
Sebuah tulisan di atas kertas menjadi satu fokus seorang Tuan Prass. Tangan mulus nan lentik itu meletakkan kertas yang berisi catatan permintaan yang ia ajukan.
“Saya akan setuju untuk menjadi wanita anda dengan catatan ini.” tunjuknya membuat mata Tuan Prass melirik ke arah kertas lalu ke arah Devina lagi.
Malam ini sesuai perjanjian mereka. Maaf akan di terima dan bisa bertemu kembali jika Tuan Prass berjanji akan menuruti apa yang Devina inginkan.
Sungguh, daya tarik yang Devina lakukan pada pria yang tak lain adalah ayahnya sendiri benar-benar sanggup membuat Tuan Prass bertekuk lutut.
Sepertinya bukan pesona yang ia lihat. Namun makhluk tak kasat mata tampaknya bekerja sama membantu jalan jahat Devina semakin lancar.
“Menceraikan istri? membagi hak sebelum menikah denganmu? Menjamin masa depan untukmu? Tak menyentuh sampai hubungan ini sah? Hanya ini?” Wajah Tuan Prass menatap remeh permintaan Devina.
Devina duduk santai dan mengangguk. “Saya mau 75% saham, itu pun jika anda tak keberatan. Sekali lagi saya katakan, ini bukan karena saya mengincar harta anda. Tapi saya merasa berhak sebagai wanita masa depan anda.” tutur Devina tanpa senyuman di wajahnya.
Bahkan sebelum bertemu dengan Tuan Prass, wanita itu memastikan memakai pakaian terbaiknya. Tonjolan dada yang samar-samar di dalam balutan dress yang transparan di dada membuat kedua mata Tuan Prass sulit untuk teralihkan.
“Itu perkara mudah, Devina. Aku sudah katakan apa pun bisa ku lakukan.” ujarnya mantap. Tatapan pria itu terlihat penuh makna tersirat.
__ADS_1
“Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya. Ingat point pertama, ceraikan istri anda. Karena saya tidak suka jadi yang kedua. Lebih baik saya jadi yang kesekiannya.”
“Tunggu!” Tuan Prass menghentikan gerakan Devina yang ingin bangkit dari kursi. Matanya sungguh menatap lapar tubuh wanita di depannya.
Entah mengapa sulit sekali mengendalikan gairah itu pada sosok Devina. Sungguh ini bukan diri Tuan Prass yang sebenarnya.
Pernikahannya bersama Yulia sudah hampir 11 tahun, ia bukanlah tipe pria yang haus akan belaian wanita di luar sana. Sayang, sepertinya pertemuannya dengan Devina begitu menguji pernikahannya saat ini.
“Tak bisakah kita menikmati malam ini sebentar, Dev? Hanya sebentar saja.” ujarnya begitu tak sabaran.
Mengurus perceraian masih butuh beberapa hari untuk selesai. Meski sepertinya itu tak akan ia lakukan sungguh-sungguh. Mengingat pernikahannya dengan Yulia sudah lama dan ada anak yang harus ia jaga.
Tanpa ia sadari senyuman smirk terlihat jelas di wajah Tuan Prass. Punggung tegap Devina menjadi akhir pemandangan malam itu sebelum ia turut pergi dari restauran itu.
“Kamu akan jadi milikku, Devina. Tanpa ada satu pun yang aku keluarkan. Lihat saja nanti.”
Setelah pergi dari restaurant, malam ini Devina tak lagi mengambil job seperti biasanya. Ia menaiki taksi menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tring tring tring
Dering ponsel mengejutkan lamunan bahagianya. Yah, Devina bahagia kala mengingat dirinya sebentar lagi akan berhasil mendapatkan apa yang ia mau, membalaskan dendam. Itulah impian terbesarnya.
“Aku ingin melihatmu sampai men*jilat ludah ibuku, Prass.” gumamnya menyeringai licik.
“Halo,” segera suara sapaan di seberang telepon membuat Devina menarik fokusnya kembali.
“Hem,” sahut Devina.
“Dev, yakin nggak mau ambil job ini? Gede loh komisinya.” sahut pria yang biasa memberi Devina kerjaan.
“Gue udah nggak. Kasih sama yang lain aja. Sory yah, tujuan gue udah dapet.” Yah sebelum bekerja, Devina menjelaskan apa yang menjadi tujuannya bekerja seperti itu.
Satu hal yang menjadi jalan ia menuju dunia malam, kehormatan miliknya yang di renggut oleh pria yang tidak ia tahu.
Tatapan Devina tiba-tiba sendu saat mengingat percakapan itu.
__ADS_1
“Oke Dev. Sukses yah.” Panggilan pun terputus sedang Devina terdiam mengingat bayangan masa lalunya yang sangat menyedihkan.
Bukan hanya keadaan sang ibu yang di tinggal. Tapi Devina begitu marah pada orang yang tega memperk*sa gadis remaja sepertinya kala itu.