Billionaire Obsession Of Martine

Billionaire Obsession Of Martine
Episode 11


__ADS_3

Denting pengingat pelanggan berbunyi tat kala Sarah membuka pintu sebuah kedai coffee yang Nampak


ramai pengunjung, matanya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut, hingga menemukan seorang wanita yang tengah menikmati coffee late dan kue coklat di atas meja. Sarah langsung menghampiri wanita cantik tersebut.


“maaf, apa kau menunggu lama?”. Ucap Sarah sembari duduk di depan Vivian


“tidak terlalu sar, ini aku pesankan kue coklat kesukaanmu”.


Sarah tersenyum manis pada Vivian.


“kau selalu ingat apa yang ku sukai”. Sarah mengambil kue coklat tersebut dan memotongnya sedikit


demi sedikit untuk dimakan. “bagaimana sekolahmu?”. Tanya Sarah kembali


“lancar, aku mengikuti lomba teater dengan grup di sekolah”.


“baguslah”.


“terima kasih banyak sar, sudah membantuku dan juga panti”.


“tidak perlu berterima kasih, karena itu adalah tanggung jawabku, dan kau pun nanti juga sama, kau


harus merawat bunda selagi aku tidak ada, itu sudah cukup untukku”.


“ah ya, bunda mencarimu, dia menitipkan pesan padamu”.


“maaf karena aku tidak bisa ke sana, karena banyak pekerjaan disini, kalau pekerjaanku tidak menumpuk


aku akan datang”.


Vivian mengangguk. “kau tidak ke kantor sar hari ini?”.


“nanti siang mungkin, ini masih terlalu pagi untukku pergi kekantor”.


“aku juga mau bekerja sepertimu”.


“kau memiliki bakat mu sendiri, maka tekuni lah bakatmu, karena mungkin jalanmu tidak sama dengan


orang lain”.


“baiklah aku mengerti, sar, minggu depan aku akan tempil di teater kota, kau datang kan?”.


“tentu saja aku akan datang kesana, hubungi aku untuk mengingatkan”.


“baik”.


“bagaimana kalau hari ini aku mengaajakmu jalan?”.


“ya aku mau”.


Vivian dan Sarah beranjak dari tempat duduknya setelah meninggalkan beberapa uang tagihan di


meja.


Mereka berdua berjalan sembari bercerita tentang bagaimana Vivian menjalankan sekolahnya, hingga


mereka berhenti di sebuah penjual es krim. Sarah menyuruh Vivian untuk menunggunya di bangku taman, sedangkan dia membelikan dua es krim untuknya dan Vivian. Mereka berdua memiliki kesamaan yaitu menyukai es krim rasa coklat, dan apapun makanan yang rasanya coklat.


Setelah membeli dua es krim, Sarah menghampiri Vivian. Namun langkah Sarah terhenti di balik


semak-semak tat kala melihat Vivian tengah berbincang dengan seorang pria, yang sebelumnya pria itu memeluk Vivian, bahkan mereka berciuman.


“Vivian”. Ucap Sarah dalam hati keheranan melihat Vivian.


Bagi orang barat, hal seperti ini adalah hal biasa, tapi bagi kehidupan mereka di panti, sangat tidak


mencerminkan ajaran bunda.


Sarah tidak bisa mendengar pembicaraan Vivian dengan pria itu, namun kemudian pria itu pergi


setelah memeluk Vivian kembali.


Sarah keluar dari balik semak-semak seakan dia memang tidak mendengar atau melihat apa yang dilakukan


oleh Vivian. Sarah tersenyum pada Vivian dan memberikan es krim coklat yang barusan di belinya pada Vivian.


“maaf lama”. Ucap Sarah


“tidak masalah, terima kasih sar”.

__ADS_1


“sama-sama”.


Sarah duduk di samping Vivian.


“kau dekat dengan seseorang di sekolah? Kau tidak ingin bercerita tentang percintaanmu, itu wajar


bagi remaja seumuranmu”.


“tidak ada, aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun”.


“tapi aku yakin banyak yang menyukaimu”.


“tidak juga sar, lalu bagaimana denganmu?”.


“aku tidak berniat untuk berhubungan dengan siapapun saat ini”.


“baiklah”.



Sarah dan Vivian berpisah di stasiun kereta bawah tanah. Sarah sengaja mengantar Vivian sampai


di stasiun. Setelah melaambaikan tangan pada Vivian, Sarah menaiki tangga untuk


pergi, namun dia mengurungkannya dan memilih menunggu Vivian masuk ke dalam kereta,


namun dugaannya benar, Vivian bertemu kembali dengan pria itu, mereka kembali


berciuman dan saling memeluk.


Sarah mengaambil ponselnya di tas dan menghubungi Natali.


“halo”.


“ya sar, why?”.


“aku ijin tidak masuk kerja hari ini, aku ada urusan mendadak, aku akan mengerjakan pekerjaanku


sampai selesai besok”.


“baiklah, aku akan mengatakan pad abos kalau dia mencarimu”.


Sarah mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas.


Melihat Vivian dan pria itu meninggalkan stasiun. Sarah mengikuti langkah mereka. Pria itu membawa


Vivian ke sebuah club yang berada di sekitar sana. Club yang baru di ketahui Sarah, bahkan untuk pertama kalinya.


Sarah terus mengikuti mereka hingga masuk ke dalam club tersebut, Vivian Nampak tertawa bersama pria


itu.


Dari kejauhan ada mobil Ronald, pria itu sejak pagi mengikuti Sarah atas perintah Kevin. Sedangkan


Kevin ada pertemuan penting dengan pemegang saham hari ini.


Ronald langsung menghubungi Kevin ketika Sarah masuk ke club tersebut. Kevin yang tengah berada


di rapat pentingnya, menggeram tat kala mendapat pesan dari Ronald yang


mengatakan kaalau sarah masuk ke club di dekat stasiun.


Tidak sampai 15 menit,


mobil Kevin terparkir di samping mobil Ronald, pria itu membungkukkan badan


pada Kevin yang baru saja keluar dari mobil.


“dimana Sarah?”. Tanya Kevin dengan terburu


“di dalam tuan”.


“apa yang dilakukan wanita itu di club ini?”.


“nona Sarah mengikuti temannya yang dia temui pagi tadi”.


“siapa dia?”.


“saya belum tau tuan”.

__ADS_1


“baiklah, kau tunggu disini”.


“baik”.


Kevin melangkahkan kakinya menuju club tersebut, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru club


yang memiliki penerangan minim, hingga matanya menangkap sosok Sarah yang duduk


di bar sendirian, tanpa minuman disana, tapi wanita itu melihat kea rah dimana


pria dan wanita tengah bercumbu mesra.


Kevin tidak menghampiri Sarah, pria itu memilih duduk di sofa yang berada di sudut lain sambil meminum


wine yang di tawarkan pelayan.


Seorang pria menghampiri Sarah dan mencoba menyentuh tubuh Sarah, kevin yang melihat


miliknya di sentuh orang lain langsung berdiri dan menghampiri mereka.


Kevin merangkul pinggang Sarah posesif sembari tersenyum pada Sarah.


“kau menunggu lama sayang?”. Tanya Kevin yang membuat Sarah terkejut dan bingung kenapa ada Kevin


disini.


Pria yang sebelumnya menggoda Sarah, pergi dari hadapan mereka dengan wajah kesal.


“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Sarah


“seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada disini?”.


“itu bukan urusanmu”.


“menyangkut keselamatanmu maka itu menjadi urusanku, bahkan kalau aku tidak datang, pria


itu akan membawa mu ke ranjang. Jadi kenapa kau disini? Apa karena pria dan wanita yang sedari tadi kau lihat?”.


“ya”.


“siapa mereka?”.


“em- bukan siapa-siapa”.


“kau ingin aku mencaari tau siapa pria itu?”.


Sarah menatap Kevin.


“baiklah aku anggap kau ingin aku mencari tau tentangnya, sekarang ayo pulang”.


Kevin menarik Sarah keluar dari club tersebut menuju mobilnya.


“tuan”. Sapa Ronald dengan sopan


“ jangan mengikutiku, kembalilah ke MA Corp karena ada urusan yang harus kau selesaikan”.


“baiklah tuan, jika ada apa-apa tuan bisa menghubungi saya”.


“baik”.


Ronald meninggalkan mereka berdua dengan mobilnya. Sedangkan Kevin dan sarah masih berdiri di luar


mobil. Sarah menolak untuk ikut dengan Kevin.


“kau ingin tau siapa pria itu?”. Tanya Kevin


“ya, kau mengenalnya”.


“dia Michael”.


“siapa dia?”.


“pemilik club tersebut, aku tidak tau kenapa dia bisa mengenal wanita yang kau kenal baik, tapi Michael


adalah pria licik, dia menjual wanita untuk pria hidung belang”.


“aku harus mengatakan itu pada Vivian”. Sarah ingin kembali melangkahkan kakinya ke dalam club, tapi


Kevin menarik tangan sarah agar wanita itu tidak masuk kembali kesana.

__ADS_1


__ADS_2