
Flashback
Sepasang suami istri beserya anak kecil pria berjalan di sebuah halaman rumah yang lumayan mewah, mereka bertiga Nampak sangat bahagia satu sama lain bersama di belakangnya ada beberapa pengawal yang berjaga di antara mereka.
Pintu putih terbuka lebar menampakkan sang pemilik rumah, menyambut mereka dengan senyuman lebar, disampingnya juga ada anak kecil laki-laki yang membawa sebuah mainan mobil-mobilan
Kevin dan Barom saling bertemu dalam satu tatap di rumah keluarga Abraham saat keluarga Marley berkunjung.
Dua anak laki-laki tersebut saling memberikan tatapan kebencian. Barom yang biasa hanya bermain sendiri dan tidak pernah memiliki teman. Dan Kevin yang hanya bermain bersama teman-teman kompleknya menjadi paling jagoan.
“apa kabar? Silakan masuk”. Tanya tuan Abraham sembari menyuruh masuk.
Mereka semua masuk tanpa terkecuali, nyonya Abraham menyuruh putranya untuk mengajak Barom bermainn bersama, namun Kevin menolak. Hingga Baro sendiri duduk di halaman rumah sendirian. Kevin datang membawa cemilan yang disuruh nyonya Abraham, ibunya untuk memberikan pada Barom.
“thank you”. Ucap Barom.
“namaku Kevin”. Kata Kevin datar dan sedikit malu-malu
“Barom”. Sembari melihat kearah Kevin dan tersenyum.
“apa kita bisa berteman?”.
“tentu saja”.
Akhirnya Barom bermain dengan Kevin, bahkan Barom tidak ingin pulang kerumah, dan sering bermain dengan Kevin di ruumahnya. Hingga beranjak remaja, saat nyonya Marley hamil anak kedua atau adik Barom, Kevin lah yang sering datang kerumah Barom hanya untuk melihat adik Barom.
“kita bisa menjadi saudara kalau aku menikah dengan adikmu”. Ucap Kevin dengan polos
“no! dia milikku, dia adikku”.
“tapi, bukankah kau hanya sebatas kakaknya, dia akan menikah seperti ayah dan ibu”.
Barom berfikir logika dan mengangguk setuju dengan ucapan Kevin.
“bagaimana kalau kau tidak menyukai adikku karena dia jelek?”.
“entah”.
“kalau begitu jangan”.
Flashback off
Kevin dan Barom salling memandang dan tertawa mengingat bagaimana mereka saat kecil, hingga Sarah datang diantara mereka dan terheran melihat kakaknya dan Kevin tertawa hanya Karena saling menatap dan terlarut dengan pemikiran masing-masing.
“apa yang kalian tertawakan?”. Tanya Sarah penasaran
“tidak ada”. Jawab Kevin singkat, namun Barom masih saja tertawa
Dalam hati Sarah dia sangat bahagia saat ini, semua orang yang di sayangi semu ada di sisinya dan bahkan sangat hidup dengan baik.
♣
Seorang pria baru saja menginjakkan kakinya di New York setelah penerbangannya yang lumayan panjang. Pria itu kembali tat kala mendengar tentang adiknya. Brian, dia terlihat sangat tergesa memasuki taksi, tujuannya adalah rumah yang ada di pinggiran kota yaitu rumah milik Alexa.
Sampai di depan rumah tersebut, Brian memencet tombol bel yang terdapat di samping kanan gerbang.
__ADS_1
Gerbangpun terbuka untuknya setelah beberapa saat ditanyai oleh penjaga.
Disebuah ruang tamu, Alexa duduk sangat anggun, sama persis dengan Alexa adiknya yang dikenal Brian sejak kecil.
“bagaimana kabarmu?”. Tanya Brian
“tidak baik sejak Sarah membunuh Megan”.
“kau salah faham lex”.
“hahahaha kau membelanya karena kau menyukainya”.
“aku tidak menyukainya lagi dan aku tidak membelanya, bahkan bukan hanya kau yag menginginkan Sarah mati”.
“maksudmu?”.
“aku juga menginginkan Sarah mati dan aku memutuskan gabung golongan putih untuk membunuhnya”.
“bagus, kalau begitu tujuan kita sama”.
“tapi otak dari kematian Megan itu Martine Abraham, dia yang membuat Megan hamil dan memutuskan bunuh diri”.
“ya aku tau”.
“kau tau?”.
“tentu saja, aku tidak sebodoh itu. Kelemahan tuan Martine hanyalah Sarah”.
“bagus kalau kau masih mengerti maksudku”.
“tidak”.
Brian membisikkan sesuatu pada Alexa yang berhasil membuat Alexa tersenyum licik.
♣
Kevin dan Sarah memutuskan kembali ke New York saat Barom sudah kembali pulih, Sarah harus menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Kevin, pria itu akan pergi ke Los Angeles karena ada pertemuan bisnis dengan perusahaan property paling ternama di California.
Pesawat mereka sampai di New York sudah menjelang malam. Kevin mengantarkan Sarah ke apartemen miliknya, Apartemen Sarah tidak aman untuk wanta itu tinggali, walaupun banyak sekali barang-barang Sarah yang ada di sana, Kevin hanya mengijinkan Sarah mengambil barangnya sewaktu pagi datang, itupun bersama Ronald.
“tinggalah disini sampai aku kemballi dari Los Angeles”. Ucap Kevin sembari mengganti kemejanya dengan kemeja miliknya.
Sarah mengangguk, wanita itu duduk di ranjang Kevin.
“baiklah, aku harus pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik”. Kevin meninggalkan apartemennya tanpa Ronald.
Ronald tetap tinggal bersama Sarah.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat Sarah menengokkan kepala kearah pintu.
“nona Sarah, makan malam sudah siap”.
Suara Ronald terdengar dari luar “saya akan menunggu diluar, apakah nona ingin dibelikan sesuatu?”.
__ADS_1
Sarah beranjak dari ranjangnya, menuju kearah pintu dan membuka.
“apa kau bisa membelikanku sesuatu?”.
“tentu saja nona”.
“aku ingin minum Coffee late di kedai depan tempat kerjaku”.
“baiklah, saya akan membelikan. Tunggu sebentar”.
“teria kasih, maaf merepotkanmu”.
“itu adalah tugas saya, saya permisi sebentar nona”.
Sarah mengangguk.
Tubuh Ronald menghilang dibalik pintu, Sarah menuruni tangga menuju ruang makan. Sudah tersedia makan malam untuknya sangat banyak. Ronald serig memasak untuk Kevin, dan menurutnya masakan Ronald tidak kalah dengan masakan restaurant mahal.
Ding dong
Dentingan terdengar dari ponsel Sarah, sebuah pesan berasal dari nomor yang tidak diketahui. Pesan yang berisi foto Viviana di tutup mulut dan di ikat tubuhnya dengan kursi. Tempatnya seperti rumah kosong.
“Viviana!”. Sarah menjatuhkan sendoknya.
Wanita itu berusaha menghubungi nomor tersebut, tapi tidak bisa.
Hingga sebuah panggian masuk berasal dari nomor yang tidak dikenal juga.
“halo”.
“halo Sarah Nicole Marley, bagaimana kabarmu hm?”.
“brian”.
“kau masih mengingat suaraku ternyata”.
“apa yang kau inginkan?”.
“kau sudah melihat foto yang kukiirimkan? Sepertinya sudah, aku bisa membunuh siapapun, termasuk Viviana”.
“kenapa kau lakukan itu?”.
“tidak ada, datang lah sekarang aku akan mengirimkan lokasi untukmu, jangan bawa siapapun, atau aku akan membunuhnya”.
“ingat, seorang diri, karena aku akan tau kalau kau membawa seseorang”.
“baik aku akan kesana”.
Telepon tertutup, sarah langsung beranjak dari duduknya menuju kamar mengambil sebuah jaket dan meninggalkan ponselnya setelah melihat lokasi yang di kirimkan Brian. Lokasi tersebut tidak jauh dari kota tempatnya tinggal saat ini. Mungkin membutuhkan waktu 15 menit itupun kalau lambat dann tengah macet.
Sarah keluar dari apartemen terburu-buru, wanita itu mengambil salah satu kunci mobil milik Kevin dan meninggalkan Apartemen dengan mobil mewah milik Kevin menuju alamat Brian.
Sampai di alamat tersebut, tidak ada tanda-tanda bahwa ada manusia di sana, semua terlihat sepi.
“kalian semua dimana?”. Teriak Sarah, malam semakin larut, udarapun semakin menusuk kulit.
__ADS_1