Bila Cinta

Bila Cinta
Janjimu Palsu


__ADS_3

Hari baru kembali datang. Suara alarm membangunkan Juana untuk bangun dari tidurnya. Berlutut di sisi tempat tidur, ia berdoa dan bersyukur buat hari yang baru. Selesai berdoa, ia segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri.


Ritual mandi yang ia lakukan tak memerlukan waktu banyak bagi seorang Juana. Hanya 15 menit ia sudah keluar dan berganti pakaian. Dipolesnya wajahnya dengan bedak tipis dan memberi sedikit lip gloss pada bibir cantiknya.


Dengan cekatan Juana memasak untuk sarapan suaminya, Radit. Selesai mengatur semuanya di atas meja makan, ia mulai membersihkan dapur dan menata ruang tamu.


Masakan masih hangat ketika Radit keluar dari kamarnya, masih dengan piyama tidurnya.


" Kak, apa aku perlu siapin baju kakak ke kantor?" Tanya Juana sembari membuatkan suaminya kopi


" Gak usah. Biar aku aja. Makasih." Jawab Radit datar. Juana hanya mengangguk lalu menyuguhkan kopi panas untuk suaminya.


Tak ada pembicaraan selama mereka menikmati sarapan. Juana memasak Omelet sayur bayam dan wortel, roti panggang dan kentang keju serta nasi putih.


Radit tampak menikmati sarapannya. Namun, tak banyak yang ia makan. Ia sudah meninggalkan Juana sendiri di meja makan setelah menghabiskan seporsi kentang keju dan sepotong omelet. Juana mulai membiasakan diri dengan sikap dingin dan cuek Radit.


Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring, Juana segera berganti pakaian untuk bekerja. Saat ia keluar, Radit belum keluar dari kamarnya. Segera Juana menyiapkan sepatu dan kaos kaki Radit dan ia letakkan di depan kamar suaminya itu.


Ketika hendak berbalik, Radit keluar dari kamarnya.


" Na, ngapain?" Tanya Radit, matanya memandang curiga sang istri.


" Oh, aku cuma nyiapin sepatu sama kaos kaki, kak. Itu, aku taruh situ." Jawab Juana seraya menunjuk sepasang sepatu yang sudah mengkilat.


" Oh. Makasih. Kamu mau kerja?" Tanyanya lagi.


" Iya, kak. Aku cuma ijin 2 hari aja." Sahut Juana berbohong. Ia mendapat ijin 1 minggu dari kantornya, tapi ia tak mau terus berdiam diri di rumah tanpa berbuat apapun. Ia ingin menyibukkan pikirannya dengan hal lain.


" Oh, oke. Tapi, aku gak bisa antar kamu. Aku harus ke Anyer hari ini. Ada proyek di sana. Kamu, gak papa kan sendiri?"


" Iya, kak. Gak papa. Aku sudah pesen Gojek barusan." Jawab Juana dengan senyum.


" Hmm, ok. Aku berangkat dulu, ya," Radit segera menyambar sepatunya dan memakai sandal lalu bergegas keluar.

__ADS_1


Juana menunggu 10 menit baru ia keluar dari apartemen. Ia tak mau bertemu dengan suaminya dan melihat matanya yang sembab. Di dalam lift, Juana kembali memoles bedaknya dan meneteskan obat mata agar matanya tak lagi merah.


Radit mengendarai mobilnya langsung menuju kantor. Tak ada proyek di Anyer seperti yang ia katakan pada Juana. Ia sengaja berbohong karena ia bermaksud untuk pulang ke rumah yang ia bangun untuk Lia.


tok..tok..


" Masuk!"


Seorang wanita berumur sekitar 30-an masuk membawa tumpukan berkas di tangannya.


" Pagi, pak. Ini proposal dari beberapa divisi untuk proyek pembangunan perumahan di Surabaya."


" Hmm... taruh saja disitu." Kata Radit dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


" Baik, pak. Saya permisi."


" hmm."


Radit terus menenggelamkam dirinya dengan tumpukan kertas dan map.


" Na, mana hasil wawancara kamu sama para saksi?" Tanya seorang senior Juana.


" Oh, ini lagi aku susun kak. Bentar lagi selesai. Nanti kukirim ke email kakak." Jawab Juana. Senior Juana bernama Devina itu mengangguk dan kembali ke mejanya.


" Na, lo baru nikah kok dah kerja, sih? Gak bulan madu?" Tanya rekan Juana, Bima.


" Hahaha... Gak ada waktu, Bim. Suami gue ada proyek yang harus cepet diselesai'in. Sedang gue, gue juga lagi ngejar nilai, biar nilai gue gak jeblok.." Lagi, terpaksa Juana berbohong agar tak banyak lagi yang bertanya.


' Oh, Tuhan. Ampuni saya sudah berbohong seharian ini. ' Lirih Juana dalam hati.


Jam 4, Juana sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap pulang.


" Mau gue anter, Na?" Goda Bima. Sejak awal bertemu, Bima sudah menaruh hati pada Juana, tapi wanita itu terlalu polos untuk mengerti sinyal cinta dari laki-laki berlesung pipit itu.

__ADS_1


" Makasih, Bim. Gak usah... Tuh, ojekan gue dah datang. Thanks, ya." Juana melambai dan beranjak pergi.


" Na, semoga kamu bahagia." Gumam Bima. Ia meraih tasnya melangkah ke parkiran dengan gontai.


drrt...drrt...


Ponsel Juana terus bergetar di dalam saku jaketnya. Diraihnya benda pipih itu dan dilihatnya nama pemanggil.


' Istri Baru Tn. Budiarto ' begitulah nama itu terpampang di sana. Juana membiarkan ponselnya terus berteriak dan bergetar. Saat ini ia masih di boncengan ojek online. Ia tak mau ponselnya nanti jatuh dan rusak. Maklum, untuk membelinya ia harus menabung selama 6 bulan karena harus membaginya untuk uang transport dan makan.


Sampai di lobby apartemen, dengan malas di gesernya tombol hijau di ponselnya yang masih setia berbunyi.


" Hallo," jawabnya datar


" Dari tadi di telpon kok baru jawab, sih?" Gerutu Nadia di seberang telepon


" Ada apa?" Tanya Juana dingin


" Aku tunggu kamu di Cafe Q'rei 30 menit lagi. Ada yang mau aku bilang sama kamu."


" Maaf, tidak ada waktu."


Juana menutup panggilannya. Tak ada niat untuknya bertemu dengan wanita itu. Ia segera melangkah masuk lift dan menuju apartemen.


Gelap dan hening menyapa Juana saat ia masuk apartemen mewah suaminya itu. Setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah, Juana segera masuk ke kamarnya dan melempar tasnya ke ranjang. Digantinya baju kerjanya dengan baju rumah lalu keluar dan memasak makan malam.


Malam itu, kembali ia sendiri. Menikah, tapi seperti masih dulu. Kesepian. Chanel TV tak ada yang menarik buatnya. Akhirnya, ia masuk dalam kamar dan mulai berkutat dengan laptopnya untuk mengerjakan tugas skripsi dan beberapa tugas kantor.


Jam menunjuk pukul 11.30. Juana menyimpan semua pekerjaannya dan menutup laptop. Masuk kamar mandi menyikat gigi dan membersihkan diri, berdoa lalu pergi ke alam mimpi.


Seperti biasa, setelah bangun pagi, berdoa dan membersihkan diri, Juana pergi ke dapur dan memasak. Ditatanya semua makanan di atas meja makan dan mulai membersihkan dapur dan seluruh apartemen. Ia menikmati sarapannya seorang diri. Lagi.


" Ternyata, janjimu palsu, kak." Gumam Juana. Air matanya mengalir deras. Tak mampu lagi tenggorokannya menelan makanannya. Juana mengemas makanannya untuk makan siang nanti. Pagi ini, perutnya tak mampu mencerna makanan dan mubazir jika harus dibuang.

__ADS_1


Itu hari ketiga setelah pernikahan dan tak ada seperti yang Radit katakan, "berusaha untuk membuka hati untuknya". Tapi, Juana masih terus bersabar. Bila cinta telah menguasaimu, tak ada kesulitan yang takkan mampu kau lewati.


Tapi apakah kesabaran seorang manusia tiada batasnya? Entahlah. Sekokoh-kokohnya sebuah batu, ia akan pecah juga jika setiap hari air mengguyurnya tiada henti.


__ADS_2