Billionaire Obsession Of Martine

Billionaire Obsession Of Martine
Episode 23


__ADS_3

“Alexa, aku kakaknya”.


“kau sedang berbohong”.


“tidak, ini kartu namaku”. Alexa memberikan kartu namanya pada Michael “aku bisa membantumu


mengembangkan club ini, jika kau mau menjaganya untukku”.


Flashback off


“aku akan menghancurkannya seperti dia menghancurkanku, kalau bisa menghilangkannya dari


muka bumi”.


“bagus”.


Nicko datang dengan terburu, pria itu membawa sebuah data-data yang diambilnya secara diam-diam


mengenai Sarah dan siapa keluarga dibaliknya. Sebelum Sarah menghilang ketika dia datang untuk membunuhnya.


“nyonya Alexa, ada berita mengenai Sarah”. Ucap Nicko yang membuat Alexa dan Viviana menengok


“apa?”.


“Sarah adalah anak kedua dari tuan dan nyonya Marley”.


“what? Katakan dengan jelas, dia hanya anak panti yang tidak tau kemana orang tuanya”.


“memang benar nyonya, beberapa tahun yang lalu tuan dan nyonya Marley membawa Sarah ke panti itu,


sebelum mereka mati di bunuh”.


“bukankah anaknya hanya Barom Marley?”.


“tuan Barom menjemput Sarah secara langsung, bahkan berniat membawanya ke Hongkong untuk beberapa


waktu”.


“sebelum mereka pergi, bagaimanapun caranya kau harus melenyapkan wanita itu”. Bentak Alexa kesal


“aku akan membunuhnya sekarang”. Ucap Viviana yang membuat Alexa dan Nicko menatap Viviana tidak


percaya “aku tau cara masuk apartemennya, aku tau sandi apartemennya, dia tidak mungkin menggantinya”.


“apa kau yakin?”.


“sangat yakin”.


“baiklah aku tidak akan melarangmu, tapi kau harus berhati-hati jangan samai ada yang tau akan hal


ini”.


“aku mengerti”.


Viviana meninggalkan kediaman Alexa menuju apartemen Sarah.


Dengan menggunakan taksi, Viviana sampai di depan apartemen Sarah, wanita itu langsung masuk


menggunakan Lift, saat ingin masuk, dia mendengar suara Kevin. Viviana bersembunyi dibalik tembok menunggu Kevin sampai keluar. Lalu masuk kedalam lift.


Hingga didepan pintu apartemen Sarah, Viviana memencet bel yang berada di samping pintu menunggu


Sarah membukanya. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, Sarah menatap tajam Viviana.


Tiba-tiba Viviana berlutut di kaki Sarah sembari menangis sesenggukan.


“aku minta maaf Sarah, harusnya aku tidak iri denganmu, bunda menyayangi kami semua, harusnya aku


tidak seperti ini. Aku mohon maafkan aku”.

__ADS_1


Sarah menunduk membawa Viviana untuk berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam Apartemen.


“duduklah, aku akan mengaambilkan air minum, kau tidak salah apapun, aku sudah memaafkanmu


Viviana”.


Viviana mengangguk dan duduk di ruang tamu. Sedangkan Sarah menuju dapur untuk mengambilkan air minum


dan beberapa camilan.


Sarah datang dengan dua gelas coklat panas dan beberapa camilan kue kering.


“minumlah untuk menghangatkan badanmu”. Ucap Sarah


“Sarah, terima kasih kau baik padaku walaupun aku sudah sangat jahat denganmu”.


“iya, kamu juga orang baik, tapi kamu salah mengartikan sikap orang lain”.


“bolehkan aku pinjam chargermu?”.


“tentu saja, aku akan ambilkan di kamar, tunggu sebentar”.


“hm”.


Sarah beranjak dari sofa dan masuk kekamarnya untuk mengambil Charger.


Viviana melihat lebih jelas apakah sarah sudah masuk apa belum, dia memasukkan sebuah obat ke dalam


minuman milik Sarah dan menyimpan nya kembali ke saku setelah selesai.


Sarah tersenyum keluar dari kamar.


“ini, pakai saja”.


“terima kasih sar”.


Viviana mencari stop kontak di samping televise, melihat dari ekor matanya Sarah meminum coklat


‘kau akan benar-benar menghilang dari muka bumi ini Sarah’.


Telepon Viviana berdering.


“tunggu, aku akan mengangkatnya sebentar”.


Sebenarnya itu bukannya dering telepon, melainkan hanyalah ringtone.


“maafkan aku Sarah, aku tidak bisa lama disini, aku harus segera ke gedung teater, jangan lupa melihat


pertujukkanku minggu depan”.


“baiklah hati-hati di jalan”.


Viviana meninggalkan apartemen sarah dengan senyuman liciknya. Saat berada di Lift, tanpa sengaja


Viviana berpapasan dengan Kevin, namun Viviana mencoba menutupi wajahnya dengan Hodie yang tengah dia pakai. Begitupula Kevin yang tidak begitu yakin kalau itu Viviana.


Kevin berjalan menuju apartemen Sarah, ada dokumennya yang ketinggalan. Sampai di depan apartemennya,


beberapa kali pria itu memencet bel tapi tidak di buka sama sekali, Kevin fikir Sarah sudah tertidur, akhirnya pria itu membukanya sendiri, karena mamang tau apa password apartemen Sarah.


Pintu terbuka, mata Kevin langsung tertuju pada Sarah yang tertidur di sofa, namun anehnya ada


pecahan gelas di bawah. Kevin ingat dengan orang yang berpapasan dengannya.


Pria itu membawa Sarah kedalam gendongannya menuju keluar apartemen, nafas Sarah tersenggal-senggal,


bahkan serasa sudah ingin menghilang.


Kevin menghubungi Ronald saat berada di mobil.

__ADS_1


“tunggu sebentar sayang,kita akan segera sampai rumah sakit”.


Jawabannya dari Ronald.


“Halo tuan Martine, ada apa?”.


“bagaimana kerjamu hah? Bagaimana bisa Viviana masuk dan emmbuat sarah sekarat”.


“saya tidak mengerti tuan”.


“temukan cctv sekarang, penjarakan Viviana!”.


“baik tuan”.


Sampai di rumah sakit, Kevin membawa Sarah masuk dibantu beberapa dokter yang ada di rumah sakit itu.


“tunggu di luar tuan, kami akan melakukan pertolongan pada nona Sarah”.


Kevin mengangguk.


“selamatkan dia”.


“baik tuan”.


Pintu tertutup. Menyisakan Kevin yang mendar-mandir di depan pintu.


Beberapa menit kemudian, Barom datang dengan dua pengawalnya. Pria itu Nampak sangat marah


melihat Kevin ,karena setahunya Kevin yang terakhir bersama Sarah.


Barom menarik kerah baju Kevin. “apa yang kau lakukan pada adikku hah?”.


“aku tidak tau”.


“apa kau bilang? Kemana saja kau!”.


Ronald datang langsung memisahkan mereka berdua.


“tolong tenang sedikit tuan Barom, tuan Martine lah yang membawa nona Sarah ke rumah sakit, nona Sarah


diracuni sepertinya, Viviana datang sebelum itu, kami sudah menyerahkan kasus ini ke kepolisian”.


Kevin menunduk dan duduk dibawah, menenggelamkan wajahnya di dedua kakinya, air mata pria itu


jatuh, kali kedua dia menangisi seseorang setelah kedua orang tuanya meninggal.


Ronald membawa Barom menjauh dari Kevin. Mereka berdua berbincang-bincang dibalik tembok.


“ada apa?”.


“saya ingin menyampaikan bahwa tuan Martine sangat mencintai nona Sarah, tuan Barom tau sendiri kalau


tuan Martine selalu berganti paasangan one night stand, tapi sejak mengenal nona Sarah, dia tidak pernah sekalipun melakukannya lagi. Bahkan untuk pertama kalinya, saya melihat tuan Martine menangis selain di pemakaman orang tuanya”.


Barom terdiam, dia juga merasakan hal yang sama, bahwa Kevin mengistimewakan adiknya, bahkan Kevin


lebih dulu dekat dengan adiknya ketimbang dirinya yang kakak kandung Sarah.


“aku tau dari awal memang Kevin telah merubah dirinya untuk adikku, tapi-“.


“apa yang tuan Barom ragukan lagi?”.


“aku baru pertama kali bertemu dengan adikku, aku tidak tau dia seperti apa, yang aku tau dia tidak


boleh berada dalam bahaya, aku akan tetap membawanya ke Hongkong setelah dia sadar, disini tidak aman untukku”.


“saya tau tuan, itu memang benar, banyak yang mengincar nyawa nona Sarah”.


“siapa itu Viviana?”.

__ADS_1


“dia anak panti yang sepertinya di setir seseorang untuk membunuh nona Sarah”.


“aku akan melenyapkan otak dibaliknya”. Ucap Barom dengan amarah


__ADS_2