
Juana masuk sebuah Cafe bernuansa homey/rumahan. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat sosok yang sangat ia hindari. Wanita penyebab bundanya mengalami depresi dan harus pergi meninggalkannya di usianya yang masih sangat belia dan masih butuh kasih sayang seorang ibu.
Juana menata emosinya dan berjalan mendekati wanita itu.
" Ada masalah apa? Saya masih banyak urusan, tidak bisa lama-lama." Kata Juana tanpa menyapa dan mempersilahlan dirinya sendiri duduk di depan wanita setengah baya itu.
" Sama. Aku cuma mau kau menandatangani ini. Setelah itu aku pergi." Ucap Nadia seraya menyodorkan sebuah map berisi lampiran kertas bertulis tinta hitam dan sebuah materai.
Juana meraih map itu dan mulai membacanya. Belum selesai membaca, Nadia menarik map itu dari tangan Juana dan menaruhnya di atas meja dan memberikan sebuah pena.
Senyum sinis tersungging di bibirnya. Tangannya masih tetap ia tumpu di atas pahanya.
" Gak usah dibaca. Kamu cukup tanda tangan dan kita selesai." Kata Nadia.
" Anda pikir saya wanita bodoh yang akan begitu saja mau menandatangani surat tanpa dibaca isinya? Apa Anda lupa kalau saya mahasiswa hukum, nyonya Nadia?"
" Kau! Dengar, ya. Kau tidak ada hak lagi atas semua yang Hermawan miliki. Kau bukan anaknya. Jadi, jangan pernah berharap kau akan bisa menikmatinya."
Juana ingin rasanya tertawa. Oh, betapa bodohnya wanita satu ini.
" Memang kau siapa? Dan Bapak Hermawan yang terhormat itu bukankah dia ayah kandungku? Perusahaan yang ia pegang, kau pikir dari siapa dia mendapatkannya?"
" Aku istri sah Hermawan. Dia memang ayahmu tapi dia sudah memutus hubungan denganmu. Perusahaan itu memang dari kakekmu, tapi Hermawan yang banting tulang membuatnya maju." Dengan begitu sombongnya kata-kata Nadia itu terlontar. Tapi tak sedikitpun Juana takut atau goyah karenanya.
" Hahaha... benarkah? Kalau kau yakin KEKAYAAN MAMAku bisa jatuh seutuhnya ke tangan suamimu itu, kenapa kau masih repot-repot datang meminta tanda tanganku, nyonya Nadia?"
" Jangan banyak bicara! Cepat tanda tangan dan akan kuberi kau 200 juta. Itu cukup buat bayar hidup kamu sampai selesai kuliah dan kerja."
" Hahaha... Aset keluargaku tak semurah itu, nyonya..."
" Apa? Hei! Kau tidak ada hak atas semua itu! "
" Ckckck... Baru kali ini saya melihat manusia sebodoh Anda. Baiklah, jika kau terus mengusikku, kita akan bertemu di pengadilan."
__ADS_1
" Pe-pengadilan. Tidak perlu! Aku akan beri kamu 250 juta. Bagaimana?"
" Saya sibuk, permisi!"
Juana segera pergi meninggalkan wanita itu sebelum emosinya tak tertahan lagi.
Nadia terus mengumpat karena tak berhasil menaklukkan anak tirinya yang mengancam posisi kedua anak kembarnya dalam hak waris.
Juana kembali ke kantor. Ia memindahkan rekaman video dan suara dari memori card pena rekam milik Bimo. Menjadi paham dengan urusan hukum, membuatnya selalu berhati-hati saat ia harus menghadapi situasi yang tak menguntungkan.
Sebenarnya ia juga memiliki pena rekam hadiah dari Darwin, ayah Merlita karena berhasil lolos ujian untuk bisa magang di Burhan Law & Firm yang sangat ketat. Hanya saat itu, memori cardnya terlalu penuh setelah ia pakai pergi mengambil kesaksian dari tersangka dan para saksi dalam kasus yang saat ini ia tangani.
Juana mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Radit.
*To: Kak Radit
Kak, tadi Rena pesanin makan siang. Maaf, ya kak. Aku gak sempat masak tadi.
Send*
" Ketiduran mungkin, ya?" gumam Juana lalu mulai mengerjakan berkas-berkas yang akan ia dan seniornya bawa esok ke pengadilan.
Di apartemen mewah kediaman Radit, ia menerima pesan singkat dari Juana saat menikmati makanan yang dipesan Juana untuknya.
" Hmm, dia masih perhatian padaku." Gumamnya. Ia melanjutkan makannya, mencuci piring dan sendok yang tadi ia pakai dan bersantai menonton TV.
Jam pulang kantor Juana mulai mendekat. Radit masih ragu untuk memulai hubungannya dengan Juana. Ia masih berharap suatu saat tunangannya itu kembali padanya. Dan, jika saat itu tiba, ia akan semakin menyakiti gadis itu. Akhirnya, ia memilih masuk dalam kamar dan bergelut dengan laptopnya mengurungkan niat untuk menjemput.
Tepat jam 6 sore Juana sampai apartemen. Ia segera berganti baju dan mulai memasak untuk makan malam. Begitu cekatan ia mengerjakannya. Hanya 1,5 jam 4 masakan rumahan yang mengugah selera telah tertata rapi di atas meja.
Selesai menata piring dan peralatan makan lainnya, Juana kembali ke kamarnya dan segera membersihkan diri lalu memberi sedikit bedak dan lip glos. Rambutnya yang basah dibiarkannya tergerai begitu saja.
tok...tok...
__ADS_1
" Kak Radit! Kak! makan malamnya sudah siap!" Panggil Juana
Ceklek
" Hmm, iya. Ayo, makan!" Radit segera menuju meja makan dan mengambil posisi di ujung meja seperti biasa. Dan Juana di sisi kanan depannya.
" Aku masak Capcay, cumi asam manis, Ayam saos mentega sama asem-asem daging, kak. Aku gak tahu kakak suka apa, jadi..."
" Aku yang penting makan kok, Na. Semua makanan sama buat aku. Makasih." Potong Radit datar.
" Oh, ok. Kak"
Juana mengambilkan makanan untuk Radit dan meletakkannya kembali di depan Radit dan laki-laki itu langsung menyantapnya. Juana mengambil untuk dirinya sendiri dan tak lupa Juana berdoa di dalam hati bersyukur buat makanan yang tersedia baru menyantapnya.
Radit melirik dan memperhatikan gerak gerik Juana. Sebenarnya Juana tahu bahwa Radit terus memperhatikannya, tapi tak ada keinginannya untuk bertanya, toh Radit tak akan berkata jujur padanya.
Makan malam saat itu tanpa terasa Radit menghabiskan 2 piring. Masakan Juana sangat pas di lidahnya. Juana membersihkan meja makan dan mencuci piring serta membersihkan dapur lalu mengambil buah dan memotong-motongnya untuk di antar pada suaminya yang kini sedang duduk di ruang tv sambil menonton.
" Kak, ini buahnya. Aku masuk dulu ke kamar mau ngerjakan skripsi. Dapur sama meja makan dah bersih kok, kak."
" Hmm."
Juana menipiskan bibirnya, menangguk dan berjalan masuk ke kamarnya.
" Hufftt!" Radit menggaruk kepalanya kasar dan menatap pintu kamar Juana yang memang terlihat dari tempatnya duduk.
" Kenapa kamu pamit ke aku kayak aku majikanmu, Na. Ck...dasar bodoh!" Gumam Radit sambil menguyah buah.
Demikianlah hari demi hari pasangan pengantin baru itu melalui harinya. Radit akan pulang untuk makan malam tapi lebih sering ia akan menghabiskan waktu di kantor dan pulang tengah malam untuk menghindari Juana.
Tapi, ternyata Juana seorang yang persisten. Ia masih selalu menunggu Radit pulang walau tengah malam. Membuatkannya kopi ataupun sekedar menyapa jika Radit menolak untuk dibuatkan kopi.
Dan sampai setengah tahun ini, Juana tak pernah diijinkan Radit masuk dalam kamarnya walau hanya untuk menyiapkan baju dan air mandi atau membersihkannya.
__ADS_1
6 bulan pernikahan, tak ada sama sekali kemajuan di antara keduanya. Bahkan saat ini, Radit sering tak pulang dan hanya kembali sehari atau dua hari selanjutnya entah kemana.
Nadia dan Nita juga masih saja merongrong Juana dan mengancam pewaris sah perusahaan Hilman yang bergerak di bidang kuliner itu.