Bila Cinta

Bila Cinta
Hari Pertama Setelah Menikah


__ADS_3

Setelah mengecek semua yang ada di dapur, Juana mencatat semua apa yang diperlukannya. Ia mengambil tasnya dan berangkat. Tujuannya kali ini adalah supermarket.


Di supermarket, Juana berjalan kian kemari mencari peralatan dapur yang ia butuhkan. Ia tak berbelanja bahan-bahan masakan di sini. Kebiasaan seorang Juana, ia harus berhemat. Suaminya memang memberikannya uang, tapi ia tak ingin menggunakannya sebelum suaminya itu benar-benar menerimanya sebagai istri.


Setelah menemukan ia perlu, Juana begegas berjalan ke kasir dan membayar semuanya. Hal kecil yang membuat Juana sedikit bahagia. Berbelanja untuk keperluan ruamh tangga.


Matahari mulai turun saat ia selesai berbelanja di supermarket. Tanpa mengambil banyak waktu, Juana memesan ojek online yang akan membawanya ke apartemen. Ia tak mungkin membawa semua peralatan yang ia beli ke pasar tradisional.


Sedikit kesulitan memang saat ia harus menumpang ojek dengan banyaknya belanjaan. Tapi, untunglah akhirnya semua bisa diatasi. Tukang ojeknya begitu baik untuk membantu menatanya diatas motor. Sampai di apartemen, Juana segera menaruh peralatannya dan beranjak pergi ke pasar tradisional.


Ojek online sudah menunggunya dibawah. Segera ia naik motor yang membawanya ke pasar tradisional. Sepasang mata memperhatikannya dengan seksama dan mengikutinya.


Sampai di pasar tradisional, lengan Emy ditahan seseorang.


" Na!" Panggil wanita itu


" Mer!"


" Ngapain lo sendirian di sini? Naik ojek lagi. Mana suami lo?" Rentetan pertanyaan memberondong Juana.


" Ya, mau belanjalah. Masa' mau jogging. Suami gue kerja jadi ga bisa nemenin."


" Ini hari pertama lo jadi istrinya dia, trus dah kerja ninggalin lo sendiri?! Eh, Na. Elo itu kebangetan baiknya ato ****' sih?!" Emosi Merlita kembali memuncak.


" Ya, biarin aja deh. Lagian kita kan menikah memang tanpa cinta juga."


" Iya, tapi gak segitunya kali, Na. Yang maksa minta nikah kan dia, bukan lo!"


" Udahlah, mau ngapain lo di sini?"


" Ck...kebiasaan ngalihin pembicaraan. Tadi mau ke rumah sepupu gue di Dharmawangsa. Terus ga sengaja liat lo. Ya... gue ikutin aja."


" Lo gak jijik becek-becek sama gue di sini, hmm?"


" Lo aja kagak, ngapain gue jijik...ayo!" Ajak Merlita.


Pakaian, sepatu dan tas branded Merlita menjadi perhatian semua orang yang ada di pasar tradisional itu.


" Mer, lo jauhan gih sana." bisik Juana


" Lho, emang kenapa?"


" Kalo tuh tukang sayur liat elo, bisa-bisa dia naikin harganya. Rugi di gue dong, nyah!" Jelas Juana panjang lebar.

__ADS_1


" Gue yang bayar!"


" Bener, ya?!" Tantang Juana


" Iya, siapa takut!" Ujar Merlita menepuk dada. Juana hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.


Keduanya berbelanja tanpa takut kotor dan becek. Kalau Juana dia sudah terbiasa. Tapi, Merlita, ini pertama kali buatnya menginjakkan kaki di pasar seperti ini. Tapi tak ada rasa enggan untuknya berbaur bercengkerama dan bahkan ikut memilih sayur, daging dan buah.


" Na, ini dah jam 4. Suami lo pulang jam berapa?" Tanya Merlita tiba-tiba.


" Dia bilang gak usah nungguin dia pulang. Mungkin... Kak Radit gak pulang malam ini." Sahut Juana dengan senyuman tipis dan getir.


" Whattt???!" Teriak Juana, hingga menarik perhatian pengunjung di sana.


" Sstt!! Apa'an sih, Mer. Tuh, liat! Mereka ngliatin kita. Ish... malu-maluin aja lo!" Juana berjalan cepat meninggalkan Merlita. Ia tak mau sahabatnya terus menginterogasinya.


" Hei, Na! Tungguin gue dong!" Teriak Merlita. Juana berhenti dan tersenyum melihat Merlita kesulitan melewati jubelan orang berbelanja yang tiba-tiba saja berkumpul di depan stan penjual daging ayam yang terkenal murah.


" Fuh... kok tiba-tiba banyak banget yang beli disitu," tunjuk Merlita.


" Ya, soalnya penjualnya itu gak sama kayak yang lain. Dia jujur gak nipu timbangan, terus harganya juga gak nyekik kayak penjual lain." Jelas Juana. Ia juga sedang mengantri membeli di situ. Penjual ayam sangat kenal dengan Juana karena ia langganan beli padanya.


" Habis ini beli apa lagi?" Tanya Merlita.


" Gue laper. Ntar kita mampir makan di warung Mang Somad, ya?" rengek Merlita. Juana tersenyum dan menggeleng. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Tadi selama belanja, ia sudah membeli jajanan pasar dan memakannya habis. Sekarang, bilang lapar lagi.


" Oke. Dasar perut karet!" Goda Juana. Bibir Merlita mencebik, membuatnya terlihat lucu.


" Eh... Mbak Juana! Beli berapa kilo?" Sapa penjual ayam ramah


" Iya, bu. 2 kilo ya, bu. Buang kulit," Pinta Juana dengan senyum manisnya. Dengan cekatan penjual itu membersihkan ayam yang diminta Juana.


" Makasih, bu." Ucap Juana


" Sama-sama, mbak Juana. Datang lagi, ya!" seru si penjual.


" 👌siap,bu!" Kata Juana dan meninggalkan tempat itu bersama Merlita yang sudah menariknya.


Keduanya segera masuk ke dalam mobil Merlita dan tak mengambil waktu lama, wanita itu menancap gas mobilnya menuju warung langganan mereka, Warung Mang Somad.


Warung sederhana yang terletak dekat kampus mereka itu sangat bersih dan menjual makanan yang pas di lidah keduanya.


" Maaanggg!" Teriak Merlita dan Juana berbarengan.

__ADS_1


Seorang laki-laki setengah baya yang sedang melayani pelanggan lain menoleh dan tersenyum senang. Ia sudah hafal dengan kedua gadis itu.


" Nak Juana, nak Merlita. Ayo, duduk sini!" Mang Somad membersihkan meja dan tempat duduk dekat jendela di warungnya yang menghadap jalan raya.


" Hehehe... makasih Mang!"


" Makasih, pak bos!"


Seru Juana dan Merlita bergantian.


" Biasa, kan?" Tanya Mang Somad.


" Iyappp!"


" ok!"


Tak lama menu kesukaan mereka datang. Oseng jengkol udang, oseng sayur kangkung, Nila goreng. Mata kedua gadis itu berbinar. Mereka menggosok-gosokam tangannya, siap untuk meyantap. Dan... ya, hanya dalam 15 menit ludes semuanya tak bersisa.


" Ahhh... kenyaanggg!" Seru Merlita puas seraya bersandar pada kursi.


" Mang, masakan Mamang tambah enak aja, sih?"


Mang Somad terkekeh melihat kelakuan kedua gadis itu. Duduk bersandar dan selonjor kaki sambil mengelus perut mereka.


" Mang, kami pergi, ya!" Merlita meletakkan uang 200 ribu di meja dan melambai meninggalkan warung sederhana itu bersama Juana.


" Makasih, Mang!" Teriak Juana. Pemilik warung tersenyum lebar dan ikut melambai.


Berkendara selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di lobby apartemen mewah itu. Juana mengambil belanjaannya dari bagasi mobil Merlita. Dengan bantuan sahabatnya, Juana membawa belanjaanya masuk ke apartemen, tempat ia dan Radit tinggal.


Brukk...


" Na, belanjaannya gue taruh sini!" ujar Merlita dan diangguki Juana yang saat masuk langsung megeluarkan belanjaan peralatan tadi dan mencucinya.


" Na, lo yakin bakal nerusin ini?" Tanya Merlita di sela-sela ia membantu Juana mengelap panci dan berbagai macam peralatan yang Juana cuci untuk dimasukkan dalam laci kabinet dapur.


" Maksud lo?"


" Ya, hidup sama orang yang gak cinta sama lo!"


Juana tersenyum dan mengangguk. " Gue udah janji di hadapan Tuhan, Mer. Gak berani gue mau langgar." Ada kepasrahan di setiap nada ucapan Juana. Merlita meletakkan lapnya dan memeluk sahabatnya itu.


" Bilang sama gue, kalo lo dah gak kuat, hmm?" Ucap Merlita. Juana memegang lengan sahabat sekaligus saudara itu dan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2