Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Bertemu


__ADS_3

“Tuan, apa yang kau lakukan? Saya harus pulang!” Sekuat tenaga Devina bangkit dari tubuh Tuan Prass yang memeluknya erat.


Hinga gerakan berontak Devina justru membuat pria itu merasakan gairahnya semakin memuncak. Aroma tubuh Devina begitu menyeruak, menambah rasa lapar pada hasrat Tuan Prass.


“Devina, ayo layani saya. Saya sangat menginginkannya.” Suara berat milik Tuan Prass begitu jelas terdengar.


Devina merasa sepertinya tidak akan rugi jika ia melakukannya. Tuan Prass orang ternama di kota ini.


Berontak yang ia lakukan semula, kini berganti menjadi gerakan sensual dan lembut.


“Apa pun yang kau minta aku akan berikan. Baiklah jika kau tidak mau terikat. Aku tidak akan memaksa.” Tuan Prass menatap dalam mata Devina.


Sungguh begitu cantik wanita di depannya.


“Wajahnya kenapa mirip dengan wajah Aluna?” batin Tuan Prass bermonolog. Bayangan wajah sang anak terlintas di benaknya namun segera ia tepis.


Devina dan Tuan Prass pun mulai berpelukan. Pria itu yang merasa tidak sabar menikmati tubuh indah Devina, akhirnya segera membuka pakaiannya.


“Biar saya bantu, Tuan.” ujar Devina.


Satu persatu kancing baju pria itu terlepas. Tuan Prass hanya duduk menikmati pemandangan indah di depannya. Sungguh tubuh Devina begitu membuat jiwa prianya memberontak.


Setelah semua terlepas kancingnya, kini Tuan Prass sendiri yang menarik bajunya untuk ia lepaskan dari tubuh kekar itu.


“Biarkan aku melepas celanaku, Dev.” Pria itu berdiri dari tempat tidur membelakangi Devina yang tetap duduk di kasur.


Deg!


Jantung Devina terhenti. Matanya membulat syok dan napasnya terasa sulit ia keluarkan dari dadanya.


“Sayang, sabar yah.” Suara khas Tuan Prass seketika tak dapat terdengar oleh Devina.


Wanita itu terdiam menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Tanda lahir merah seperi bulan di pinggang kanan.” batin Devina bermonolog mengingat kalimat yang pernah ia dengan dari mulut wanita yang melahirkannya dulu.

__ADS_1


“Dev! Devina!” Suara panggilan Tuan Prass yang meminta Devina melayaninya membuat Devina seketika tersentak kaget.


“Hah? A-a ada apa, Tuan?” Devina tergagap.


Hatinya bergemuruh seketika amarah ingin ia lepaskan saat itu juga.


“Dia pria itu?” gumam Devina.


Tangannya bahkan mengepal erat melihat tanda merah milik Tuan Prass. Tanpa ia sadari, tubuh pria di depannya sudah siap ingin menerkamnya.


“Tidak! Lepaskan saya! Lepaskan. Devina mengamuk. Tangannya memukul-mukul tubuh Tuan Prass.


Tidak. Ia tidak akan sudi tubuhnya di sentuh pria seperti Tuan Prass. Pria yang sudah meninggalkan sang ibu tanpa belas kasih.


“Devina, ayolah.” Tuan Prass sungguh tak bisa lagi menahan hasratnya.


Ia segera memaksa Devina untuk melayaninya. Dirinya tak sadar lagi karena pengaruh alkohol sudah menguasai saat ini.


“Tidak! Lepaskan saya!” Devina sampai menggigit pundak Tuan Prass saat merasakan kedua tangannya di genggam kuat oleh pria yang menindihnya saat ini.


Bugh!!


Seiring tendangan di bagian inti pria itu, suara Tuan Prass terdengar kesakitan.


Tangannya yang menggenggam kuat tangan milik Devina, segera ia lepas.


Wajahnya pun memerah kesakitan. Devina berlari keluar kamar.


“Devina jangan pergi kau! Dasar wanita si*alan!” umpat Tuan Prass kesal. Tak terima begitu saja, ia berlari mengejar Devina.


Malam ini ia tidak mau tahu, Devina harus memberikannya kepuasan.


“Tidak! Aku tidak boleh bertemu dengannya dalam keadaan mabuk seperti itu!” Devina berlari sekuat tenaga. Bahkan keringat di wajah pun tak ia hiraukan lagi.


Rambutnya berserakan di wajah hingga menutup sebagian wajahnya.

__ADS_1


“Aaa!”


Petugas hotel yang mendorong alat-alat perlengkapan kebersihan tak bisa menghindari tabrakan Devina.


Wanita itu melayang hampir menghantam benda beroda, namun tangan besar yang berasal dari pintu hotel samping Devina berada menariknya sangat kuat.


“Kau tidak apa-apa?” Pertanyaan pria itu tak membuat Devina sadar dari keterkejutannya.


Dia pria tampan dengan wajah yang sangat dingin. Namun, suara beratnya mampu membuat Devina gelagapan saat sadar.


“Em, i-ya. Ti-tidak.” jawab Devina berdiri dari tangkapan tangan pria bernama Alvaro berusia 27 tahun.


“Devina!” Teriakan di luar sontak membuat Devina kembali fokus dengan permasalahannya.


Belum sempat ia menengok ke arah lorong hotel, tangan besar Alvaro sudah menutup pintu hotel miliknya.


“Kau bisa di sini sementara.” Pria itu berjalan menuju ke dalam.


Devina menoleh menatap punggung tegap itu. Jas yang bertengger di tubuh Alvaro sayang pas dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap.


“Terimakasih,” ucap Devina setelah Alvaro duduk di sofa.


Sejenak Devina terdiam menunduk. Perasaan sedih dan marah kini menguasai pikirannya.


“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Devina, pencarianmu telah usai, langkah apa selanjutnya?” gumamnya berpikir.


“Minumlah!” Segelas air putih membuyarkan lamunan Devina. Matanya menatap tangan berbulu menggenggam gelas.


Pelan ia mengulurkan tangan untuk meraih gelas, “Duduklah di sofa. Aku juga harus membereskan pekerjaan.”


Ia mengikut langkah pria di depannya.


“Tenangkan dirimu. Kalau kau mau aku bisa mengantarmu pulang.” Devina menatap pria yang bicara padanya.


“Tidak, itu sangat merepotkan.” jawab Devina.

__ADS_1


Rasa syok membuatnya masih sulit mengendalikan diri. Tubuhnya terasa begitu kaku untuk bergerak. Dadanya yang sesak pun bahkan membuatnya benar-benar lemas.


“Tidak. Aku masih ada waktu luang dua jam kedepan.”


__ADS_2