
“gelang ini, apa kau menyimpannya?”.
“aku menyimpannya”. Sarah beranjak dari tempat duduk menuju kamarnya untuk mengambil gelang
tersebut.
Sarah membawanya kepada Barom.
“kau memang benar adikku, Nicole Marley”.
Barom kembali memeluk Sarah, namun bersamaan dengan Kevin datang dan memisahkan mereka.
“kalian pria dan wanita, tidak boleh berpelukan lama”. Ucap Kevin ketus
“apa yang salah denganmu, dia adikku”.
“ya aku tau dia adikmu, tapi kau lama tidak bertemu dangannya”.
Pandangan Barom menatap mereka berdua tajam. “kalian”.
“aku kekasih adikmu”. Ucap Kevin
“tidak- tidak, kau pasti bercanda”.
“aku memang kekasih Kevin”. Ucap Sarah yang membuat Barom tidak percaya, Barom mengenal Kevin sejak
lama, tau bagaimana sifat Kevin.
Tanpa basa-basi Barom menarik baju Sarah memeperlihatkan pundaknya dan memar.
Melihat hal tersebut, Barom manarik kerah kemeja yang dipakai Kevin.
“kau menyakitinya?”.
“sudah, aku tidak apa”.
“dia menyakitimu, kau adikku, dan dia juga menyakitiku secara tidak langsung”.
“maafkan aku”. Ucap Kevin tanpa perlawanan
“aku tidak ingin kalian berhubungan sebagai sepasang kekasih sebelum Kevin merubah sikapnya. Dan kau
Nicole, minggu depan ikut denganku ke Hongkong, aku akan mengurus semuanya”.
“tidak, kenapa aku harus ikut denganmu ke Hongkong”. Bantah Sarah
“aku ingin kau bertemu dengan paman”.
“kau berniat memisahkanku dengan Sarah”. Sela Kevin tidak terima dengan keputusan Barom
“tidak, tapi kau harus merubah kebiasaan burukmu, jangan pernah sakiti adikku atau kau akan berurusan
denganku”.
“baiklah aku akan berjanji tidak menyakitinya”.
“bagus, tapi Nicole tetap ikut denganku ke Hongkong, karena niat ku memang untuk mempertemukan
paman dengan adikku. Setelah itu dia bisa kembali ke sini”.
“baiklah”.
♣
Barom berpamitan untuk pergi terlebih dahulu karena ada yang ingin di urusnya.
Tinggal Sarah dengan Kevin, wajah Sarah Nampak sangat bahagia dan hal itu membuat Kevin juga senang.
Walaupun Sarah jarang menunjukkan wajah sedih, tapi aura yang dikeluarkan wanita itu kali ini sangat berbeda. Entah kenapa dia penasaran dengan gelang itu, karena setahunya gelang itu dipakai Megan.
“kev, kenapa?”. Tanya Sarah yang melihat Kevin melamun
“tidak ada, aku baru tau kau juga memiliki gelang yang sama dengan gelang yang dipakai Barom”.
“ya itu gelang dari Bunda sejak aku kecil”.
__ADS_1
“kenapa tidak pernah kau pakai?”.
“gelang ini mengingatkanku pada Megan, dia menyukai gelang ini sewaktu kita berteman di
sekolah menengah atas, dia sahabat baikku, tapi dia sudah tidak ada sekarang”.
“kemana?”.
“dia sudah tiada”.
“maaf aku tidak bermaksud mengingatkanmu”.
“tidak masalah”.
“bagaimana kalau makan malam? Kau bisa menunjukkan tempat makan yang paling kau sukai”.
“boleh, aku akan berganti pakaian terlebih duhulu”.
Sarah selesai mengganti pakaian nya dengan jeans dan kaos pendek, tak lupa jaketnya. Mereka berdua
pergi keluar untuk membeli makanan.
Sampai disebuah gang kecil, disamping gang tersebut ada sebuah kedai yang masih buka sampai malam,
kedai yang tidak mewah namun penuh dengan pengunjung, bahkan tidak ada tempat duduk. Saat mereka datang, semua mata tertuju pada mereka dan saling berbisik satu sama lain. Hingga pemilik kedai datang.
“nona Sarah, ingin makan apa? saya akan siapkan tempat didalam”.
“seperti biasanya”.
“baik, mari silakan”.
Sarah dan Kevin mengikuti langkah penjual tersebut menghiraukan tatapan memuji semua orang
terhadap nya.
Mereka berdua duduk disalah satu meja, beberapa orang mengambil foto mereka secara diam-diam untuk
di unggah di media social.
“terima kasih”.
“sama-sama nona”.
“makanan disini sangat enak, kau bisa mencobanya, aku bisa menjamin”. Ucap Sarah sembari meminum
minumannya.
“oke”.
Satu sendok masuk ke mulut Kevin, pria itu mengunyah perlahan, sedangkan Sarah memperhatikan
reaksinya yang sulit tertebak.
“bagaimana?”.
“enak”.
Kevin kembali memakan makanannya dengan lahap.
♣
Viviana Nampak sangat cemas duduk sendirian di taman belakang, hingga seorang wanita cantik bertubuh
seksi menghampirinya.
Alexa, wanita tidak begitu tua memiliki anak satu bernama Aldo. Dia adalah pemilik rumah dan
beberapa kekayaan lainnya peninggalan orang tua. Alexa tinggal disana sejak melahirkan Aldo.
“apa yang kau fikirkan, bagaimana tugasmu? Aku menyuruhmu membuat menderita Sarah”. Ucap Alexa tegas
“tidak”.
“kau mulai membangkang?”.
__ADS_1
“kenapa kau menginginkan Sarah mati, dia baik padaku”.
“kau sudah terdoktrin orang lain, ingat bahwa karena dia kau dikucilkan, kau dianggap tidak berguna,
kau lupa?”.
Viviana terdiam.
Flashback
Micella tengah berada di dapur bersama anak-anak untuk makan malam, Viviana yang sedang berada di
sekolah, harus pulang malam, karena mengikuti teater.
Viviana baru saja memasuki rumah, beberapa kali dia berteriak salam tapi tidak ada jawaban.
Langkah kakinya membawa Viviana kearah dapur, Micella dan beberapa anak makan malam bersama.
“bunda, kenapa Sarah pergi?”.
“Sarah itu pintar, dia lulusan terbaik, Sarah harus bekerja. Dari kecil Sarah sudah sangat
membanggakan, kalian juga harus seperti itu”.
“apakah Viviana juga sangat membanggakan?”.
“Viviana juga, tapi kalian harus bisa seperti Sarah”.
“apa itu tandanya Viviana tidak membanggakan untuk bunda?”.
“belum membanggakan, dia selalu menghabiskan uang untuk sekolah, berbeda dengan Sarah yang dari dulu
mendapatkan beasiswa”.
Mendengar hal tersebut, Viviana berlari keluar sembari menangis. Viviana duduk di taman depan rumah
sendirian. Memang benar apa yang dikatakan oleh Micella tapi bukan berarti mengatakan hal tersebut pada semua anak-anak di panti dan memanggakan Sarah.
Hatinya sudah kalut, mungkin beberapa kali Viviana dapat memaklumi karena Micella memang sangat
dekat dengan Sarah, tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Wanita itu berlari menuju jalanan menghentikan sebuah bus yang lewat dan pergi ke kota, entah tujuannya kemana, dia hanya ingin sendiri.
Bus tersebut berhenti di pemberhentian dekat stasiun kereta bawah tanah. Viviana turun dan berjalan
menuju stasiun bawah tanah. Ini kali pertama dia bertemu dengan Michael.
“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya seorang pria tampan tak lain adalah Michael, Viviana mendongak
melihat tatapaan Michael yang tajam namun teduh untuknya. “kau baik-baik saja? Apa kau lapar?”.
Viviana mengangguk
“baiklah, ikut denganku aku akan mentraktirmu”. Michael mengulurkan tangannya pada Viviana sembari
tersenyum
Mereka Nampak sangat bahagia, dengan Viviana yang selalu tersenyum disamping Michael. Dengan penuh
keyakinan Michael mengajak Viviana ke bar miliknya yang berada di dekat stasiun, dan untuk pertama kalinya Viviana meminum wine.
“apakah tidak apa?”. Tanya Viviana takut
“kau akan baik-baik saja, masalahmu akan terlupakan dengan ini, percaya padaku”.
Pada akhirnya Viviana meminum wine tersebut, walaupun untuk pertama kali, namun dengan hal itu, Viviana sangat menyukai wine yang bisa melupakan semua masalahnya.
“bagaimana hm?”. Tanya Michael sambil merangkul pinggang Viviana posesif
“sangat membuat kepalaku pusing”.
“apa kau melupakannya?”.
“tentu saja,, siapa mereka, bukan orang penting untukku”.
Seorang wanita cantik, dengan pakaian sangat seksi menghampiri Michael dan Viviana.
__ADS_1
“siapa kau?”. Tanya Michael menatap tubuh wanita itu dari atas hingga bawah, semuanya barang mahal.