
Radit kembali disibukkan dengan banyak berkas yang menumpuk. 2 hari ia tak bekerja, segudang pekerjaan menantinya.
" Bagas! Ke ruangan saya sebentar!" Perintahnya pada asisten setianya lewat interkom.
" baik, Pak."
Beberapa saat kemudian, pintu ruangannya diketok seseorang.
" Masuk!" Serunya. Bagas membuka pintu dan kembali menutupnya
" Ya, Pak?"
" Bagaimana dengan Linxia? Kau sudah berhasil membuat janji?" Tanya Radit
" Maaf, pak. Tapi, menurut informasi dari mereka, Direkturnya tidak bersedia. Karena ia masih disibukkan dengan proyek perumahan dan perhotelan di China dan Amerika Latin."
Radit menghela nafas. Jika ia tak bisa bertemu dengan direkturnya, maka perusahaannya akan mengalami kerugian. Pasalnya, dana terbesar berasal dari Linxia.
" Kamu cari tahu, dia sekarang ada di mana. Aku akan ke sana. "
" Baik, pak."
" Baiklah, itu saja. Keluarlah," kata Radit
" Pak, saya masih ada laporan lagi," ucap Bagas.
" Ada apa?"
" Hotel Swasa di Bali, 2 minggu lagi akan mengadakan rapat pemegang saham. Dan, Anda diharapkan hadir. "
" Hotel Swasa?"
Bagas mengangguk. Ia juga tak yakin apa hubungan hotel itu dengan atasannya.
" Apa kita punya saham di sana?" Tanya Radit.
" Saya tidak yakin, pak. Kalau dari data, sih... sepertinya tidak punya."
Radit memijat pangkal hidungnya. Ia tak punya saham di saham di sana. Kenapa disuruh hadir?
" Baiklah, masukkan aja di jadwalku. Ada lagi?"
" Bu Vina menyuruh Anda untuk pulang nanti malam, Pak."
Deg
Apalagi ini? Ia masih belum siap berhadapan dengan ibundanya. Terlihat dari beberapa minggu lalu, ibundanya begitu marah dan tak menyukai Lia. Padahal dulu, Ibu Radit itu sangat menyukai wanitanya. Lalu, kenapa sekarang berubah? Apa karena Juana atau karena Lia pernah membatalkan pernikahan secara sepihak? Pikiran itu terus berkecamuk di benak Radit.
" Baiklah. Ada lagi?" Tanya Radit lemas
" Tidak ada, pak."
__ADS_1
" Kau boleh pergi."
Bagas mengangguk dan melangkah keluar ruangan Radit.
" Gas! Ada apa? Kok mukamu kusut gitu?" Tanya Alina, sekretaris Radit saat ia melihat Bagas yang baru saja menutup pintu ruangan bosnya.
" Gak papa. Capek aja. 2 hari bos gak masuk. Aku jadi harus lembur terus. Mana bini lagi hamil..." keluh Bagas
" Ya, nasib jadi bawahan, Gas.." ucap Alina seraya menepuk pundak Bagas yang mejanya berdekatan dengannya.
Lia hari ini begitu kesal. Ia memutuskan berbelanja lalu kembali ke rumah orang tuanya.
" Ma! Pa! Lia pulang! " Teriaknya manja
Pasangan suami istri yang bersantai di halaman belakang terkejut mendengar suara putrinya.
" Ma, bukannya dia masih di Bandung. Kok dah balik?" Tanya Danuarta pada istrinya Yeni.
" Mama juga gak tahu, pa." Sahut Yeni.
Keduanya masuk ke dalam rumah dan melihat Lia membongkar tas-tas belanjaan dan menatanya di meja makan
" Lia! Katanya ke Bandung, kok dah pulang? Emang kuliahmu libur?" Tanya Danuarta
" Iya, pa. Aku libur. Tadi sebelum ke sini, Lia belanja dulu soalnya di Bandung susah mau nyari barang yang Lia mau." Jawab Lia
Danuarta dan Yeni mengerutkan alisnya. Kuliah libur? Tapi, ini masih belum tengah semester. Libur apa?
" Dosennya kasih aku waktu libur 3 hari soalnya aku habis sakit, pa..ma."
" Sakit? Kamu sakit apa, nak? Kalau sakit kok malah nyempetin belanja?" Tanya Yeni lagi
" Aduh, ma. Kok kayak polisi aja nanyanya. Detail banget. Lia cuma sakit maag aja. Tapi karena dosennya baik banget, dia kasi Lia istirahat. Lia bosen di kos. Jadi, ya... Lia ke Jakarta aja."
Danuarta dan Yeni akhirnya mempercayai kebohongan Lia. Selama tinggal dengan Radit, Lia selalu pamit pada orang tuanya, kalau ia sedang kuliah di Bandung.
Saat ditanya kenapa gak di Jakarta, Lia beralasan tidak ingin bertemu Bram. Akhirnya, kedua orangntua Lia mengijinkannya.
" Ehm..ma..pa..Lia mau bicara."
Danuarta dan Yeni tersenyum, " bicara apa, nak. Uangmu habis?" Goda Danuarta. Yeni dan Lia terkekeh mendengarnya
" Ehm, bukan, Pa. Mas Radit...sudah bercerai, pa. Dan..."
" Lia! Jadi kau belum putus dengan laki-laki itu?!" Tanya Danuarta dengan nada tinggi
" Pa, Lia..."
" Bilang sama mama, Lia. Radit bercerai... karena kamu?" Selidik Yeni
" Ma... itu..."
__ADS_1
" Papa tidak pernah mengajarimu jadi pelakor, Lia!" Bentak Danuarta
" Pa! Mas Radit gak pernah cinta sama istrinya. Mereka bahkan gak satu kamar!" Bela Lia
" Itu bukan alasan buat kamu masuk rumah tangga orang, Lia!" Kali ini Yeni berteriak. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka anaknya melanggar perintahnya untuk tidak mengganggu rumah tangga Radit.
" Ma! Mas Radit sama Lia saling mencintai. Apa salahnya kami bersama, Ma!"
" Kalau kalian saling mencintai, kenapa kamu dulu menikah dengan Bram? Hah?! Kau sudah membuat kami malu dan meminta maaf karena perbuatanmu pada orang tua Radit. Sekarang, kau membuat rumah tangga anak mereka kembali rusak?! Apa maumu, Lia!" Danuarta tak bisa lagi menahan emosinya. Dadanya terasa sakit. Yeni segera membantu Danuarta duduk dan berlari mengambil obat.
" Ini, pa. Minum dulu," kata Yeni.
" Lia, sekarang kamu masuk kamarmu atau pergi, terserah mau kemana," Usir Yeni tanpa melihat wajah putrinya yang mulai geram.
" Pokoknya, Lia akan menikah sama mas Radit!" Tukas Lia dan berjalan cepat meninggalkan rumah itu
Yeni menangis dan Danu bersandar di sofa.
" Pa, kenapa anak itu sulit sekali diatur..." Keluh Yeni. Danu menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
" Ma, apa karna kita terlalu memanjakan dia?... "
Kedua pasang suami istri itu terus merenungi nasib keluarganya. Anaknya yang pertama bercerai karena pelakor. Sekarang, putrinya menjadi pelakor.
" Ma! Pa! Aku pulang." Teriak seorang laki-laki yang baru masuk. Tak ada jawaban dari orang tuanya. Mereka hanya melihat sekilas dan kembali lagi dengan wajah murungnya.
" Lho, ma..pa...ada apa? Kok sedih gitu mukanya?" Tanya laki-laki itu.
" Aldo, Lia..." Belum selesai berbicara, Yeni kembali menangis.
" Lho, ada apa, ma? Ada apa sama Lia?" Tanya Aldo.
" Dia...merebut suami orang!" Jawab Papanya
Deg
Aldo tertohok dengan jawaban papanya. Pasalnya, dia juga bercerai karena ia memiliki WIL. Ia tak menyangka, ternyata adiknya juga melakukan dosa. Bedanya, dialah laki-laki yamg menghianati istrinya, dia yang membiarkan api itu tersulut dan akhirnya terbakar olehnya.
Ia harus melepaskan wanita yang telah memberinya seorang putra dengan bertaruh nyawa dan kehilangan kesempatan bertemu putranya, karena keluarga mantan istrinya telah menjauhkan mereka darinya.
" Maksud papa, Radit?" Tanya Aldo. Danuarta mengangguk mengiyakan
" Pa, sebenarnya... Aldo tahu mereka mulai berhubungan lagi beberapa minggu setelah Lia cerai. Aldo sudah kasi peringatan dan... melarang mereka pacaran karena Radit masih beristri. Aldo gak nyangka..."
" Kamu tahu?" Tanya Danuarta. Aldo mengangguk dan tertunduk
" Ya, Tuhan... kenapa kamu gak cerita dari dulu sama mama papa, Aldo?"
" Maaf, pa..ma... Aldo kira Lia sama Radit mau nurut. Aldo gak nyangka jadi gini...Tapi... Aldo coba besok ketemu Radit lagi..."
" Radit udah cerai kalo itu yang kamu maksud!" Tukas Yeni lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1