
Lia memainkan jarinya di dada Radit. Radit menutup matanya dan menghentikan jemari Lia. Ia menundukkan kepalanya menatap kekasihnya.
" Maksudmu rencana apa?" Tanya Radit lagi
Lia mencebikkan bibirnya kesal, " ya...rencana pernikahan kita, mas." Ucap Lia.
Radit terdiam mematung. Setelah semua yang terjadi, orangtuanya tak merestui hubungannya dan kembali ke Australia lalu kematian ayah Lia. Radit belum memikirkan untuk dibawa kemana hubungan mereka.
" Aku...gak tahu, sayang."
Jawaban Radit membuat emosi Lia tersulut. Ia tak mau gagal menikah dengannya.
" Apa kamu bilang, mas? Gak tahu? Apa kamu mau perutku besar terus anak ini dicap anak haram? Iya??" Sergah Lia. Ia beringsut duduk dan menatap suaminya
" Duh, bukan gitu. Kamu tahu kan, orangtuaku dan orang tuamu, mereka semua tak menyetujui hubungan kita. Terus, kita harus gimana mengurus surat-suratnya? Surat N1-N5 semua perlu tanda tangan orang tua..." Jelas Radit.
" Aku gak mau tahu, mas. Pokoknya aku harus secepatnya menikah. Anak ini harus punya status, mas!"
" Kamu pikir aku gak mikir nasib anak kita? Kamu pikir aku enak-enak aja diam gak berbuat sesuatu? Orangtuaku sudah balik ke Australia karna gak mau lihat aku sama kamu menikah. Mama kamu juga gak mau ketemu sama kamu. Trus, aku harus gimana? Coba kasih aku solusi! Gimana?!" Geram Radit
" Terserah kamu mau gimana, mas. Mau kamu palsu'in tanda tangan orangtua kita atau gimana, pokoknya anak ini sebelum lahir harus sudah punya status!"
Radit menghela nafas mendengar ultimatum kekasihnya. Sementara Lia, setelah mengancam Radit, ia berbaring dan tidur memunggungi laki-laki itu.
" Oh, Tuhan...rumit sekali hidupku," Gumam Radit. Ia kembali menerawang proses pernikahannya dengan Juana yang begitu lancar. Persiapan pergantian surat-surat semua berjalan dengan lancar. Banyak pihak yang membantu.
Tapi kini, saat dirinya akan menikahi wanita yang ia cintai, ia harus mengalami kesulitan tanpa memiliki solusi.
Dini hari, barulah mata laki-laki pimpinan MS Group Jakarta itu terpejam.
__ADS_1
Juana kini mulai dengan kuliah normalnya. Ia tak lagi ikut kelas bahasa belanda terlalu sering. Semua kenangan tentang Radit masih tersimpan jelas di benaknya. Tapi, dengan kesibukannya, sedikit banyak ia tak memikirkannya sepanjang waktu.
Hari terus berjalan. Setiap detik setiap waktu digunakan sebaik mungkin oleh Juana. Ia mendapat teman baru, seorang wanita bernama Dena Rahmawati. Gadis manis dari Jawa Tengah.
Beberapa mahasiswa banyak yang mendekati Juana untuk sekedar berkenalan bahkan mengajaknya kencan. Tapi, Juana selalu menolaknya secara halus.
Setahun kemudian
Kantor Radit tampak sibuk. Dari pagi deringan telepon tak pernah berhenti memenuhi ruangannya dan divisi lain.
Berita tentang dirinya kumpul kebo dengan mantan pacarnya menyeruak seantero negeri. Banyak investor menanyakan kebenaran berita itu. Bagas sebisa mungkin menahan mereka dengan beralasan bahwa itu rumor belaka.
"Aaarrgghhh! Sialan!! Siapa yang berani sekali membocorkan rahasiaku!!!" Geram Radit mengacak rambutnya.
Di hadapannya, banyak sekali proposal pengajuan tambahan dana untuk proyek apartemen elit di Bandung yang membuatnya tambah stress.
Beberapa investor sudah mulai menarik dananya dari perusahaan. Dan beberapa pemilik saham menjual sahamnya dengan harga murah. Sehingga perusahaan mengalami kesulitan dana.
Lia meminta baby sitter dengan syarat yang sedikit rumit. Tidak boleh cantik tapi bersih dan rapi, berkulit hitam atau sawo matang, umur 40 tahunan dan sudah menikah, bisa kerja cepat, sabar dan tidak cerewet, lebih bagus berkacamata, tidak terlalu kurus atau gemuk tapi tidak boleh langsing.
Banyak agen menggeleng dan berkata tak punya klien yang seperti itu. Mereka hanya berjanji, jika ada yang sesuai permintaannya, mereka akan segera menghubunginya.
" Gas, aku masih penasaran sama direktur perusahaan Linxia. Dulu aku sudah mengejarnya sampai ke Jepang dan China, tapi nihil. Dia selalu tidak ada di tempat. Kalau terus-terusan begini, perusahaan ini bangkrut, Gas." Keluh Radit pada asistennya
' Semua karena ulah Bapak sendiri. Istri baik malah dibuang. Sekarang Bapak kena karmanya.' Batin Bagas.
" Gas! Kok kamu diam?" Tanya Radit sambil mendongak melihat asistennya yang masih berdiri dan terdiam tak menimpali perkataannya.
" Ah...maaf, pak. Saya juga bingung harus bagaimana. Saya sudah berulang kali menelepon membuat janji untuk Bapak, tapi mereka selalu memiliki alasan untuk menolak. Soal berita tentang Anda, saya sudah sebisa mungkin memblok beritanya, tapi...semua sudah terlanjur meluas, pak." Jawab Bagas
__ADS_1
Radit mengangguk. Diletakkannya pulpennya lalu berdiri menatap langit. Kehidupannya hancur setelah perpisahannya dengan Juana. Menyesal? Ya, dia menyesalinya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ia harus tetap melanjutkan hidupnya.
" Gas...apa ini karma karna aku sudah menyakiti orang yang begitu baik padaku?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut laki-laki itu.
Bagas terhenyak. Ia juga tak bisa menjawab. Ingin ia berkata dengan lantang; " iya, betul. Ini karmamu, Raditya Mahesa?" tapi dia hanyalah seorang bawahan. Tak mungkin ia berani melawan atasannya.
Radit menoleh dan tersenyum miris. Melihat diamnya bawahannya itu, ia tahu bahwa perkiraannya benar.
" Aku sudah menyia-nyiakan wanita yang tulus menolongku dan rela melayaniku dengan baik sebagai seorang istri. Walaupun dia tahu aku tak mencintainya. Dia selalu menyiapkan makanan untukku, membuatkan kopi bahkan menungguku pulang walau dia sudah mengantuk dan harus kembali bekerja esoknya. Karna dirinya, keluargaku tak menanggung malu. Karna dirinya, orang tuaku semakin menyayangiku. Karna dirinya, aku tidak akan telat makan atau ke kantor.
Sekarang, makanan aku harus menyiapkan sendiri karena Bi Tina tak mau lagi bekerja dirumah dan pembantu yang baru...tak bisa memasak. Lia...dia asyik sama handphone dan teman-temannya...tapi, aku tak bisa meninggalkannya karna anakku." Keluh Radit. Airmatanya menitik. Bagas yang berdiri dibelakangnya menatap iba atasannya itu.
" Semua yang terjadi ada maknanya, Pak. Bapak harus banyak bersabar, ya?" Hanya itu yang bisa Bagas katakan. Karna jujur saja, dia tidak menyukai sikap Radit yang selalu tidak bisa tegas pada istrinya.
" Iya, itu yang aku lakukan saat ini. Aku gak tahu sampai kapan aku bisa, Gas." Ucap Radit
" Oh...jadi kamu menyesal sekarang? Iya? Dulu kamu yang mengajakku kembali, sekarang...kamu mau pergi begitu saja? Hah?!"
Radit begitu kaget mendengar suara Lia. Ia berbalik dan menatap Lia.
" Kenapa diam? Hah?! Kenapa? Karna semua yamg aku katakan benar, kan? Iya kan, mas?!" Seru Lia.
" Karna aku hamil anak kamu, papaku meninggal. Dan sekarang, kamu mau bilang kalau gak ada Raina kamu mau meninggalkan aku?!"
" Lia! Hentikan! Kamu gak malu apa? Ini kantor!!" Sentak Radit.
Lia bertambah geram mendengar sentakan Radit.
" Kamu berani menyentakku sekarang, mas?!" Sentak Lia balik.
__ADS_1
Radit memijat pangkal hidungnya. Bagas mundur teratur meninggalkan ruangan bosnya.
" Kalau kamu masih terus meninggikan suaramu disini, aku pastikan kamu menyesal, Lia!" Ancam Radit