Bila Cinta

Bila Cinta
Bertemu Kembali


__ADS_3

Radit sudah selesai dengan draft yang akan dia pakai untuk proposal ke perusahaan Valcon. Ia menekan tombol interkom dan memanggil asistennya.


" Gas! Ini draft untuk proposal ke Valcon. Tolong kamu rapikan dan print. Kita berangkat jam 10.30," titah Radit


" Baik, pak,"


Bagas berbalik dan meninggalkan kantor Radit. Setelah kepergian Bagas, Radit mulai menyeleksi beberapa design bangunan untuk pembangunan Mall baru di daerah Bekasi.


Walaupun kini perusahaannya bukan lagi sebagai kontraktor utama pembangunan Mall itu, tapi ia tetap seprofesional mungkin mengerjakannya.


Drrtt...drrt...


" Hallo!" sapa Radit tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


" ....... "


" Dengar Lia, aku bukan suamimu dan Raina bukan putriku! Jangan pernah kau hubungi aku lagi!" bentak Radit dan menutup ponsel secara sepihak


Ya, Lia dan Radit sudah berpisah 6,5 tahun yang lalu. Setelah ia mengalami kebangkrutan, Lia meninggalkannya dan tak membawa Raina.


Tapi, karena Raina terus saja menangis dan ia mendapat informasi dari Bram, akhirnya Radit mengirim Raina ke rumah keluarga Lia.


" Wanita sialan itu, menghancurkan moodku saja, huh!!" umpat Radit


Juana bersiap untuk membawa Anaknya, Dennis, jalan-jalan sebelum hari berikutnya ia akan memulai rencana besarnya merebut haknya dari orang-orang tamak seperti Ayahnya.


" Dennis! cepatlah, sayang. Ini sudah siang." panggil Juana dari ruang tamu.


" Iya, Maaa!"


Dennis berlari turun dan menuju ruang tamu.


" Kamu ngapain tadi kok lama, sayang?" tanya Juana seraya menggandeng tangan Putranya.


" Dennis masih cari tas Dennis ini, Ma,"


" Ooh, kenapa gak minta tolong Mama atau Mbok Minah?"


" Dennis kan juga bisa, Ma,"


Juana tersenyum bangga," Uuhh ... Anak Mama memang pintar!" puji Juana dan mengacak rambut Dennis.


Anak laki-laki berhidung mancung itu, tersenyum senang mendengar pujian Mamanya.


" Ma, kita nanti habis makan siang terus main ke Time Zone, ya? di sana ada Time Zone, kan?" cerocos Dennis saat mereka sudah berada di dalam mobil.


" Hahaha ... pasti ada, Nak. Nanti cari sama-sama, ya?" kata Juana. Dennis mengangguk senang.


Jam sudah menunjuk pukul 11 ketika mereka sampai di Mall tempat para artis Indonesia biasa nongkrong.


" Kita makan dulu, ya. Dennis sudah lapar, kan?" tanya Juana. Dennis mengangguk.

__ADS_1


Setelah browsing resto dan cafe yang enak dan terdekat, Juana menggandeng Dennis naik melalui eskalator.


Juana mengikuti petunjuk dari GMap di ponselnya. Setelah mendengar suara pemberitahuan ia sudah sampai, Juana mendongak dan melihat Cafe di sebelah kanannya.


" Hmm ... sepertinya boleh juga. Ayo, sayang!"


Juana dan Dennis mengambil tempat duduk di dekat jendela Cafe. Setelah mereka lebih dulu mencuci tangan di washtafel Cafe


Dennis memesan Spaghetti dan mencoba minuman Cincau. Sedangkan, Juana, ia memesan Steak Daging dan Teh Lemon.



Setelah 5 menit menunggu, pesanan mereka datang dan segera melahapnya.


" Ma, setelah ini kita ke Time Zone, ya?" pinta Dennis


" Iya, sayang,"


Dennis selesai dengan makanannya. Saat dilihatnya sang Mama telah selesai juga, ia minta ijin untuk cuci tangan dan diangguki Juana.


Wanita itu mengecek ponselnya ketika seseorang memanggilnya,


" Ju-Juana?"


Juana mendongak dan terkesiap. Ia tak menyangka akan langsung bertemu di sini.


" Kak Radit? ... hallo kak, apa kabarnya?" sapa Juana tenang lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. Radit melihat tangan Juana yang terulur padanya, ia menyambutnya perlahan. Juana segera menarik tangannya setelah menjabat tangan mantan suaminya itu


" Oh, tidak kak. Aku kuliah dan kerja di luar," jawab Juana dengan senyum.


" Kau sendirian?" tanya Radit, tapi ia melihat ada dua piring kotor di atas meja Juana.


" Mamaa! Dennis sudah selesai. Sekarang ayoo ..." rengek Dennis dalam bahasa Belanda, menarik tangan Juana. Radit terkejut mendengar anak laki-laki itu memanggil Juana.


" Iya, sayang. Sebentar," Juana mengangkat tangannya memanggil pelayan


" Mas, minta bill-nya, ya?" kata Juana


" Baik, sebentar, bu," sahut pelayan itu.


" Maaa ... ayo cepat .." rengek Dennis lagi


" Iya ... iya, sayang. Ah, Dennis. Ini kenalkan teman mama dulu. Namanya Om Radit. Ayo, kasih tangan dulu," kata Juana seraya menunjuk pada Radit.


Deg


' Teman mama dulu' kata-kata itu yang ditangkap Radit saat ini. Hatinya terasa seperti teriris


" Hallo Om, saya Dennis," sapa Dennis dengan bahasa Indonesia yang berlogat bule.


Radit mengangguk ke arah Dennis, " I-iya ... hallo, Dennis," jawab Radit lalu mengalihkan tatapannya pada Juana.

__ADS_1


" Na, k-kau sudah menikah?" tanya Radit dengan tangan yang sudah terkepal.


Juana hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Radit.


" Mamaaa ..." rengek Dennis.


" Kak, maaf, aku pergi dulu. Anakku sudah mulai manjanya. Permisi ya, kak," pamit Juana pada Radit. Tangan Juana sudah diseret anak kecil berkaos hijau dan celana selutut dengan sebuah tas ransel di punggungnya.


Radit menatap kepergian Juana dengan sendu. Hatinya begitu sakit ketika ia melihat Juana sudah memiliki anak. Bahkan, Juana tak menyangkal kalau dirinya sudah menikah.


" Kau ... bukan milikku lagi, Na ..." lirih Radit. Ia berjalan gontai, keluar dari Cafe itu.


Kesuksesan proposalnya tak lagi membawa senyum dan kebahagiaan di hatinya. Hatinya terasa perih melihat Juana dan Putranya begitu bahagia. Kebahagiaan dimana tidak ada dirinya di dalamnya.


" Pak!" panggilan Bagas asistennya, membuyarkan lamunannya.


" Kenapa, Gas?"


" Kita sudah sampai, Pak," sahut Bagas


Radit melihat sekelilingnya, ia kini sudah berada di depan kantornya.


" Hmm, baiklah. Ayo!" Radit keluar dari mobil segera masuk ke dalam kantornya yang kini hanya terdiri dari 2 lantai.


" Gas!" panggil Radit, saat asistennya itu hendak keluar ruangan Raditya


" Aku ... sudah bertemu Juana," kata Radit. Bagas terkesiap mendengarnya.


" Pak? apa ... Bapak benar bertemu Bu Juana?" tanya Bagas. Ia takut Atasannya mengalami halusinasi.


" Apa kau pikir aku halu?" tanya Radit dan menatap tajam pada Bagas


" Ah, ehm ... maaf, Pak" sahut Bagas


' Kok tahu aja sih, aku mikir gitu,' gumam Bagas dalam hati


" Tapi ... dia sudah menikah lagi dan ..."


Bagas mengangkat alisnya menatap Radit. Ia melihat kekecewaan yang begitu jelas di wajah bosnya itu.


" Dan ... apa, Pak?"


" Dan dia juga sudah punya Anak. Namanya Dennis,"


Bagas menghela nafas dan menunduk. Ia mengerti kepedihan laki-laki tampan didepannya itu.


" Pak, Bu Juana sudah move on. Kini, saatnya Bapak juga melanjutkan hidup. Pak Raka sudah menikah dan memiliki seorang putri. Sekarang, saatnya Bapak juga," saran Bagas.


Radit tersenyum kecut. Ia tak memiliki tujuan hidup saat ini. Perusahaannya sekarang hanya mampu menjadi sub-kontraktor kecil yang mengharap jatah proyek dari perusahaan-perusahaan besar. Orangtuanya sudah tak begitu memperhatikannya.


Raka, adik kandungnya tak begitu dekat dengannya dan seperti orang asing, karena dulu ia sendiri yang menjauhkan diri dari adiknya yang sakit-sakitan itu, karena Lia tak mau Radit membagi perhatiannya dengan siapapun termasuk adiknya.

__ADS_1


Tak ada lagi yang tersisa. Anak yang sedianya menjadi penghibur laranya, ternyata bukan darah dagingnya. Menikah lagi? Ia tak ada keyakinan ke sana.


__ADS_2