
“kenapa?”.
“em-“.
“ada apa?”. Tanya Sarah kembali
“Barom ada dirumah sakit”.
“apa? nggak mungkin, bukannya tadi masih ada di kedai”.
“lebih baik kita segera ke rumah sakit”.
Kevin membawa mobilnya menuju rumah sakit dimana Barom dirawat, Mobil berhenti debasement rumah sakit, Sarah langsung keluar dan berlari kearah resepsionis untuk menanyakan dimana Barom di rawat.
“Sarah, ayo ikut denganku”. Ajak Kevin pada Sarah yang Nampak seperti orang linglung.
Sarah mengikuti langkah Kevin yang terus menggenggam jari jemarinya erat.
Sampai di depan ruang penuh penjaga dan juga ada Ronald yang tengah menunggu di depan pintu. Tat kala Kevin dan Sarah datang, Ronald langsung memberikan hormat pada mereka berdua.
“bagaimana keadaannya?”. Tanya Kevin
“dokternya belum keluar, tapi tidak sampai kena bagian yang bahaya, tuan Barom pasti kuat”.
Sarah terjatuh dilantai sembari terus menangis. Kevin memeluk wanitanya dengan lembut, mengusap dan mencium kening sarah.
“jangan takutkan apapun, Barom pasti sembuh”.
“hiks hiks”. Sarah terus menangis dipelukan Kevin hingga pintu terbuka, beberapa dokter keluar.
Sarah langsung berdiri dan berhadapan dengan dokter yang baru saja menangani Barom.
“bagaiman keadaannya?”. Tanya Sarah mencoba untuk tidak kembali menangis
“syukur puji Tuhan, tuan Barom tidak apa-apa, untung segera di bawa kesini,nanti segera mungkin akan dipindah ke ruangan inap. Saya permisi”.
Sarah melihat keadaan Barom dari pintu kaca, terlihat jelas Barom yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit memakai pakaian khas rumah sakit.
“siapa yang melakukannya?”. Tanya Sarah tegas
“sepertinya seseorang yang tidak bisa di kalahkan”. Jawab Ronald
Sarah terdiam, dalam fikirannya hanya satu yaitu golongan putih, mereka menginginkana berlian tersebut, ddan berlian itu ada di tangan keluarga Marley saat ini.
“apa kau baik-baik saja?” Tanya kevin sembari menyentuh pundak Sarah
“ya aku baik-baik saja”.
“apapun itu aku akan membantumu, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuanku”.
“aku mengerti, aku ke toilet sebentar”.
Sarah melangkahkan kakinya menuju toilet, maasuk kesalah satu bilik toilet dan menutupnya. Dia menghubungi Zhiyang pamannya.
“halo paman”.
“ya Nicole”.
“Barom masuk rumah sakit karena tembakan peluru”.
“apa? aku akan segera ke Hongkong”.
“tunggu paman, aku yakin yang melakukannya golongan putih”.
“baiklah aku akan mencari tau siapa pelakunya, tetaplah disampingnya”.
__ADS_1
“baik paman”.
“hati-hati dan terus waspada”.
“iya paman”.
Sarah menutup teleponnya dan keluar dari bilik toilet, menata sedikit dandanannya lalu keluar bergabung dengan Kevin di luar ruangan.
“aku akan mengantarmu pulang, kau butuh istirahat”. Ucap Kevin
“aku tetap disini, siapa yang akan menjaga Barom kalau aku pulang”.
“disini banyak penjaga, aku akan disini”.
“aku juga akan menjaganya”.
“tapi-“.
“dia kakakku, dan aku baru bertemu keluargaku, bagaimana kalau dia kenapa-napa sewaktu aku tidak ada”.
“baiklah kalau begitu”.
Sarah duduk di kursi tunggu bersama Kevin yang ada disampingnya. Ponsel Sarah kembali berdenting, sebuah pesan masuk.
Tidak ada nama, hanya sebuah nomor.
Pesan singkat yang mengatakan untuk memberikan berlian itu pda Golongan putih atau keluarga Marley akan benar-benar mati.
“siapa?”. Tanya Kevin penasaran
“bukan siapa-siapa”.
“hm”.
Kevin melihat kearah Ronald, pria itu tidak percaya pada ucapan Sarah. Dari awal banyak rahasia yang disembunyikan Sarah darinya.
Mereka berdua mengobrol dibalik tembok.
“apa yang kau temukan?”.
“golongan putih tuan Martine”.
“apa?”.
“ya, golongan putih menginginkan suatu hal yang dimiliki keluarga Marley”.
“berarti Sarah tau hal ini?”.
“iya, nona sarah pasti sudah tau, tuan Marley adalah mantan anggota golongan putih, ddan itu salah satu alasan kenapa tuan Marley tiba-tiba mati terbunuh”.
“terus apa yang harus kita lalukan? Aku tidak akan membiarkan Sarah berdiri sendiri, kau tahu Barom tengah sekarat di dalam, hanya aku yang bisa membantu Sarah”.
“benar tuan, saya akan mencari tau mengenai golongan putih”.
“binasakan mereka”.
“saya akan berusaha tuan”.
“bagus”.
Kevin kembali menemui Sarah.
“jangan khawatir, Barom pasti kuat didalam”.
Sarah mengangguk, namun tangannya begitu dingin, banyak yang terfikir di dalam otaknya. Dia sudah berjanji pada Barom untuk tetap menjaga berlian itu sampai golongan putih musnah dari dunia.
__ADS_1
♣
Pagi menyapa kembai, sarah masih tertidur didalam pelukan Kevin. Bahkan hingga matahari sudah bersinar terang diluar.
Kevin terbangun, dilihatnya wanita cantik yang masih terlelap damai di dalam pelukannya, Kevin menyentuh lembut rambut sarah, menyingkirkan anak rambut di belakang telinga agar pria itu puas memandangi wajah cantik Sarah.
Sarah membuka matanya, pandangan yang pertama wanita itu lihat adalah senyuman Kevin yang menurutnya sangat tampan, sesaaat wanita itu terhipnotis.
“sudah puas memandangi wajahku?”. Ucap Kevin sambil terkekeh melihat Sarha yang salah tingkah
“maaf”.
“tidak masalah, aku suka kau melakukan hal itu”.
Sarah beranjak dari duduknya. Melihat ruangan Barom yang kosong.
“dimana Barom? Dan kenapa orang-orang semua tidak ada?”. Tanya sarah yang kebingungan
Kevin berdiri dan melihat ruangan Barom yang benar-benar masih sangat rapi.
“tunggu, mungkin sudah dipindah ruangan, aku akan menghubungi Ronald”.
Dan benar, Barom sudah di pindah ruangan beberapa saat setelah sadar tanpa memberitahu Kevin dan Sarah.
“di lantai 2 ruang VVIP”.
Sarah langsung masuk lift yang terbuka bersama Barom untuk naik ke lantai 2.
Sampai di lantai dua, sudah ada Zhiyang didalam tengah berbincang dengan Barom. Tanpa berfikir panjang, sarah langsung masuk dan berhambur kepelukan Barom sembari menangis.
“astaga”.
“kenapa kau sangat jahat”. Ucap Sarah merajuk
“aku tidak tau hal ini akan terjadi”.
Sarah kembali meneteskan air matanya, bahagia dan sedih karena Barom yang sebelumnyaa baik-baik saja harus berada di rumah sakit terbaring lemah.
“sudah Nicole, ada yang ingin paman bicarakan denganmu”.
Zhiyang dan sarah menuju sofa yang ada di ruang inap Barom.
“ada apa paman?”.
“kau sudah tau semuanyaa, dan paman tiddak ingin kau kenaapa-napa, Barom itu seorang pria kuat, dia akan tetap baik-baik saja, tapi tidak denganmu”.
“maksud paman”.
“paman dan Barom sepakat membawamu pindah ke Los Angeles, disana akan lebih aman untukmu”.
“tidak, aku anak keluarga Marley, maka aku juga harus melindungi keluargaku, peninggalan kedua orang tuaku”.
“demi keselamatanmu”.
“aku tidak peduli, aku akan tetap berada di sisi Barom apapun yang terjadi”.
“kau wanita yang sangat baik, paman tidak akan membiarkanmu tergores sekecil apapun”.
“terima kasih paman”.
Kevin masuk membawa bucket bunga lili, entah kenapa semua anggota keluarga Marley menyukai bunga lili, bahkan Barom pun dari kecil menyukai bunga lili.
“cepat sembuh Bar”. Ucap Kevin sembari meletakkan bunga nya di naakas samping ranjang.
“ya, terima kasih telah menjaga adikku”.
__ADS_1
“tidak perlu berterima kasih, itu adalah tugasku”.
Barom mengangguk.