
Hingga akhirnya perbincangan itu terhenti kala suara wanita tua yang memanggil nama Prass.
"Prass, Mami tidak mau tahu. Dia harus di penjara. Dia menyebabkan Yulia pergi, Prass. Cepat tuntut dia. Kamu harus tegas." Prass dan Zera sama-sama menoleh ke sumber suara.
Zera hanya menunduk usai mengetahui siapa yang datang. Ia pasrah apa pun yang akan mereka lakukan padanya saat ini. Yang terpenting Prass mau mendengar permohonannya untuk Devina.
"Tuan Prass, saya mohon pertimbangkan ucapan saya. Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari. Saya rela jika saya harus di tahan." tuturnya memelas.
Mendengar ucapan Zera tentu membuat kedua orangtua Yulia meradang. Mereka berpikir jika wanita yang melenyapkan nyawa anak mereka berusaha mencuci otak sang menantu.
"Heh kamu! Jangan berani-berani menggoda menantu saya yah? Jangan kamu pikir berhasil menyingkirkan istrinya, kamu bisa seenaknya mendekati Prass." wanita berambut putih itu di tenangkan oleh sang suami yang sedari tadi diam saja.
Bukan tak membela sang anak, ia masih ingin tahu lebih jelas apa yang terjadi sebenarnya. Terlebih tentang masa lalu sang menantu pun mereka baru saja mendengarnya.
"Mami, sudah. Ayo kita kembali. Saya akan buktikan semuanya sendiri. Saya akan meminta polisi mengusut kasus ini hingga tuntas. Biarkan mereka polisi yang mengurus." Prass akhirnya memilih pergi demi memutuskan apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Jangan sampai semuanya terlanjur di proses baru ia memutuskan untuk mencabut tuntutannya.
"Prass, apa yang terjadi sebenarnya?" Kini giliran sang Papi bertanya karena penasaran sekali.
"Ini semua salah saya, Pi. Wanita yang melakukan ini semua bukan dia, tetapi anak kami. Dia dendam pada saya karena menelantarkan mereka." Prass tertunduk tanpa berani menatap kedua mertuanya yang syok.
"Anak? Jadi benar itu anak mu? Prass, kamu benar-benar membuat saya kecewa." Papi menggelengkan kepalanya mengetahui kebenaran sang menantu. Sekian tahun menikah dengan anak mereka, Prass baru mengungkap semuanya saat ini.
Bahkan sampai Yulia pun meninggal ia tidak tahu tentang hal ini. "Sungguh malang nasibmu, Nak." tutur sang Papi mengingat mendiang anaknya yang pergi dengan rahasia sang suami yang baru terungkap.
Helaan napas mereka dengan dari sosok wanita tua yang emosi saat itu.
"Tidak, kamu bukan percaya. Tapi kamu sudah terpengaruh dengan wanita itu, Prass. Mami tidak mau tahu kasus ini harus tetap di lanjutkan. Penjarakan dua wanita itu, atas nama mendiang istrimu, Prass. Mami tidak akan rela kepergian Yulia membuat mereka menari dengan kemenangannya." Prass tahu ini akan terjadi.
Namun, ia harus tetap tegas pada sang mertua.
__ADS_1
"Biarkan saya yang mengatasi ini semua, Mami. Saya akan mencari kebenarannya."
Akhirnya hari itu mereka pergi kembali ke rumah usai perdebatan di kantor polisi. Sedangkan Zera pun harus kembali ke rumah sakit atas permintaan Alvaro.
"Bu, ayo kembali ke rumah sakit. Aku yang akan mengurus Ibu. Devina akan baik-baik saja di sini." Meski berat hati Zera, ia hanya sanggup menurut di papah oleh pria yang sangat membuatnya merasa di sayang dan di hormati.
"Dev, Ibu pulang dulu. Jaga diri baik-baik, Nak. Berdoalah pada Allah untuk di mudahkan segalanya. Minta ampunlah pada Allah, Nak." Devina yang merasa tidak bersalah sama sekali akhirnya meneteskan air mata penyesalan saat melihat wajah pucat sang ibu.
Ia mengangguk di dalam sel tahanan sembari memejamkan matanya menahan tangis.
"Devina baik-baik saja, Bu. Ibu jangan khawatirkan Devina. Ibu harus sehat. Tuan Alvaro, saya titip Ibu saya. Maaf saya membuat anda terbebani."
Tak ada jawaban dari Alvaro, ia sangat kecewa mendengar kasus Devina. Ia hanya berharap Devina akan menyesali semua perbuatannya dan berubah menjadi wanita idamannya. Wanita yang ia lihat dari sisi luar lembut dan anggun, berharap itu semua terjadi di dalam diri Devina bukan hanya dari penampilan luar saja.
Sedikit egois memang memaksa wanita sesuai dengan keinginannya. Tetapi itulah Alvaro, yang tidak suka apa yang ia pikirkan berbeda dari kenyataannya. Bagaimana pun ia harus bisa mewujudkan keinginan hatinya itu.
__ADS_1