Bila Cinta

Bila Cinta
Tidak Membenci


__ADS_3

'Aku memang mencintaimu dari aku kecil, kak' batin Juana. Tapi ia mengeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum paksa, sambil menunduk dan mengotak ngatik lagi ponselnya.


"Kak, makanya, jangan keseringan cari aku. Kak Lia tuh yang harus kakak banyak-banyakin kasi waktunya." Saran Juana sambil membereskan buku-bukunya yang ia taruh di atas bangku di antara ia dan Radit.


"Ya -elah, aku kan ketemu kamu bentar banget, jarang lama, gak setiap hari. Palingan kasi kamu tumpangan sekali dua kali, itupun gak tiap hari or tiap minggu, An. Aku dah jarang kan ngajak kamu makan bareng ato jalan bareng,"


Ya, sejak Radit berpacaran dengan Lia, Radit menjaga jarak dengan Juana. Ia tak mau kekasihnya cemburu dan berpikiran negatif. Tapi Radit tidak memutus begitu saja persahabatannya dengan Juana, ia hanya sesekali bertemu di kampus itu pun tak lama. Kadang ia mengantar Juana pulang, tapi dengan Lia di sampingnya. Namun sepertinya, itu tak cukup bagi seorang Lia.


Lia berasal dari keluarga yang sederajat dengan Radit. Sifat manja dan egois melekat, karena ia adalah putri dan adik perempuan satu-satunya. Ia punya 2 orang kakak laki-laki. Kakak yang pertama telah menikah dan dikaruniai 1 orang putra, sedang kakaknya yang kedua, masih bertunangan dengan seorang selegram.


Tak jarang Juana mendapat makian dan ejekan Lia karena kedekatan Radit dan Juana. Tapi Juana tak pernah menanggapi. Toh, Lia ada benarnya, walaupun sama sekali ia tak ada niat untuk berusaha memiliki Radit, karena baginya, melihat orang yang ia cintai bahagia, sudah membuatnya bahagia.


" Kak, tapi Lia mungkin masih gak bisa terima itu. Sudahlah kak, gak apa-apa kok. Daripada kalian terus bertengkar." Saran Juana.


" Tapi An, kamu itu adik aku. Aku sahabat kamu... Mama pasti sedih juga kalo aku gak jaga kamu."


" Kak, jangan kuatir, aku bisa jaga diri. Biar aku yang bicara sama Mama Dhea, ya?"


" Tapi An..."


" Sudahlah, kak. Aku gak mau kakak kehilangan cinta kakak hanya karena aku. Aku gak mau jadi adik yang merusak kebahagiaan kakaknya. Aku akan kasi kabar aku ke kakak lewat Mama, oke? Jadi jangan kuatir, ya?" Hibur Juana meyakinkan Radit. Walau hatinya tak rela jika tak bisa bercengkerama dengan Radit. Tapi ia tak mau egois. Ia harus mengalah demi kebahagiaan laki-laki yang ia cintai. Bersama dengannya, pasti akan mengikis kebahagiaan Radit, karena itu ia bersedia mengalah.


" Aku pergi dulu ya, kak. Aku mau cari Merlita dulu. Bye, kak!" Pamit Juana. Radit hanya bisa menatap kepergian Juana tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang dikatakan Juana benar. Tapi ia juga merasa sedih karena ia tak bisa lagi menjaga Juana sebagai kakak.


Drrrttt...drrttt...

__ADS_1


Benda pipih di saku Juana berdering. Melihat siapa yang meneleponnya, membuat Juana malas untuk mengangkat.


Drrrrt....drrrttt..


Lagi, ponsel Juana berdering. Juana mengacuhkan panggilannya. Ia tetap fokus dengan buku di tangannya.


" Ana, sayaaannnggg!" Juana menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia tersenyum, ia tahu suara itu. Merlita. Teman yang baru ia kenal saat pertama kali masuk kampus ini, tapi kini mereka seperti tak terpisahkan. Mereka menjadi sahabat yang saling menyayangi satu sama lain.


" Duh, cewek kok suka banget teriak-teriak, sih?!" gerutu Juana. Merlita tak menanggapi. lalu


Cup


Merlita mencium pipi sahabatnya, Juana menghapus ciuman itu dan begidik ngeri.


" eh, Maemunah! Kesambet lo?"


" Dasar lo!"


Keduanya terkekeh. Mereka terus berjalan ke arah kantin. Cacing-cacing di perut sudah berteriak minta jatah. Sampai di kantin, mereka memesan bakso dan Es teh, dan menikmatinya dengan lahap.


" Hei, Non! Ponselmu bunyi!" Merlita melihat ponsel Juana di atas meja bergerak karena dalam mode diam dan bergetar. Juana hanya melirik sebentar melihat siapa yang memanggilnya, lalu kembali menyeruput kuah baksonya.


" Na, lo masih gak mau ngomong sama bokap lo? Katanya lo gak benci, kok gak mau ngangkat sampe tuh ponsel gerah kali, Na, gerak terus gak lo angkat!"


" Gue malas aja. Dia minta gue nolongin Nita deket ama Kak Radit."

__ADS_1


" Whatt???"


" Hei, Tarzan! Demen banget teriak, lama-lama budeg gue deket sama lo!" Juana menggosok telinganya hingga memerah. Ya, bagaimana tidak? Merlita suka sekali berteriak walaupun ia ada di dekatnya. Bahkan, teriakan Merlita barusan membuat seisi kantin melihat ke arah mereka.


" Dih, trus kok gak ngejauh?"


" Ya, gimana lagi, nanti lo nangis-nangis, gak mau makan, gak mau mandi..."


" Cih, kepedean lo! Tapi kok bener ya? Hahahaha..." Merlita memeluk Juana yang memang duduk di sebelahnya. Beberapa kali ponsel Juana berbunyi, akhirnya Juana pun mengangkat panggilan itu.


" Hallo?" Sapa Juana


" Kemana aja kamu?! Di telepon bolak-balik gak diangkat! Kamu mau kurang ajar ya sama Ayah? Hah?!" Juana menjauhkan telinganya dari ponsel. Belum 1 hari, telinganya sudah menderita.


" Maaf, Ayah. Aku lagi ngerjakan banyak tugas yang harus segera aku kumpulin." Juana berbohong, karena ia sebenarnya malas kalau harus bicara dengan Ayahnya.


" Tugas! Tugas! Alasan aja kamu! Nanti pulang, Ayah mau ngomong!"


Tut...tut..


Panggilan terputus. Juana menyimpan ponselnya setelah me-nonaktifkan-nya. Ia tak mau berhubungan dengan keluarganya. Keluarga? Juana merasa dia sudah yatim piatu sejak kematian Bundanya. Ayahnya hanya peduli dengan 2 anaknya dari wanita yang katanya adalah istri pertama Ayahnya.


Hati Juana sakit ketika 2 bulan setelah kepergian Bundanya, seorang wanita dan 2 orang anak yang usianya beberapa tahun jauh lebih tua darinya, dibawa Ayahnya masuk kerumah peninggalan kakek Juana dari Bunda. Bahkan saat Juana mengamuk tak terima, Ayahnya justru berkata, kalau Bundanya-lah, yang menjadi orang ketiga. Dari penuturan Nadia, ibu tirinya, Ayahnya menikahi Bundanya, karena harta warisan Ayah sang Bunda.


Juana hanya bisa memendam semuanya dalam hati. Sejak itu, Juana menjadi pendiam tak mau berbicara dengan siapapun di dalam rumah itu. Ia mengalah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, karena Nadia tak memberinya uang. Ayahnya juga seperti tak peduli. Sejak usia 13 tahun, Juana mulai bekerja di toko alat tulis dan fotokopi. Saat ia berumur 15 tahun, Juana memberanikan diri melamar di sebuah mini market. Untunglah diterima walau hanya mengatur-atur barang. Setelah umur 17 barulah ia diangkat menjadi kasir.

__ADS_1


Ia menggunakan uangnya untuk membeli buku dan peralatan sekolah lainnya. Untunglah SPP masih dibayarkan oleh Nadia. Tapi Juana tahu alasannya. Karena Nadia tak mau Ayah tahu dan memarahinya. Umur 17 tahun, Juana membereskan barang-barangnya dan pamit untuk pindah ke kontrakan. Tak ada larangan yang keluar dari mulut Ayahnya. Juana menangis sepanjang jalan ke kontrakannya. Tapi, ia ingat pesan Bunda, untuk tidak membenci siapapun. Mengampuni adalah jalan untuk rejeki dan berkat itu mengalir.


__ADS_2