
Dari arah pintu terlihat sepasang pria dan wanita yang jelas tidak akur. Beberapa kali wanita itu berusaha melepaskan genggaman erat di pergelangan tangannya. Yah, mereka adalah Devina dan Alvaro.
"Tuan, lepaskan. Tangan saya merah." Devina setengah meringis menahan sakit. Bahkan ucapannya pun tak ada di respon oleh pria di sampingnya.
"Tuan, saya bisa berjalan sendiri..." Belum sempat Devina melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja ia mengikuti arah pandang pria di sampingnya kini.
Sungguh amarah di diri Devina yang lama telah ia lupakan kini tiba-tiba muncul kembali dengan sangat cepat. Matanya menatap nyalang pada pria di depannya yang tidak begitu jauh namun juga berjarak tidak begitu dekat. Tangannya terkepal sempurna.
Kejadian beberapa waktu lalu nyatanya belum mampu membuat Devina melupakan segala sakit yang ia terima bersama sang ibu.
"Ayo, kita perlu menyelesaikan semuanya." Alvaro melanjutkan langkah menuju meja di mana Tuan Prass bersama bocah cantik di sampingnya duduk menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
Tubuh Devina mendadak sangat dingin dan matanya memerah menahan sakit yang sangat amat.
"Saya ingin pulang, Tuan." Devina memberontak tanpa suara namun Alvaro nyatanya tak melepaskan dirinya begitu saja. Pria itu berusaha sekuat tenaga tetap membawa Devina mendekat dan duduk di hadapan Tuan Prass yang hanya diam sedari tadi.
"Devina, sudah waktunya Papah bicara denganmu." Sungguh menggelikkan saat Devina mendengar kata sebutan papah yang di sematkan pada ucapan Tuan Prass.
Sumpah demi apa pun ia tak akan menerima Tuan Prass sebagai pria yang memiliki ikatan darah dengannya. Ia berdecih geli dan memalingkan wajah.
"Papah ini kakak cantiknya Aluna?" Bocah itu tersenyum girang melihat bagaimana Devina begitu cantik dan anggun. Bahkan bocah mungil itu jadi teringat dengan kehadiran sang mamah yang telah meninggalkannya.
"Iya, Sayang. Aluna sekarang tidak sendirian lagi. Aluna punya kakak, namanya Devina. Dia juga anak papah." Sungguh di dalam hati yang paling dalam, Devina merasakan kesedihan dan bahagia yang bersamaan. Sedih karena mendengar kata papah setelah sekian lama. Dan bahagia saat mendapatkan pengakuan dari pria yang selama ini menelantarkan dirinya dan sang ibu.
__ADS_1
Tetapi segera Devina menyadarkan diri, jika pria di depannya ini adalah pria yang tidak boleh mendapatkan ampunan darinya.
Aluna mengangguk ceria. "Aluna senang banget, Pah. Kakak Devina seperti Mamah cantik sekali." puji bocah itu dengan polos.
Devina yang semula ingin kasar pada anak kecil itu jadi menciut nyalinya. Ia tak sampai hati melukai hati anak sepolos Aluna. Dan akhirnya Devina memilih untuk bungkam saja.
"Devina, Papah mohon. Kita perbaiki semuanya, biarkan Papah menebus semuanya yang terjadi di masa lalu. Sungguh ini semua bukan kemauan Papah. Zera pasti akan sedih melihat kita seperti ini. Ingat yang terjadi sebelumnya, Zera tidak ingin kita berselisih dan memilih merahasiakan semuanya dari kita." Tuan Prass memulai bicara serius di depan Alvaro dan juga Aluna.
Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk meluluhkan hati Devina saat ini. Sungguh Tuan Prass merasa bersalah dan tidak tenang selama ini. Perasaan bersalah karena sempat memiliki ketertarikan dengan sang anak sendiri. Dan tidak tenang sebab Devina masih saja tidak ingin mengakuinya.
"Dev, semuanya akan baik-baik saja. Saya yang akan menjaminnya." Alvaro bersuara setelah cukup ia rasa memberikan waktu Tuan Prass mengungkapkan niatnya.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Devina menetes. Dendam di hatinya belum sepenuhnya bisa hilang justru kini semakin besar. Namun, mengingat sang ibu yang begitu baik dan selalu ikhlas dengan apa yang terjadi. Akhirnya Devina berusaha untuk membuka pintu damai pada sang papah. Bagaimana pun ia tahu posisinya sebagai anak tetaplah harus mengalah apa pun yang di lakukan orangtua padanya.
"Papah sudah sangat bersalah besar padamu, Dev. Papah benar-benar lelaki tidak baik untuk kalian. Tapi beri Papah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Papah ingin mejadi papah kalian berdua dengan sungguh-sungguh. Biarkan Tuan Alvaro yang akan memberikan Papah hukuman jika memang Papah tidak bisa memenuhi janji papah saat ini pada mu, Devina." tutur Tuan Prass menatap dalam mata Devina yang sudah banjir dengan air mata.