Bila Cinta

Bila Cinta
Tercabik


__ADS_3

Juana dan Merlita di rias alami karena keduanya sama-sama tak suka make up yang tebal dan ribet. Keduanya mengenakan kebaya yang mama Lin Mei pesan.


Jam 7.30 mereka berangkat ke Auditorium kampus tempat diadakannya wisuda. Banyak mata memandang kagum pada keduanya. Kecantikan alami mereka juga membuat iri para wanita.


Juana dan Merlita, dua sahabat yang terkenal cuek dan selalu menjauhkan diri dari kaum lelaki, membuat keduanya menjadi incaran para playboy kampus untuk menaklukkan mereka. Tapi sayang, tak ada satupun dari mereka yang berhasil memacari salah satu diantara mereka.


Bukan karena mereka enggan untuk berpacaran, tapi Juana masih belum sepenuhnya percaya perkataan lelaki. Terbukti, laki-laki yang dekat dengannya pun kini mengingkari janjinya. Sementara Merlita, ia tak mau dekat dengan lelaki karena hingga kini ia masih menanti seseorang yang telah merebut hatinya 10 tahun yang lalu. Semua orang boleh berkata itu adalah cinta monyet, tapi bagi Merlita, lelaki itu adalah cinta sejati dan cinta pertamanya.


Kedua orang tua Merlita yang menunggu kedatangan 2 sahabat itu berbinar melihat penampilan berbeda dari keduanya.


" Oh...ya, Tuhan. Beneran ini anak-anak papa? Haduh, ma. Cantik-cantik anak kita, ma... Hahaha.." Puji Darwin.


" Iya, pa. Waduh... Mama jadi punya saingan, nih. " Ujar Lin Mei sambil membenarkan sanggul modernnya.


" Hahaha... Tapi buat papa, mama yang paling cantik. Mereka no.2.. hehehe.." Ucap Darwim menggoda istrinya.


Blush


Wajah Lin Mei merona. Juana dan Merlita terkekeh melihatnya.


" Lho, Na. Mana suamimu?" Tanya Darwin. Matanya terus mengedar mencari sosok yang ia cari.


Tawa Juana hilang seketika. Ditipiskannya bibirnya dan menunduk lalu melihat kesana kemari.


" Ehm, mungkin terlambat, pa..ma." Jawab Juana berbohong.


" Iya, mungkin telat, pa." Timpal Merlita membantu sahabatnya.


" Oh, ya sudah. Ini sudah jamnya. Sekarang cepat masuk sana!" Kata Darwin


Juana dan Merlita mengangguk lalu segera masuk ke dalam gedung.


" Pa, kayaknya ada yang gak beres." Kata Lin Mei.


" Iya, aku juga ngerasa gitu, ma. Aku sudah suruh Mahfud cari tahu. Aku harap dia segera kasih papa informasi. Kalau sampai laki-laki itu menyakiti anakku, aku akan beri dia pelajaran!" Ujar Darwin.


" Iya, pa. Oh, ayo kita masuk." Ajak Lin Mei.

__ADS_1


Acara wisuda telah usai. Juana dan Merlita mendapat predikat cumlaude. Sungguh tak disangka sama sekali oleh Juana.


" Selamat ya, nak. Kau berhasil! Kami bangga!" Ucap Lin Mei sambil memeluk Juana dan Merlita bergantian.


" Papa juga bangga pada kalian, anak-anakku." Sambung Darwin dan melebarkan kedua tangannya. Merlita dan Juana menyambut dengan memeluk Darwin. Air mata Juana menetes.


" Terima kasih, pa..ma. Terima kasih." Ucap Juana menunduk. Darwin menepuk punggung Juana beserta dengan Lin Mei dan Merlita yang ikut menangis dan tersenyum bersamaan.


" Sudah, sudah. Sekarang, Juana. Pergilah ke kantor suamimu, ya. Beri kejutan buat dia." Kata Darwin.


" Hah? Tapi pa..."


" Gak ada tapi-tapi. Dia suamimu. Dia pasti senang kalau kau dapat predikat cumlaude. Tunjukkan padanya, ya. Dan nanti sore, kita akan rayakan bersama. Papa sudah booking restaurantnya." Potong Darwin.


Juana hanya mengangguk memaksakan senyum. Merlita menepuk bahu Juana menguatkannya.


" Baiklah."


Merlita dan Lin Mei mengantarkan Juana hingga di depan perusahaan Raditya, karena suaminya, Darwin, harus segera ke kantornya.


" Ingat, Na. Kami menunggumu di sini. Jadi, cepat sana kasih tahu suamimu." Kata Lin Mei. Juana mengangguk patuh.


Juana menghela nafas dan mengumpulkan keberaniannya. Ia melangkah masuk dan seorang resepsionis ternyata mengenalnya sehingga Juana dapat dengan mudah naik ke lantai di mana kantor Radit berada.


Sampai di lantai 15 gedung itu, Juana melangkahkan kakinya menuju pintu mahogani dengan sebuah ruang tunggu di depannya. Sampai di depan pintu, tak terlihat sekretaris Raditya di sana.


Juana melihat ada cela sedikit di pintu itu. Perlahan ia mendekat karena ada rasa takut dan ragu. Namun, langkahnya terhenti ketika tangannya sudah ada di gagang pintu.


Suara desahan-desahan dan panggilan mesra terdengar dari balik pintu. Perlahan Juana membuka pintunya. Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di dalam kantor suaminya itu.


Satu tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Air mata menetes tanpa ijin di pipinya. Segera ia kumpulkan kembali kesadarannya.


Perlahan Juana membalikkan badannya. Hatinya tercabik-cabik dan mati rasa. Dengan cepat ia berjalan menuju lift. Namun panggilan seseorang menghentikannya.


" Bu Juana, ya?" Panggil seseorang.


" Ah, i-iya. Kamu siapa?" Jawab Juana seraya menghapus air matanya.

__ADS_1


" Saya Alina, bu. Sekretaris pak Radit. Ibu tidak apa-apa? Apa mau saya panggilkan pak Radit?" Tanya Alina saat ia melihat wajah Juana yang memucat.


" Ja-jangan. Tidak usah. Sa-saya permisi dulu, ya. Ma-mari!" Pamit Juana seraya menganggukkan kepalanya.


Alina mengeryitkan alisnya melihat Juana yang terlihat terburu-buru namun dengan badan sempoyongan.


Alina menggelengkan kepalanya dan kembali ke mejanya. Ia melihat pintu ruangan atasannya tak tertutup rapat.


" Hm, mungkin bu Juana terburu-buru tadi. Aku tu.." Perkataan Alina terpotong ketika ia mendengar suara-suara yang tak seharusnya. Karena penasaran, dibukanya sedikit pintu itu. Dan, seperti halnya Juana, Alina begitu kaget melihatnya.


Alina segera berbalik dan menepuk dadanya. " Oh, Tuhan. Kasihan sekali bu Juana. Ternyata pak Radit orang brengsek!" Umpatnya. Alina segera mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu lalu mengirimkannya pada seseorang.


" Pak Radit. Anda sudah bermain api!" Mata Alina begitu tajam memandang pintu yang tak tertutup rapat itu.


Sampai di lantai dasar, Juana segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Ia memeluk Lin Mei dan menangis tersedu. Merlita segera melajukan mobilnya menjauh dari situ.


" Nak, menangislah. Menangis sampai kamu puas. Setelah itu, jangan menangisi pria seperti dia lagi, ya?" Ucap Lin Mei sambil memeluk Juana erat. Ia bukan ibu kandung Juana, tapi ia bisa merasakan rasa sakit gadis dalam pelukannya ini.


" Ma, mama ta-tahu?" Tanya Juana di sela-sela isakannya. Lin Mei mengangguk.


" Iya, nak. Aku dan papamu sudah tahu semuanya. Sekarang, kalau kamu mau menangis, menangislah sayang. hmm.."


" Ju-Juana mau cerai, ma. Ju-Juana tahu Kak Radit ti-tidak mencin..taiku. Dia jarang pu-pulang ka-karena tak ba-bahagia bersamaku."


" Baiklah, nak. Mama sama papa akan bantu kamu." Kata Lin Mei lembut sambil menghapus air mata Juana. Merlita pun menyetir dengan menangis. Betapa malang nasib sahabatnya itu.


" Ju-Juana udah min- minta bu Devina me-mengurus per-perceraian Juana. Dia bersedia dan, dan dia cu-cuma tunggu instruksi da-dari Juana. " Ujar Juana tersenggal.


" Baiklah. Terus rencanamu selanjutnya apa, nak?"


" Ju-Juana ingin per-pergi ma. Ju-Juana ma-mau menata ha-hati Juana dulu."


" Baiklah. Papa sama mama akan atur semuanya. Kamu tenang aja, ya?"


*\0/**\0/**\0/*


Hallo para pembaca, bagi LIKE, VOTE n RATEnya dong. Kasih Komen untuk saran dan kritiknya, ya.

__ADS_1


Makasih


Rie


__ADS_2