
" Na!" Panggil Radit. Juana, mengalihkan perhatiannya pada Radit.
" Ya, kak?" Tanyanya lalu menegak minuman agar dapat berbicara dengan baik.
"Mau gak kamu gantiin Lia nikah sama aku?" Tanya Radit.
***Brrrtt...
uhukk...uhukk***
Juana menyemburkan minumannya dan tepat mengenai Radit. Dadanya terasa sakit karena tersedak. Radit mengelap wajahnya dengan tissue dan berjalan malas mendekati Juana, membantu menepuk punggungnya.
Juana kembali meminum air mineral dan menepis tangan Radit. Pikirannya kacau dengan pertanyaan Radit, tapi ia berusaha bersikap biasa.
" Kak, jangan ngelawak. Nikah bukan mainan..." Jawab Juana seraya menepuk tangan Radit yang ada di atas meja.
"Aku gak bercanda, Na. Semua persiapan sudah siap." Radit menatap serius ke arah Juana. Tapi Juana hanya menggeleng dan menganggap guyonan Radit semata.
"Aku juga gak bercanda, kak. Nikah itu sakral. Bukan buat main. Aku tuh, ya... Maunya nikah sama orang yang beneran sayang sama aku." Ucap Juana kembali menikmati makanannya. Menepis deru jantung yang terus berdetak tak menentu sejak ajakan Radit tadi. Ia memang mencintai laki-laki itu, tapi ia tak akan bersedia menikah jika tak ada cinta dari laki-laki yang meminangnya. Dan ia tahu bahwa Radit sangat mencintai Lia, kekasihnya.
"Na, percaya sama aku. Aku bakal membuka hati aku buat cinta sama kamu. Bakal bikin kamu bahagia. Na, tolong aku."
Juana menghela nafas kasar. Ia menatap Radit yang memohon padanya. Hatinya begitu tak tega melihat lelaki itu, tapi, pernikahan bukanlah permainan.
"Kak, kenapa aku? Aku masih kuliah. Banyak yang mau aku raih dan..."
"Karna aku nyaman sama kamu. Aku janji aku gak akan halangin kamu kuliah atau mengapai mimpi kamu. Aku bakal bantu kamu." bujuk Radit.
" Beri aku waktu, kak. Semuanya terlalu cepat. Aku belum siap."
" Baiklah. Kasih aku jawaban besok, ya. Karna tanggal pernikahan tinggal 5 hari lagi." kata Radit. Juana hanya bisa mengangguk. Ia tak lagi berselera untuk makan.
Selesai makan siang, Radit kembali ke kantornya. Pekerjaannya sudah sangat menumpuk. Sejak kemarin ia tak masuk, pikirannya kacau.
" Semua karena wanita sialan itu! Bisa-bisanya dia selingkuh! Aarghhh!" Radit melempar tempat pulpen di depannya. Asistennya, Bagas, segera masuk ketika mendengar suara benda jatuh dari ruangan bosnya.
" Pak, Anda tak apa-apa?" Tanyanya.
" Bagas! Kita lembur malam ini."
Lutut Bagas lemas. Hari ini ia sudah berjanji akan menemani calon istrinya berbelanja. Tapi sepertinya ia harus membatalkannya... Lagi.
Radit dan Bagas menghabiskan malam mereka di kantor dengan banyaknya dokumen dan file yang menumpuk tak jelas di meja mereka. Bagaimana tidak, pekerjaan seminggu, mereka usahakan selesai dalam semalam.
Pagi yang cerah tak membuat hati dan wajah Juana berseri. Hari ini ia harus memberi jawaban pada Radit. Pikirannya menolak, tapi hatinya tak seiring logikanya.
__ADS_1
Radit telah meneleponnya pagi ini dan minta bertemu di cafe kemarin. Juana segera bersiap. Selesai mandi, ia duduk di depan kaca meja rias kamarnya.
" Tuhan, bisakah aku menjalani pernikahan seperti ini? Bisakah aku melaluinya?" lirihnya. Tak terasa air mata kembali menetes.
tok...tok..
" Na, aku masuk, ya!" Seru seseorang dari balik pintu kamarnya.
" Ya, masuklah, Mer. Gak dikunci!"
Merlita langsung masuk dan menghambur memeluk Juana.
" Na, lo tahu, gak..."
" Gak!"
" Ish... Belum selesai ngomong juga!" Gerutu Merlita dan disambut tawa Juana.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya Juana pada akhirnya seraya beranjak dari kursi meja riasnya.
" Gue. Berhasil. Jadian. Sama. Kak. Jonathan!..aaaaa..." heboh Merlita menekan setiap kata dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
" Selamat, ya. Akhirnya laku juga lo..."
Keduanya terkikik. Merlita bercerita tentang hubungannya dengan Jonathan. Laki-laki yang menjadi manager di perusahaan Papanya. Laki-laki itu sama sekali belum tahu jika Merlita adalah pewaris tunggal perusahaan DY Group tempatnya mengais rejeki.
Merlita bekerja sebagai akuntan di sana dengan Jonathan sebagai atasannya. Laki-laki gagah idola semua wanita. Sikapnya cuek tapi selalu bijak sebagai pemimpin. Usianya berbeda 7 tahun dari Merlita.
Sementara itu, Radit, kegelisahan menyelimuti hatinya sejak kemarin.
" Na, aku tahu aku egois. Tapi, hanya kamu yang bisa menyelamatkan reputasi keluargaku...." gumamnya.
Kriing...kriing..
" Ya, Ma?" sahut Radit setelah menggeser tombol hijau.
" Kenapa kamu gak pulang semalam? Apa kamu sudah makan, nak?" tanya Mama Vina, ibunda Radit.
" Iya, ma. Sudah kok."
" Nak, gak usah lagi dipikirin, ya. Masalah Lia biar aja gak apa-apa. Kamu pasti dapat pengganti yang jauh lebih baik dari dia." Hibur mama Vina.
" Ma, pernikahan tetap ada. Hanya berbeda pengantin wanita aja."
" Apa?!"
__ADS_1
" Iya, ma. Seperti yang mama dengar."
" Tunggu mama di kantormu!"
tut...tut...
" Fuhhh... Mama selalu begitu." Mata Radit menerawang kota Jakarta dari jendela kantornya.
" Semoga aku bisa meyakinmu, Na. Dan semoga aku bisa mencintaimu." Ucapnya.
Setengah jam kemudian, Sang mama sudah berada di kantornya.
" Radit! Apa katamu tadi? Kau dapat pengganti pengantin wanita?" introgasi mama Vina dimulai.
" Iya, ma. Aku... Aku meminta Juana menggantikan Lia, ma."
" Apa?!"
" Iya, ma. Juana."
" Bilang sama mama. Apa kamu cinta sama Juana?"
" Mama, ya gaklah. Aku tuh cuma anggap dia teman dan adik." Jawaban enteng Radit membuat mama Vina naik darah.
Plak
" Ma!" Protes Radit. Matanya menatap horor ibu yang melahirkannya itu.
" Kamu gak cinta sama dia, berani-beraninya kamu minta Juana jadi pengantin pengganti!" Sergah mama Vina.
" Ma! Ini demi reputasi keluarga kita!" Desis Radit seraya memegang pipinya yang terasa panas.
" Kau! Juana itu putri satu-satunya Metha, sahabatku. Dia juga putri kesayanganku. Berani-beraninya kamu mainin dia, Radit!"
" Ma, aku gak mainin dia. Aku serius mau nikah sama dia. Aku sekarang memang belum cinta sama dia. Tapi aku mau buka hati dia, ma.." Kilah Radit.
" Dengar, Radit. Kalau sampai suatu saat nanti kamu menyakiti Juana, mama pastikan kau akan menyesal seumur hidup!" Ancam mama Vina.
" Iya, ma. Aku janji." Jawab Radit. Janji yang nantinya ia ingkari dan membuat hidupnya berantakan. Kesalahan yang tak mungkin dapat ia perbaiki bagaimanapun ia berusaha.
Seringkali orang tidak menyadari bahwa dia sedang berjanji saat mengucapkannya. Mereka tak pernah menyadari bahwa setelah seseorang tidak menepati janjinya, kata maaf tidak berarti apa-apa.
Siang itu Juana dan Radit bertemu. Juana menatap lekat laki-laki yang beberapa minggu ini berusaha keras ia keluarkan dari hidupnya. Tapi, kini laki-laki itu menawarkan diri untuk mendekat padanya.
" Na, apa... Jawabanmu?" Tanya Radit. Hatinya berdegup kencang. Bukan karena cinta yang mulai tumbuh untuk sahabat yang kini duduk dihadapannya. Tapi karena menunggu jawaban yang menentukan reputasi keluarga dan perusahaannya.
__ADS_1