Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Anniversarry Yang Hancur


__ADS_3

Kepergian dan kehilangan di waktu yang sama benar-benar membuat Tuan Prass terpukul. Pihak kepolisian bergerak cepat untuk melacak keberadaan Aluna saat itu juga.


Sedangkan di sini Tuan Prass meninggalkan Yulia yang di datangi banyak orang. Rumah yang besar menjadi saksi kesedihan Tuan Prass hari ini.


Tangisan tak lagi bersuara, Tuan Prass pasrah dengan keadaan. Kini ia hanya duduk menatap jenazah sang istri yang akan siap di kuburkan esok hari.


Mertua yang berada di luar negeri terpaksa membuat Tuan Prass menunggu untuk memakamkan Yulia.


“Tuan, maaf jika saya harus memberi tahu ini. Nyonya sudah mempersiapkan dinner di hotel x. Barusan pihak hotel menghubungi ponsel Nyonya.” Sang pelayan dengan penuh hati-hati bicara pada Tuan Prass.


Mendengar itu, Tuan Prass mengernyit heran. “Dinner?” tanyanya heran.


Dalam rangka apa sebenarnya Yulia menyiapkan dinner untuk mereka?


“Iya, Tuan.”


Tangan Tuan Prass meraih ponsel yang di berikan pelayan. Segera pria itu membuka ponsel sang istri.


Tangisan yang sudah reda kini mendadak kembali membuat tubuhnya gemetar menangis. Bagaimana tidak? Dekorasi contoh dari Yulia rupanya membuatnya tahu jika dinner itu untuk anniversarry.


Segala persiapan ia baca di chat Yulia dengan pegawai hotel di sana.


“Tuhan, kenapa harus seperti ini? Kenapa harus seperti ini? Kemana anakku? Kenapa istriku pergi?”


Hinggal malam pun tiba, suara orang yang mengaji di rumah itu tak menghentikan niat Tuan Prass melangkah pergi ke luar rumah dan melajukan mobil.


Tatapannya sangat kosong.


Tanpa ia sadari saat melajukan mobil keluar dari pelataran rumah, ada sosok wanita yang memakai hijab hitam bersembunyi di pohon sekitar perumahan.


“Rumah yang besar. Tapi ini tidak akan cukup untuk membayar semua perbuatanmu, Prass. Kau akan hancur!” Tawa menyeringai menghiasi wajah Devina saat itu.

__ADS_1


“Sayang sudah lebih cepat Tuhan memanggil istrimu. Padahal aku belum puas bermain-main denganmu. Aku belum puas, Prass. Melihatmu hancur.”


Devina sungguh kaget saat mengetahui kabar Devina yang meninggal akibat kecelakaan. Sebab berita di televisi sangat cepat menyorot wanita yang pernah mengharumkan nama negara itu.


Setelah yakin dengan semua berita itu, Devina kembali melangkah meninggalkan perumahan elit milik sang ayah. Tujuannya saat ini adalah sang ibu.


Ia harus menghabiskan banyak waktu dengan sang ibu yang selalu kambuh sakitnya.


Entah apa yang Devina lakukan jika saja ia tahu saat ini sang ibu sedang bercanda tawa dengan sosok pria yang sudah beberapa kali memberikan hadiah mau pun makanan pada wanita paruh baya itu.


“Ibu benar-benar beda dengan Devina. Ibu ramah lembut, sedangkan Devina sangat ketus.” Alvaro curhat dengan apa yang ia lihat di diri Devina sejak pertemuan pertama kalinya di hotel.


Zera terkekeh di tengah-tengah percakapannya sembari Alvaro memberikan suapan sup pada wanita itu.


“Tidak. Devina itu sangat baik, dia penyayang sekali. Hanya saja sifatnya memang seperti itu pada pria yang tidak dia kenal. Entah mengapa Devina tidak suka bicara banyak pada lawan jenis. Ibu dulunya khawatir jika Devina akan jadi perawan tua.” Zera kembali tertawa mengingat anaknya yang memang dingin pada orang asing kecuali pelanggannya.


Meski dalam hati ia yakin pasti ada sangkut pautnya dengan pria yang sudah membuat hidup mereka sengsara, yaitu Tuan Prass.


Alvaro yang mendengar lantas menghela napas kasar.


“Bu, saya tidak pernah membedakan orang sedikitpun. Bagi saya semua sama, yang terpenting hatinya bersih. Saya butuh wanita untuk anak-anak saya kelak yang lembut dan penyayang. Saya merasa yakin jika Devina bisa menjadi ibu untuk anak-anak kami kelak dengan perasaannya yang penyayang. Melihat dia perhatian dengan ibu, saya percaya. Hal itu juga akan ia lakukan untuk keluarga kecilnya.”


Zera begitu terharu mendengar ucapan pria tampan yang duduk di sebelahnya ini. Hingga makan pun selesai, Alvaro berniat untuk meninggalkan Zera bekerja.


“Bu, Saya sudah harus pergi. Kerjaan saya sudah menanti. Ibu istirahatlah. Nanti jika waktu saya luang, akan kemari lagi. Apa ibu ingin sesuatu?” Pertanyaan Alvaro menyentuh hati terdalam Zera.


Matanya mengembun mendengar bagaimana pria itu perhatian padanya. Sungguh, ia ikhlas jika di campakkan pria seperti Tuan Prass. Tapi ia mendapatkan ganti dua orang. Yaitu Devina dan Alvaro yang sangat sayang padanya.


“Tidak, Nak. Semuanya sudah cukup. Bahkan makanan yang kau kirim setiap hari saja masih sangat banyak.” ujar Zera melihat tumpukan makanan di lemari.


Alvaro terkekeh. Ia menggenggam tangan Zera lalu mencium punggung tangan keriput itu. “Saya pergi dulu, Bu. Lekaslah sembuh.” tuturnya kemudian pergi.

__ADS_1


Malam itu, Alvaro pergi dari rumah sakit. Devina tiba di rumah sakit, dan Tuan Prass tiba di sebuah hotel berbintang.


Kaki jenjang dengan sepatu hitam mengkilat membuat para pegawai hotel terpesona dengan ketampanan dan penampilan Tuan Prass.


“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Tentu mereka tahu apa yang menimpa pria di depannya ini.


Tuan Prass adalah sosok orang yang selalu terdengar beritanya di televisi mau pun sosial media. Sejak ia menjadi pebisnis yang sukses. Di tambah nama sang istri yang cukup di kenal pula.


“Antar saya menuju ruangan yang di siapkan istri saya.” pintahnya tanpa menatap wanita berpenampilan menarik di depannya.


Segera mereka berjalan menujul lantai paling atas.


Saat suara lift terdengar terbuka, betapa banjirnya air mata pria itu menetes.


Semua persiapan, dengan dekorasi bunga, lilin, dan foto serta satu kotak kado yang di letakkan di bawa membuat Tuan Prass tak bisa berkata-kata lagi.


Tubuhnya benar-benar ingin jatuh jika saja ia tak berpegangan dengan tiang penyangga di sampingnya.


“Saya permisi, Tuan.” wanita itu menunduk undur diri.


Tuan Prass berusaha kuat berjalan. Ia duduk di kursi yang sudah di sediakan.


“Yulia!!!” Teriaknya menggema.


Anniversarry yang seharusnya menjadi moment bahagia mereka justru membuat pernikahan keduanya benar-benar berakhir. Tuan Prass teringat dengan pertengkarannya bersama sang istri. Ia pun memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini dalam rumah tangganya yang sebenarnya tidak seharusnya Yulia tahu.


“Devina!” Satu nama yang pria itu sebutkan. Ada rasa janggal ketika menyebut nama Devina.


Tuan Prass merasa kehadiran Devina yang belum sama sekali ia sentuh tidak mungkin bisa membuat mereka hancur.


Pria itu kembali memeriksa ponsel sang istri yang ia bawa sejak dari rumah.

__ADS_1


Matanya membulat ketika membuka beberapa chat di ponsel Yulia. Ia tahu jawabannya saat ini.


__ADS_2