
Semenjak penculikan itu, Darwin memaksa Juana tinggal di rumah mereka. Radit juga mulai menemui Juana lagi walau sekedar melihat sahabatnya itu sebentar untuk memastikan bahwa sahabat yang ia sudah anggap adik itu baik-baik saja.
Juana merasa bahagia walau hanya sekejap saja ia bisa melihat wajah pemilik hatinya. Tak bisa memiliki bukan masalah baginya. Yang terpenting laki-laki itu berbahagia. Itulah yang selalu ada dalam benak Juana.
" Ana!" Panggil Radit. Juana yang baru saja selesai kuliah dan hendak menuju tempat kerjanya, berhenti saat sebuah mobil sport keluaran terbaru berhenti dihadapannya.
" Kak Radit!" Sahut Juana dengan senyuman yang merekah indah.
Radit keluar dari mobil, diikuti Lia Amalia yang bergelayut manja di lengan kokoh Radit dengan senyuman sinis menatap Juana.
" Na, kakak cuma mau kasi ini buat kamu. Datang, ya... " Ucap Radit seraya menyodorkan sebuah undangan. Juana memaksa dirinya untuk bersikap seperti biasanya. Ia menerima undangan itu dan tersenyum lebar.
" Wahh... Akhirnya kakak menikah juga. Selamat ya, kak. Semoga bahagia terus. Dan cepetan kasi aku ponakan...hehehe.." Jawab Juana.
" Ponakan? Emang kamu siapa? Jijik gue kalau punya saudara kayak lo!" Ujar Lia ketus.
" Lia! Jaga bicara kamu! Juana ini adik aku dan akan tetap adik aku, kamu terima atau tidak!" Sergah Radit. Lia menghentakkan kakinya geram lalu kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar.
" Na, maaf ya. Lia, itu sebenarnya baik. Cuma ya gitu, kalo gak begitu kenal, dia suka seenaknya." Bela Radit. Juana hanya mengangguk dan tersenyum.
" Iya, kak. Ok, aku usahain datang kak. Soalnya aku sekarang ambil 2 kerjaan...hehehe.."
" 2 kerjaan? Kenapa kamu kerja? Kenapa gak minta Ayah kamu?" Tanya Radit heran. Radit memang belum mengetahui kondisi keluarga Juana sebenarnya. Karena Juana sama sekali tak pernah bercerita padanya. Bahkan saat Juana diculik, ia memohon Merlita untuk mengatakan bahwa dia hanya tersesat dan tak tahu jalan.
" Hahaha... Apa gunanya punya 2 tangan, kak. Kalau gak aku pakai. Iya, kan?" Alasan konyol Juana sepertinya cukup diterima Radit.
" Oke, deh. Aku pergi dulu, ya. Nanti tuan putri marah-marah lagi, berabe akunya...hahaha.." Pamit Radit lalu berlari ke sisi pengemudi dan melambaikan tangannya sesaat sebelum masuk mobil.
Hari ini, Juana memutuskan meminta cuti dari atasannya. Ia lebih memilih duduk di sebuah taman. Air mata mengalir deras di pipinya. Deringan ponsel yang terus berbunyi tak dipedulikannya. Ia terlalu larut dalam kesedihan.
__ADS_1
" Kak, kali ini aku melepasmu. Selamat berbahagia, kak..." Gumam Juana seraya membuang gantungan kunci pemberian Radit ke danau.
Hari pernikahan Radit semakin dekat. Juana tak pernah lagi melihat Radit.
" Ini, ada baiknya. Agar aku lebih cepat melupakannya." lirih Juana dalam hati. Juana selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tugas kuliah. Dimana, 1 tahun lagi, ia mulai menyusun skripsi.
Jadwal magang sudah ia kantongi. Dengan bantuan Papa Darwin, Juana bisa magang di sebuah kantor hukum yang berlokasi tak jauh dari kediaman Merlita.
Hari itu, Juana memulai harinya dengan sarapan bersama keluarga Merlita. Darwin mengantar Juana ke kantor magangnya lalu membawa Merlita yang akan magang di kantornya di pusat kota.
Drrrttt....drrrtt...
" Kak Radit?" gumam Juana.
Dengan ragu, Juana mengangkat ponselnya.
" Hallo? Ya kak?" sahut Juana
Juana mengeryitkan dahinya. Sudah hampir 2 minggu ia tak mendengar kabar Radit dan mulai terbiasa. Tapi kini...
" Ehm... ada apa ya, kak? Maaf, Ana banyak sekali kerjaan. Sekarang Ana lagi magang soalnya."
" Sebentar aja, Na. Nanti waktu makan siang aku jemput ya."
Belum lagi Juana menjawab, Radit sudah memutuskan sambungan teleponnya.
" Ya, Tuhan. Tolong aku. Jangan biarkan aku mempermalukan diriku didepannya, ya Tuhan." Doa Juana. Helaan nafas untuk sekedar menenangkan detak jantung yang berdebar hebat dan pikirannya yang mulai kalut, terdengar begitu kasar. Air mata juga sudah siap lolos dari pelupuk matanya.
" Baiklah, aku kerja dulu." Juana mulai memusatkan pikirannya pada tugas yang sudah di bebankan padanya. Kasus pencurian disertai kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak SMA. Juana mulai menemui anak SMA (tersangka) di tahanan untuk mencari informasi motivasi tindak pidana yang dia lakukan dan mencoba mencari saksi yang dapat meringankan tersangka.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Juana telah selesai dengan tugasnya. Setelah merapikan semua berkas, Juana beranjak dari kantor polisi dan menuju restoran tempat Radit mengajaknya bertemu.
" Hai, kak. Sudah lama?" Sapa Juana. Ternyata Radit sudah menunggunya. Wajahnya terlihat kusut dan ditumbuhi bulu halus tak terawat.
" Baru kok, Na. Duduk aja" Sahut Radit dengan senyum dipaksakan.
' Ada apa lagi dengan kak Radit?' Batin Juana.
" Mau pesan apa?" Tanya Radit lagi.
" Apa aja, kak. Makasih"
Radit memanggil pelayan dan memesan beberapa menu dan minuman.
" Ada apa, kak? Kakak mau menikah kok kelihatan kusut gitu? " Goda Juana berusaha mencairkan suasana karena sejak tadi hanya ada keheningan. Sejak pelayan selesai menerima order mereka, tak ada lagi kata yang terucap dari mulut Radit.
" Na... Lia... ninggalin aku." Lirih Radit namun masih terdengar jelas oleh Juana.
" Maksud, kakak?"
" Lia, pergi sama laki-laki lain. Padahal pernikahan kami tinggal 5 hari lagi. hiks..hiks..." Isak Radit. Matanya sudah memerah dan air mata mengalir di wajahnya yang putih dan tampan.
" Pergi dengan laki-laki lain? Mungkin kakaknya kali, kak. Kakak jangan salah paham dulu. Apa kakak sudah tanya Lia langsung, hmm?" Kata Juana lembut.
" Bahkan orang tuanya sendiri yang datang kerumah dan minta maaf! Lia pergi karena ia mencintai laki-laki lain..." Suara Radit meninggi. Bukan kesal dengan perkataan Juana, tapi ia marah jika mengingat kelakuan Lia kemarin di belakangnya.
Berjalan mesra berdua di sebuah taman bermain, bercanda ria bahkan berciuman mesra. Dan semua tak luput dari mata Radit yang awalnya tanpa sengaja melihat keduanya saat akan menaiki mobil laki-laki yang tak Radit kenal, di perempatan jalan dekat rumah Lia. Radit mengikuti mobil fortuner itu hingga keduanya masuk ke dalam taman bermain itu. Sungguh hancur hati Radit. Lebih hancur lagi, saat malam hari, tiba-tiba kedua orang tua Lia datang dan memohon maaf karena bermaksud membatalkan pernikahan Lia dengannya.
" Sst... kak, tenanglah. Kak, sabar ya? Segala sesuatu itu ada dalam rencanaNya. Jangan buat diri kakak berantakan seperti ini. Buktikan kalau tanpa dia, kakak baik-baik saja. Gunakan waktu kakak untuk menginstropeksi diri. Dan maafkan diri kakak sendiri juga Lia. Suatu saat, kakak akan tahu jawabannya, alasannya, kenapa Lia memutuskan meninggalkan kakak. Hmm?" Juana memegang tangan Radit dan menepuk-nepuknya lembut.
__ADS_1
" Kak, percayalah, kakak akan mendapat yang lebih baik dari Lia. Jadi, sekarang kakak makan yang banyak, terus pulang dan mandi, oke? Tuh, makan dah datang."
Radit hanya mengangguk pasrah. Memaksakan setiap suapan untuk masuk dan ditelannya. Radit tersenyum dan menatap Juana yang asyik memakan makanan yang ia pesan dengan begitu lahap.