
Kevin menutup ponselnya, mengambil kunci mobil yang ditaruhya di meja. Saat keluar dari
ruangan dia bertemu dengan Ronald.
“tuan akan kemana?”.
“ada hal penting aku harus pergi sekarang”.
“tapi anda ada meeting hari ini”.
“batalkan”.
Kevin sedikit berjalan cepat menuju lift keluar gedung menggunakan mobilnya menuju tempat Natali.
Mobil Kevin berhenti tepat di depan mobil Natali, pria itu langsung keluar dari mobilnya dan menemui
Natali.
“dimana Sarah?”. Tanya Kevin khawatir
Natali memberikan ponselnya yang menunjukan sebuah map letak Sarah
“kemana dia akan pergi?”.
“sebelumnya aku menghubungi Sarah, dia mengatakan kalau bersembunyi karena dikejar wartawan.
Lalu aku menyuruhnya untuk mengirim lokasi agar aku bisa menjemputnya, namun lokasinya ada yang aneh, dia terus berjalan menjauh”.
“aku mengerti,aku bawa ponselmu, aku akan mengikutinya”.
“aku ikut denganmu”.
“baiklah kalau kau ingin ikut, biarkan mobilmu disini, aku akan menyuruh orang untuk mengembalikan
mobilmu ke kantor tempatmu bekerja”.
“baik”.
Natali dan Kevin mengikuti arah pergi lokasi Sarah, bahkan menjauh hingga pinggiran kota atau
lebih tepatnya hutan. Hingga lokasi tersebut berhenti.
Beberapa saat kemudian mobil Kevin juga berhenti tepat di belakang sebuah mobil hitam, Kevin langsung
keluar dan melihat mobil tersebut, hanya sisa tas milik Sarah di dalam. Pandangan Kevin tertuju pada rumah kecil yang tak jauh dari mobil tersebut terparkir.
“tunggu saja di sini, katakan jika aku kesana kalau Ronald datang”.
“baik”.
Kevin melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke rumah itu. Rumah desain lama dominan warna
abu-abu dan banyak seklai debu, bahkan lebih tepat di sebut gudang.
Sekali dobrakan, pintu terbuka, mengejutkan seseorang yang tengah berbincang dengan Sarah. Seorang
pria yang pernah ditemuinya, pria yang akhir-akhir ini mengikuti Sarah.
Kevin menarik kerah pria itu dan mendorongnya ke tembok.
“apa yang kau lakukan pada kekasihku!”. Bentak Kevin dengan wajah penuh emosi.
Sarah masih terikat di kursi.
Pria itu hanya diam dan terkekeh pelan.
“siapa kau sebenarnya?”. Tanya Kevin penuh penekanan
“hahaha berhati-hatilah”. Pria itu mendorong Kevin hingga jatuh dan berlari keluar dari
rumah tersebut.
Tatapan pria itu membuat Kevin mengurungkan niatnya untuk mengejar, dia lebih memilih melepaskan
ikatan Sarah.
“apa kau baik-baik saja sayang? Maaf aku terlambat”.
Sarah memeluk Kevin erat. “terima kasih”.
__ADS_1
“sudah, kau akan aman”.
Mereka berdua keluar dari rumah, di depan rumah sudah ada Ronald dan beberapa pengawalnya.
“apa tuan baik-baik saja?”. Tanya Ronald
“ya, pria itu kabur”.
Ronald terdiam dan membantu Kevin dan Sarah menuju mobil.
“Sarah”. Panggil Natali langsung memeluk Sarah “kau baik-baik saja kan?”.
“terima kasih sudah menolongku”.
♣
Dalam ruangannya, Ronald terdiam.
“jadi apa yang kau tahu?”.
“pria itu tuan Ricard, teman tuan Abraham”.
“bagaimana bisa?”.
“pertamanya saya tidak percaya jika itu teman tuan Abraham, tapi saya ingat terakhir kali bertemu
dengannya waktu itu tuan Abraham dan tuan Ricard tengah bermain poker”.
“apa hubungannya dengan Sarah”.
“saya tidak mengerti kenapa menargetkan nona Sarah, yang pasti tidak ada hubungan buruk antara tuan
Abraham dan tuan Ricard”.
“saat dia pergi, dia mengatakan hati-hati padaku”.
“saya yakin tuan Ricard menjaga nona Sarah, ada orang lain yang ingin mencelakai nona Sarah”.
“cari tau lebih detail siapa Sarah”.
Ronald mengelurkan map merah yang dibawanya sejak kemarin namun belum sempat di berikan pada Kevin.
“apa ini?”.
“nona Sarah datang ke panti bersama dengan orang tuanya, wakktu itu nona Sarah masih berumur 2
tahun”.
Kevin mengambil foto yang ada di map tersebut, sebuah foto pria dann wanita yang tengah tersenyum sambil
menggendong bayi cantik yang Kevin yakin itu adalah Sarah.
“cari tau orang tua Sarah”.
“maaf tuan Martine, orang tua nona Sarah meninggal 2 hari sejak nona Sarah di titipkan”.
“sepertinya mereka memang tau akan kematian mereka dan menitipkan Sarah di tempat Micella”.
“benar tuan, orang tua nona Sarah datang sebelumnya dari China”.
“China?”.
“ya, tapi mereka tidak memiliki darah Asia”.
Suara ketukan pintu membuyarkan pembicaraan Kevin dan Ronald.
“masuk”.
Pintu terbuka, menampakkan Barom dengan 2 pengawalnya dan menunggu di luar.
“dimana gelangku?”. Tanya Barom
Kevin mengeluarkan gelang milik Barom dari dalam laci dan memberikannya pada pria itu.
“gelang itu sangat penting untukmu, memang kau dapatkan darimana?”.
“ini gelang peninggalan kedua orang tuaku, aku kemari untuk mencarinya”. Pandangan Barom tertuju pada
sebuah foto yang dibawa Kevin. Baron langsung mengambilnya “bagaimana bisa kau memiliki foto kedua orang tuaku? Dimana mereka sekarang?”.
__ADS_1
“orang tuamu?”.
“mereka kedua orang tuaku dan adikku”.
Ronald dan kevin saling memandang.
“ya aku mencari tau tentangnya”. Jawab Kevin singkat
“dimana mereka?”.
“maaf tuan Barom, mereka sudah meninggal 4 hari setelah datang ke New York”.
Barom menarik kerah Ronald “jangan becanda!”.
“tunggu, kau bisa tenang, yang dikatakan oleh Ronald benar, orang tuamu sudah tiada. Tapi adikmu,
dia masih hidup”.
Barom melepaskan kerah Ronald perlahan “dimana dia sekarang?”.
“aku akan mengantarmu menemuinya”.
Mereka berdua meninggalkan Ronald tetap disana, karena memang Kevin sengaja hanya membawa
Barom menemui adiknya.
Mobil Kevin berhenti di depan apartemen Sarah. Di ikuti Barom, Kevin masuk ke lift menuju lantai dimana
Sarah tinggal.
Tepat di depan pintu apartemen Sarah, setelah Kevin memencet bel pintu terbuka,, menampakkan Sarah
yang terkejut, tidak hanya Kevin tapi ada orang lain di sampingnya.
“ada apa? silakan masuk”.
Barom hanya diam, dia tidak tau mengatakan apa, dia sangat bahagia bisa bertemu dengan adiknya
kembali setelah sekian lama. Namun adiknya sangat akrab dengan Kevin
“jadi?”. Tanya Sarah bingung
“kau mencari keluargamu selama ini dengan susah payah”.
Sarah mengangguk, pandangannya tertuju pada Barom yang membawa gelang sama persis dengan
miliknya.
Barom yang mengerti dengan tatapan Kevin, begitu pula Kevin yang harus mengerti suasana untuk adik
dan kakak itu berinteraksi. Kevin memilih ijin ke dapur sebentar.
Air mata Sarah menetes.
“maafkan aku Nicole”. ucap Barom lirih
Sarah Nicole Marley, itu adalah nama Sarah yang sebenarnya, tapi Sarah sejak kecil hanya tau bahwa
namanya sebatas Sarah Nicole.
Sarah langsung memeluk Barom erat, menangis di pelukan pria itu, begitupula Barom, seorang pria yang
ditakuti menangis karena bertemu dengan adiknya yang sudah lama berpisah dengannya.
“aku merindukanmu Nicole”. ucap Barom kembali
Sarah melepas pelukannya dan mengusap air matanya yang jatuh.
“dimana ayah dan ibu”.
“mereka sudah tidak ada”.
Sarah terdiam kembali.
“aku mencarimu sejak dulu, dan berharap bisa segera menemukanmu. Lewat Kevin lah aku bisa bertemu
denganmu kembali”.
“aku juga berharap bisa menemukan kedua orang tuaku dan keluargaku, walaupun mereka sudah pergi jauh,
__ADS_1
setidaknya aku masih memilik keluarga lain”.