Bila Cinta

Bila Cinta
Aldo Menemui Radit


__ADS_3

Pagi itu kantor Radit begitu hening. 2 orang laki-laki duduk di sofa tanpa berbicara setelah saling sapa beberapa menit lalu.


Tok...tok


" Masuk!"


Sekretaris Radit masuk dan membawa nampan berisi minuman. Sesaat mata tamu Radit bertemu dengan mata Alina. Keduanya sempat terkejut. Radit menyadari kalau keduanya saling mengenal.


" Mas Aldo, mas kenal sama Alina?" Selidik Radit. Aldo menjadi salah tingkah karena pertanyaan Radit. Tak terkecuali sekretaris Radit itu.


" Ehm, sa-saya permisi dulu, pak," pamit Alina lalu segera berbalik dan keluar ruangan Radit.


Aldo menatap kepergian Alina dengan ekspresi yang susah diartikan. Radit menjadi semakin curiga dengan sikap keduanya.


" Mas, mas Aldo?" Panggil Radit. Aldo tersadar dan memalingkan wajahnya pada Radit.


" Ehm...mas kenal Alina di mana?"


" Eh...itu..aku..aku gak sengaja aja ketemu di mall. Sudah lama dia kerja di sini?" Tanya Aldo mengalihkan pembicaraan


" Sekitar 2 tahunan, mas. Oh, ya...tentang keperluan mas ke sini?"


" Ah...Dit, aku mau tanya sama kamu... Apa kamu beneran dah cerai?"


Radit terdiam. Senyum kecut menghias bibirnya.


" Iya, mas. Mas tahu dari mana?"


" Apa alasanmu bercerai karena Lia?" Tanya Aldo lagi tanpa menjawab pertanyaan mantan calon adik iparnya dulu itu.


" Gak, mas. Aku sama Juana memang gak saling cinta," jawaban yang tak sepenuhnya sesuai kondisi hatinya saat ini.


" Baiklah. Jadi, kalian memang sepakat cerai? Bukan karena Lia?" Selidik Aldo

__ADS_1


Radit tak langsung menjawab ia masih ingat bagaimana surat gugatan Juana disodorkan padanya pada malam terakhir ia bertemu gadis itu.


" Iya, mas. Juana sendiri yang ngajukan,"


" Lalu, apa rencanamu sama Lia? Apa kalian mau nikah?"


" Iya, mas. Tapi...aku masih harus ambil waktu buat ngomong serius sama papa mama," ujar Radit. Entah mengapa ketika ia mengatakan ini, ada rasa mengganjal di hatinya.


" Baiklah.Tapi, kamu juga harus bisa meyakinkan papa mamaku. Karna, mereka sepertinya gak setuju hubungan kamu sama Lia."


" Kenapa mas? Bukannya katanya mereka bakalan setuju, aku sama Lia nikah kalau aku sudah gak punya istri?"


Aldo menautkan alisnya. Ia tak mengerti maksud Radit. Orang tuanya sama sekali tidak pernah setuju kalau Lia dan Radit berhubungan lagi. Dulu, saat Lia bercerita kalau dirinya kembali berhubungan dengan Radit, mereka sangat menentangnya karena Radit sudah berkeluarga dan meminta Lia untuk tidak pernah mengganggu Radit lagi. Tapi, Orang tua Lia juga tidak pernah berkata seperti yang Radit katakan.


" Maksudmu?" Tanya Aldo. Matanya menatap tak mengerti pada Radit


" Ya, Lia cerita kalau papa mamanya gak setuju karna aku masih punya istri. Tapi, mereka bakalan kasih restu kalau aku sudah sendiri," cerita Radit.


Aldo mengusap kasar wajahnya. Ia sangat kecewa pada adiknya, Lia. Ia tak menyangka, demi mendapatkan Radit, Lia sampai berbohong seperti itu.


" Orang tuaku memang gak pernah setuju kalian berdua ada hubungan lagi, karena kamu sudah punya istri. Tapi, bukan berarti mereka akan setuju karena kamu sudah bercerai" Jelas Aldo.


Radit mengeryit masih belum memahami sepenuhnya.


" Maksud mas Aldo, orang tua mas Aldo gak akan setuju kalau aku sama Lia menikah?"


Aldo mengangguk. Radit berdiri dan berjalan menuju jendela besar menatap langit.


" Jadi, Lia bohong sama aku, mas? Dia bilang sama aku, kalau orang tuanya bakalan setuju kalau aku sudah gak punya istri," ucap Radit, matanya terpejam.


" Radit, jadi benar...kamu bercerai karna adikku, kan? " Tanya Aldo oada Radit yang memunggunginya


" Karna aku juga gak cinta sama Juana, mas. Aku hanya anggap dia adikku. Aku yang maksa dia buat nikah sama aku, karna Lia...dia pergi ninggalin aku buat nikah sama Bram. Aku seneng banget waktu ketemu Lia trus dia bilang kalau dia diusir sama Bram trus cerai'in dia. Aku yang ngawali balikan sama Lia, mas. Jadi, gak sepenuhnya salah Lia. Aku sama Juana gak pernah sekamar sejak menikah.."

__ADS_1


Aldo terhenyak mendengar itu. Tak ada lagi kata-kata yang sanggup ia keluarkan.


"Dit, aku gak bisa ngomong apa-apa sama kamu. Yang jelas, kalau kamu mau nikah sama Lia, banyak yang harus kamu hadapin. Dulu sama sekarang itu beda, Dit," kata Aldo. Radit berbalik dan menatap Aldo


" Maksudnya, mas?"


" Persetujuan mama papa...bakalan sulit kamu dapetin. Tapi, kalau kamu sudah dapat, aku harap kamu bisa jaga pernikahanmu dengan baik. Aku pamit." Aldo berdiri dan menyalami kekasih adiknya, yang walaupun sebenarnya ia juga menentang hubungan mereka. Bukan tanpa alasan.


Penyesalan karena berkhianat sudah ia rasakan saat ini. Wanita yang mengisi hidupnya dengan tawa dan ketulusan sudah tak ada lagi disampingnya. Dan putra yang baru saja dilahirkan istrinya dengan susah payah, entah kapan dapat ia temui lagi.


Kesalahannya yang menghianati sang istri saat wanita yang ia nikahi selama 2 tahun itu mengandung buah cinta mereka, tak dapat ia tebus. Mertuanya telah membawa pergi istri dan putranya entah kemana. Semua akses dirinya untuk bertemu telah tertutup.


Radit memandang kepergian Aldo dengan banyak pertanyaan tercetak dibenaknya.


Juana mengisi hari-harinya dengan tekun belajar bahasa Belanda dan buku-buku tebal tentang Hukum Internasional. Ya, Juana mengalihkan jurusannya ke hukum Internasional. Ia bertekad untuk tidak kembali ke Indonesia dan berkarir di sini, di Belanda.


" Na! Makan malam dulu!" Panggil Sofia.


" Iya! Bentar!" Juana menutup bukunya, melepas kacamata medis yang dapat membantu matanya tak terasa lelah dan sakit karena banyak membaca dan melihat layar komputer. Kacamata itu hadiah Darren, saat ia kembali dari perjalanan bisnisnya ke Jerman.


Juana berlari menuruni tangga. Rumah Darren dan Sofia adalah rumah dengan gaya klasik Belanda



" Oh..wow...menunya.." Puji Juana. Lidah Juana sudah menjilat bibirnya dengan kedua tangannya ia gosok-gosokkan, siap untuk menyantap. Sofia tersenyum melihat sikap Juana yang seperti anak kecil.


Setelah Sofia duduk dan mereka bersama berdoa mengucap syukur buat sarapannya, mata Juana kembali menjelajah semua menu yang Sofia siapkan. Ada Hete bliksem, kentang rebus dan apel hijau, disajikan dengan "stroop" atau sirup.


Ada juga menu Hutspot yaitu sayuran yang dihaluskan swperti wortel, buncis, kentang dan bawang bombay. Sayuran tersebut kemudian akan dicampurkan dengan daging yang sudah dimasak sebelumnya


Yang menjadi favorit Juana adalah Erwtensoep atau Snert atau sup Ercis. Sesuai nama menu dan bentukan asli dari sup ercis ini maka bisa dikatakan menu masakan yang satu ini lebih mirip dengan bubur.


Karena masakan yang satu ini sangat kental dengan warna yang kadang kecoklatan atau kuning kehijauan. Dengan bahan dasar utama yaitu kacang ercis. Bahan lain yang ditambahkan adalah wortel, daging ayam atau sapi, kentang, kadang juga ditambah jagung manis dan juga perasan jeruk nipis.

__ADS_1


" Na, gimana belajarmu? Ada kesulitan?" Tanya Sofia di tengah-tengah makan malam mereka.


__ADS_2