
Belum sempat Lin Mei menekan nomor anaknya, suara Merlita mengejutkannya.
" Mama! Hehehe..." panggil Merlita dengan cengirannya. Lin Mei membuang nafas kasar. Sementara papanya hanya menggelengkan kepalanya.
" Kamu itu dari mana aja? Papa mama jadi kuatir..." Tegur Darwin yang dibalas cengiran konyol Merlita sambil memeluk mamanya. Mata Darwin mengedar kesana kemari seperti mencari sesuatu.
" Lho, Juana mana, Mer?"
Seketika Merlita melepas pelukannya dan ikut menjelajah sekeliling lobby bandara. Mode panik mulai on. Ia segera menekan nomor ponsel Juana. Tak ada jawaban. Ia terus mencoba beberapa kali, tap kali ini operator yang menjawab.
" Pa, gimana ini?
"**Perhatian, panggilan terakhir bagi para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Sorong dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12."
"Your attention please, final call for passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Sorong please boarding from door A12, Thank you**"
" Aduh, kamu dimana sih, Na? Angkat dong teleponnya," gerutu Merlita cemas. Kedua orang tua Merlita gelisah. Tak mungkin Juana pergi tanpa pamit sementara tas ransel dan koper Juana masih berada bersama mereka.
" Mahfud! Tolong segera cari keberadaan nomor ponsel yang aku kirim ke kamu, Sekarang!" terdengar papa Merlita memberi perintah bawahannya untuk segera mencari Juana lewat ponselnya.
" Pa, apa kita ke bagian informasi dulu, ya?" saran mama Merlita. Papa Merlita mengangguk cepat dan segera berlari menuju ruang informasi.
" Pak, maaf tolong panggilkan anak bernama Amanda Juana agar segera ke gate A12. Tolong cepat ya, pak." Pinta Darwin.
" Baik, pak" Sahut petugas bandara itu sopan.
ting..tung..
" Mohon perhatian, panggilan ditujukan kepada Nona Amanda Juana, mohon segera menuju gate A12 karena sudah ditunggu keluarganya. Sekali lagi, kepada Nona Amanda Juana, mohon segera menuju gate A12 karena sudah ditunggu keluarganya. Terima kasih."
5 menit
6 menit
7 menit
10 menit
Tak ada tanda-tanda Juana. Pikiran Merlita mulai negatif.
" Apa ini ulah om Hermawan? Apa dia tahu kalau Juana mau pergi sama aku? Ato... ah... gak mungkin kalo kak Radit. Tadi pesawat ke Batam udah take-off kok," gumam Merlita.
ting
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia mengingat ketika ia datang mengunjungi kontrakan Juana, karena Juana tidak kuliah dan tidak merespon panggilan teleponnya. Dari jendela ia melihat kamar kontrakan Juana berantakan seperti habis di rampok. Ia mengetuk dan memanggil nama Juana berulang kali, tapi tak ada jawaban.
" Pa! Apa ini ada sangkut pautnya sama orang yang bikin kontrakan Juana berantakan, ya?" Kata Merlita. Mata papa dan mama Merlita membulat.
" Apa kamu bilang? Kapan kejadiannya?" Tanya Darwin.
" Ehmm... kalo gak salah 2 minggu lalu deh... kontrakannya berantakan kayak habis dirampok gitu. Tapi Juana gak cerita apa-apa aku juga lupa mau nanya. Aku kesana tapi Juananya gak ada pa." Jelas Merlita.
Keterangan dari Merlita membuat kedua orang itu semakin cemas.
Kriinggg...kriinggg...
" Hallo!" Sambar Darwin cepat ketika ponselnya berbunyi.
" Tuan, terakhir sinyal berhenti di kawasan Tol Airport. Setelah itu tidak ada lagi. "
" Apa?!... Cepat kau cari lokasi nomor ponsel Hermawan Budiarto dan Nadia Kusuma!" Tanpa menunggu jawaban, Darwin segera memutus sambungan teleponnya.
" Kita pulang! Aku yakin Juana diculik." Kata Darwin sambil mendorong troli keluar dari bandara. Perjalanan ke Raja Ampat akhirnya urung.
Mereka segera menaiki taksi. Suasana hening. Darwin menunggu telepon asistennya. Sementara Merlita, diam-diam menanyakan keberadaan Juana pada Radit.
triingg...
" Bukannya tadi sama kamu? "
Merlita lemas. Bingung. Panik. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
" Kak Radit!" lirihnya.
" Hallo, kak!" Sapa Merlita
" Bukannya tadi Juana sama kamu. Kok kamu malah nanya aku?"
" Iya kak, terus dia ngilang. Aku sama papa mama nyari dah sejam lebih belum ketemu. Ini kita lagi otw balik Jakarta. Maaf, kak. Aku kira tadi kakak tahu."
" Aku balik Jakarta. Hubungi aku kalau kamu dapat kabar!"
Tut..tut*..
Sambungan telepon terputus.
" Siapa, Mer?" Tanya Darwin.
__ADS_1
Merlita menoleh melihat orangtuanya yang duduk di jok belakang.
" Oh, kak Radit, pa. Sahabat Juana juga."
Darwin hanya mengangguk. Ia masih cemas dengan Juana.
Sementara itu, gadis yang membuat Merlita sekeluarga dan Radit cemas, meringkuk diatas tempat tidur lamanya di mansion milik keluarganya.
Air bening mengalir disudut matanya. Betapa terkejutnya Juana, saat di bandara hendak kembali menyusul Merlita, beberapa orang menyeret paksa dirinya dengan ancaman akan melukai bi Sumi dan suaminya, jika ia melawan. Juana tak habis pikir. Setelah semua yang telah ia lakukan, merelakan haknya atas kekayaan Bundanya, Ayah dan ibu tirinya masih saja mengusiknya.
" Ijasah, Akte... Apa Ayah mau melenyapkan jejakku agar tak ada bukti bahwa aku putri kandung Bunda?" gumam Juana. Ia terduduk ketika kemungkinan itu terlintas di benaknya.
" Ayah, sebegitu penting harta buat Ayah?" Air mata kembali mengalir. Ia menatap pintu kamarnya yang terkunci. Perutnya sudah meronta minta diisi. Tapi tak mungkin ia meminta makan di rumah ini.
" Aku harus cari cara keluar dari sini. Tapi gimana bi Sumi sama pak Man kalau aku kabur?" Juana terus memutar otaknya. Ia akan mengajak bi Sumi dan pak Man kabur bersamanya.
Juana berjalan ke arah jendela kamarnya. Ngeri juga kalau dia meloncat. Karena kamarnya ada di lantai 2.
klik
" Juana!" suara baritone itu lagi. Juana tak memalingkan wajahnya, ia tetap memandang keluar jendela.
" Katakan dimana akte dan ijazahmu, setelah itu Ayah akan melepasmu." Bujuk Hermawan. Juana tertawa membuat Hermawan heran.
" Kenapa? Apa Anda takut kalau saya akan mengambil harta Bunda?" Sahut Juana dengan senyum seringainya berbalik melihat Hermawan yang menggertakkan giginya geram. Anaknya ini memang pintar.
" Hahaha... kau tahu apa? Hmm? Kau serahkan atau Ayah akan buat beasiswamu dicabut!" Ancam Hermawan.
" Oh, silahkan Anda coba! Dan berita tentang Anda dan keluarga Anda akan tersebar saat itu terjadi." Tanpa takut Juana menatap tajam laki-laki yang masih saja menganggap dirinya adalah seorang Ayah.
" Kau!"
" Ya, apa Anda pikir saya orang bodoh yang dapat Anda perlakukan seenaknya? Sejak kejadian Anda mengobrak abrik kontrakan saya, semua informasi tentang Anda sudah berada di tangan yang tepat. Yang tentu saja akan tersebar, jika dalam waktu 2x24 jam, saya tidak memberinya kabar."
Sontak muka Hermawan memerah mendengar itu. Ia tak menyangka bahwa putrinya sangat cerdik. Dia lupa, bahwa putri yang dulu selalu manja padanya, saat ini sedang belajar tentang hukum dan banyak mempelajari kasus dan psikologi.
Akhirnya, Juana pun berhasil keluar dari mansion itu. Ia berjalan menyusuri jalan yang mulai sepi. Tak lama, sebuah mobil menepi di sampingnya. Juana bersiap untuk mengambil langkah seribu. Tapi sebuah suara menghentikannya.
" Non Juana!"
Juana menoleh, dan di sana sopir setia keluarganya, pak Man datang dan menghampirinya.
" Non, tolong jaga diri non. Saya dan bi Sumi juga akan pergi. Saya cuma mau pamit saja, non. Sekarang saya kembali dulu. Saya tadi cuma pamit isi bensin. Sudah ya, non. Lain kali jangan non jadi lemah karena kami. Ya?"
__ADS_1