Lia, ia meraih ponselnya dan mulai mengetik sesuatu di sana. Entah kepada siapa.
Juana mulai belajar beradaptasi di negara yang baru. Ia belajar bahasa Belanda dengan giat. Sofia, istri Darren, adik dari Darwin, memperlakukannya layaknya adik sendiri.
Juana juga sudah mendaftar kelas internasional di Universitasnya dengan bantuan Sofia.
Juana bertemu Darren hanya sekali setelah seminggu ia tinggal bersama mereka. Menurut Sofia, Darren akan kembali ke rumah mereka di Den Haag 3-6 hari sekali, karena pekerjaannya sebagai Insiyur di salah satu perusahaan internasional yang mengharuskannya keliling ke beberapa negara di Eropa dan Amerika.
Darren adalah adik tiri Darwin Tan, papa Merlita. Kakek Merlita menikah lagi setelah 10 tahun istri pertamanya meninggal karena kecelakaan.
Karena lahir di usia tua, Darren menjadi anak kesayangan kakek dari Merlita. Darren menetap di Belanda karena ia mau menjaga ayah dan ibunya. Namun, walaupun anak kesayangan, tak serta merta Teddy Tanujaya menyerahkan perusahaannya pada Darren. Ia hanya memberi Darren 25% saham perusahaannya sedang Darwin memiliki 50% saham.
Juana dapat melihat kesamaan antara Darren dan Darwin, yaitu selalu bersahaja. Mereka tak pernah sombong dengan kekayaan mereka yang berlimpah, sebaliknya mereka selalu rendah hati dan suka menolong. Tak pernah mereka membeda-bedakan ras.
Selama di tinggal di kediaman keduanya, Juana mendapat kasih sayang layaknya seorang kakak pada adiknya. Suatu hal yang tak pernah ia rasakan dari keluarganya. Tapi, ia justru mendapatkannya dari orang lain.
2 minggu berlalu. Persidangan kedua perceraian Radit dan Juana kembali berlangsung. Juga, tanpa kehadiran Juana. Radit yang berharap bisa bertemu saat ini, kembali kecewa.
" Dengan ini, kami memutuskan. Mengabulkan permohonan Pengugat dan menyatakan Saudara Amanda Juana Lumanauw dan Saudara Raditya Mahesa, pada hari ini, resmi bercerai. tok..tok..tok.."
Radit lemas mendengar putusan itu. Tak ada kebahagiaan dirasakannya saat ini. Dengan langkah gontai ia keluar ruang sidang. Di sana ia bertemu dengan pangacara Juana.
" Oh, ya. Ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanya Devina sopan.
" Kenapa, Juana..tidak datang?"
" Maaf, tapi sepertinya saya tidak punya kewajiban menjawabnya, pak."
" Saya...saya hanya ingin membicarakan masalah gono gini." Alasan Radit
Devina tersenyum. " Pak, Saya sudah sampaikan di persidangan. Bahwa, klien saya tidak meminta gono gini."
" Iya..tapi.."
" Maaf, pak. Saya hanya menjalankan keinginan klien saya. Dan, saya harap Anda tidak mempertanyakannya lagi. Permisi." Devina menunduk lalu beranjak meninggalkan Radit.
Setelah persidangan, Radit tak pergi ke kantor atau rumahnya dan Lia. Ia menelepon teman-temannya, Benny dan Dion. Tapi, sayangnya keduanya tak bisa menemaninya karena ada acara keluarga menurut Dion dan persiapan skripsi S3 menurut Benny.
__ADS_1
Sebenarnya kedua teman Radit hanya beralasan. Mereka tak bersedia datang, karena mereka jengah dan bosan mendengar keluhan Radit. Mereka selalu memberinya solusi dan saran, tapi selalu ditepis dan tak digubris.
Radit menghabiskan waktunya di cafe langganannya. Menikmati musik yang melantun indah. Hampir setahun yang lalu, di cafe ini ia juga memohon Juana untuk menikah dengannya dan berjanji untuk membuka hatinya untuk gadis itu. Tapi, nyatanya di cafe ini pula ia mengawali penghianatannya dan mengingkari janji yang ia buat sendiri.
" Hmm... Aku memang brengsek!" Gumamnya.
Radit kembali membawa mobilnya mengelilingi Jakarta tanpa tujuan. Mengabaikan panggilan telepon yang terus berdering. Jam 11 malam ia baru kembali. Melangkah gontai memasuki rumah yang ia bangun untuk Lia.
" Mas! Dari mana aja? Ditelepon kok gak di angkat?" Ketus Lia ketika ia melihat Radit masuk ke kamar.
" Ada apa memangnya?" Sahut Radit enteng.
" Ck... mama sama papa sudah tahu kalau kamu sudah cerai. Mereka minta ketemu sama kamu!"
" Bisa gak, kamu kalau ngomong ke aku gak usah ketus gitu?! " Sergah Radit. Lia mengeraskan rahangnya dan berbaring memunggungi Radit.
Radit masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Badannya terasa lelah. Tak berapa lama berbaring, suara dengkuran terdengar. Lia begitu kesal dibuatnya. Akhir-akhir ini, Radit sering berkata keras padanya.
" Awas, ya mas! Kalau kamu masih mikirin cewek miskin itu! Aku remas kamu beneran!" Ucap Lia kesal dan kembali mencoba tidur. Dini hari, Lia baru bisa terlelap.
Pagi saat fajar telah lama menyingsing, Radit pun telah pergi ke kantor, Lia baru terbangun. Masih dengan wajah kantuknya, Lia memanggil pelayan untuk membawakannya sarapan.
" Tina! Ambilin aku sarapan! Aku makan di kamar aja. " Perintahnya melalui interkom.
10 menit kemudian, Bi Tina mengantarkannya sarapan sementara Lia masih melakukan rutinitasnya di kamar mandi.
Tok...tok.
" Nyonya! Sarapannya sudah saya siapkan di meja!"
" Hmm!"
" Ada tamu yang cari Nyonya dibawah."
Juana sedikit membuka pintu kamar mandinya.
" Siapa?"
__ADS_1
" Saya tidak tahu, Nyonya. Laki-laki."
Juana mengangguk dan menyuruh asisten rumah tangganya itu pergi.