Billionaire Obsession Of Martine

Billionaire Obsession Of Martine
Episode 22


__ADS_3

“gelang ini, apa kau menyimpannya?”.


“aku menyimpannya”. Sarah beranjak dari tempat duduk menuju kamarnya untuk mengambil gelang


tersebut.


Sarah membawanya kepada Barom.


“kau memang benar adikku, Nicole Marley”.


Barom kembali memeluk Sarah, namun bersamaan dengan Kevin datang dan memisahkan mereka.


“kalian pria dan wanita, tidak boleh berpelukan lama”. Ucap Kevin ketus


“apa yang salah denganmu, dia adikku”.


“ya aku tau dia adikmu, tapi kau lama tidak bertemu dangannya”.


Pandangan Barom menatap mereka berdua tajam. “kalian”.


“aku kekasih adikmu”. Ucap Kevin


“tidak- tidak, kau pasti bercanda”.


“aku memang kekasih Kevin”. Ucap Sarah yang membuat Barom tidak percaya, Barom mengenal Kevin sejak


lama, tau bagaimana sifat Kevin.


Tanpa basa-basi Barom menarik baju Sarah memeperlihatkan pundaknya dan memar.


Melihat hal tersebut, Barom manarik kerah kemeja yang dipakai Kevin.


“kau menyakitinya?”.


“sudah, aku tidak apa”.


“dia menyakitimu, kau adikku, dan dia juga menyakitiku secara tidak langsung”.


“maafkan aku”. Ucap Kevin tanpa perlawanan


“aku tidak ingin kalian berhubungan sebagai sepasang kekasih sebelum Kevin merubah sikapnya. Dan kau


Nicole, minggu depan ikut denganku ke Hongkong, aku akan mengurus semuanya”.


“tidak, kenapa aku harus ikut denganmu ke Hongkong”. Bantah Sarah


“aku ingin kau bertemu dengan paman”.


“kau berniat memisahkanku dengan Sarah”. Sela Kevin tidak terima dengan keputusan Barom


“tidak, tapi kau harus merubah kebiasaan burukmu, jangan pernah sakiti adikku atau kau akan berurusan


denganku”.


“baiklah aku akan berjanji tidak menyakitinya”.


“bagus, tapi Nicole tetap ikut denganku ke Hongkong, karena niat ku memang untuk mempertemukan


paman dengan adikku. Setelah itu dia bisa kembali ke sini”.


“baiklah”.



Barom berpamitan untuk pergi terlebih dahulu karena ada yang ingin di urusnya.


Tinggal Sarah dengan Kevin, wajah Sarah Nampak sangat bahagia dan hal itu membuat Kevin juga senang.


Walaupun Sarah jarang menunjukkan wajah sedih, tapi aura yang dikeluarkan wanita itu kali ini sangat berbeda. Entah kenapa dia penasaran dengan gelang itu, karena setahunya gelang itu dipakai Megan.


“kev, kenapa?”. Tanya Sarah yang melihat Kevin melamun


“tidak ada, aku baru tau kau juga memiliki gelang yang sama dengan gelang yang dipakai Barom”.


“ya itu gelang dari Bunda sejak aku kecil”.

__ADS_1


“kenapa tidak pernah kau pakai?”.


“gelang ini mengingatkanku pada Megan, dia menyukai gelang ini sewaktu kita berteman di


sekolah menengah atas, dia sahabat baikku, tapi dia sudah tidak ada sekarang”.


“kemana?”.


“dia sudah tiada”.


“maaf aku tidak bermaksud mengingatkanmu”.


“tidak masalah”.


“bagaimana kalau makan malam? Kau bisa menunjukkan tempat makan yang paling kau sukai”.


“boleh, aku akan berganti pakaian terlebih duhulu”.


Sarah selesai mengganti pakaian nya dengan jeans dan kaos pendek, tak lupa jaketnya. Mereka berdua


pergi keluar untuk membeli makanan.


Sampai disebuah gang kecil, disamping gang tersebut ada sebuah kedai yang masih buka sampai malam,


kedai yang tidak mewah namun penuh dengan pengunjung, bahkan tidak ada tempat duduk. Saat mereka datang, semua mata tertuju pada mereka dan saling berbisik satu sama lain. Hingga pemilik kedai datang.


“nona Sarah, ingin makan apa? saya akan siapkan tempat didalam”.


“seperti biasanya”.


“baik, mari silakan”.


Sarah dan Kevin mengikuti langkah penjual tersebut menghiraukan tatapan memuji semua orang


terhadap nya.


Mereka berdua duduk disalah satu meja, beberapa orang mengambil foto mereka secara diam-diam untuk


di unggah di media social.


“terima kasih”.


“sama-sama nona”.


“makanan disini sangat enak, kau bisa mencobanya, aku bisa menjamin”. Ucap Sarah sembari meminum


minumannya.


“oke”.


Satu sendok masuk ke mulut Kevin, pria itu mengunyah perlahan, sedangkan Sarah memperhatikan


reaksinya yang sulit tertebak.


“bagaimana?”.


“enak”.


Kevin kembali memakan makanannya dengan lahap.



Viviana Nampak sangat cemas duduk sendirian di taman belakang, hingga seorang wanita cantik bertubuh


seksi menghampirinya.


Alexa, wanita tidak begitu tua memiliki anak satu bernama Aldo. Dia adalah pemilik rumah dan


beberapa kekayaan lainnya peninggalan orang tua. Alexa tinggal disana sejak melahirkan Aldo.


“apa yang kau fikirkan, bagaimana tugasmu? Aku menyuruhmu membuat menderita Sarah”. Ucap Alexa tegas


“tidak”.


“kau mulai membangkang?”.

__ADS_1


“kenapa kau menginginkan Sarah mati, dia baik padaku”.


“kau sudah terdoktrin orang lain, ingat bahwa karena dia kau dikucilkan, kau dianggap tidak berguna,


kau lupa?”.


Viviana terdiam.


Flashback


Micella tengah berada di dapur bersama anak-anak untuk makan malam, Viviana yang sedang berada di


sekolah, harus pulang malam, karena mengikuti teater.


Viviana baru saja memasuki rumah, beberapa kali dia berteriak salam tapi tidak ada jawaban.


Langkah kakinya membawa Viviana kearah dapur, Micella dan beberapa anak makan malam bersama.


“bunda, kenapa Sarah pergi?”.


“Sarah itu pintar, dia lulusan terbaik, Sarah harus bekerja. Dari kecil Sarah sudah sangat


membanggakan, kalian juga harus seperti itu”.


“apakah Viviana juga sangat membanggakan?”.


“Viviana juga, tapi kalian harus bisa seperti Sarah”.


“apa itu tandanya Viviana tidak membanggakan untuk bunda?”.


“belum membanggakan, dia selalu menghabiskan uang untuk sekolah, berbeda dengan Sarah yang dari dulu


mendapatkan beasiswa”.


Mendengar hal tersebut, Viviana berlari keluar sembari menangis. Viviana duduk di taman depan rumah


sendirian. Memang benar apa yang dikatakan oleh Micella tapi bukan berarti mengatakan hal tersebut pada semua anak-anak di panti dan memanggakan Sarah.


Hatinya sudah kalut, mungkin beberapa kali Viviana dapat memaklumi karena Micella memang sangat


dekat dengan Sarah, tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Wanita itu berlari menuju jalanan menghentikan sebuah bus yang lewat dan pergi ke kota, entah tujuannya kemana, dia hanya ingin sendiri.


Bus tersebut berhenti di pemberhentian dekat stasiun kereta bawah tanah. Viviana turun dan berjalan


menuju stasiun bawah tanah. Ini kali pertama dia bertemu dengan Michael.


“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya seorang pria tampan tak lain adalah Michael, Viviana mendongak


melihat tatapaan Michael yang tajam namun teduh untuknya. “kau baik-baik saja? Apa kau lapar?”.


Viviana mengangguk


“baiklah, ikut denganku aku akan mentraktirmu”. Michael mengulurkan tangannya pada Viviana sembari


tersenyum


Mereka Nampak sangat bahagia, dengan Viviana yang selalu tersenyum disamping Michael. Dengan penuh


keyakinan Michael mengajak Viviana ke bar miliknya yang berada di dekat stasiun, dan untuk pertama kalinya Viviana meminum wine.


“apakah tidak apa?”. Tanya Viviana takut


“kau akan baik-baik saja, masalahmu akan terlupakan dengan ini, percaya padaku”.


Pada akhirnya Viviana meminum wine tersebut, walaupun untuk pertama kali, namun dengan hal itu, Viviana sangat menyukai wine yang bisa melupakan semua masalahnya.


“bagaimana hm?”. Tanya Michael sambil merangkul pinggang Viviana posesif


“sangat membuat kepalaku pusing”.


“apa kau melupakannya?”.


“tentu saja,, siapa mereka, bukan orang penting untukku”.


Seorang wanita cantik, dengan pakaian sangat seksi menghampiri Michael dan Viviana.

__ADS_1


“siapa kau?”. Tanya Michael menatap tubuh wanita itu dari atas hingga bawah, semuanya barang mahal.


__ADS_2