
Selama di perjalanan Zera tampak menyandarkan kepalanya di jendela taksi. Ia terpaksa harus menaiki taksi dari pada menggunakan ojek. Tubuhnya masih terasa lemas dan pusing, ia masih belum sehat. Bahkan ingatan tentang sang anak yang terus membuatnya berusaha kuat untuk bisa berjalan.
"Devina, apa yang kamu pikirkan, Nak? Kamu benar-benar membuat Ibu sangat kecewa." rutuknya dalam hati.
Kekecewaannya pada Devina semakin membuatnya tersiksa. Bahkan semalam ia di rumah tidak bisa tidur tenang. Bagaimana ia bisa tenang sementara sang anak masih di kantor polisi di amankan atas permintaan Tuan Prass.
"Pria itu kenapa harus hadir di kehidupan kami?" ucapnya.
Hingga beberapa menit berlalu, Zera pun tiba di depan kantor polisi. Segera ia membayar biaya taksi dan masuk ke dalam kantor polisi.
Langkahnya tergesa-gesa menemui sang anak yang sudah di tahan sementara sampai semuanya selesai penyidikan dan perintah dari sang penuntut lebih lanjut.
"Ibu," Suara Devina memanggil kala melihat Zera mendekat ke arah tempatnya kini duduk.
"Devina, bagaimana ini? Dimana pria itu? Ibu harus bicara dengannya." ucap Zera mencari sosok Tuan Prass.
Hanya itu jalan satu-satunya untuk membebaskan sang anak dari penjara. Ia yakin jika Devina tak akan bisa bebas selain Tuan Prass mencabut tuntutannya. Sayang, Devina yang mendengar hal itu sangat tidak terima. Ia menggelengkan kepalanya melarang sang ibu bicara dengan Tuan Prass.
"Bu, tidak. Devina sampai kapan pun tidak setuju Ibu bicara ataupun hanya menatap wajah pria sialan itu! Ibu harus sembuh, Devina sudah menyiapkan biaya untuk Ibu." kekeh ia ingin membalaskan dendamnya.
Mendengar kerasnya pendirian sang anak, Zera menatap sedih sang anak. Bagaimana mungkin ia mendidik Devina hingga besar dan cantik seperti ini tetapi dengan pemikirannya yang sangat dangkal? Tidak. Ia tidak akan rela anaknya seperti itu.
"Devina, ibu sudah bilang. Ibu tidak ingin berurusan dengan dia lagi. Kenapa kamu melakukan ini, Nak? Ada kebahagiaan di depan sana yang menanti kita. Tanpa harus mengusiknya lagi." Zera sangat sedih bahkan ia sampai menangkup kedua rahang sang anak.
Berharap Devina akan luluh mendengar permohonan san ibu. Kelembutan tutur kata dan perhatian Devina selama ini membuatnya tak menyangka jika anaknya yang cantik ini masih menyimpan dendam bahkan lebih besar dari yang ia kira. Sungguh Devina sangat nekat.
Hingga perdebatan mereka terhenti kala seorang pria tampan yang tak asing bagi keduanya datang mendekat. Wajah yang sangat bercahaya, penampilan yang begitu rapi bahkan beberapa anggota kepolisian memberikan hormat padanya.
Devina hanya menatap datar tanpa berniat menyapa, sementara Zera begitu terkejut melihat sosok yang ia senangi kini muncul.
__ADS_1
"Nak Alvaro," sapanya dengan wajah sendu.
Alvaro tersenyum sekilas dan menatap datar pada Devina.
"Bu, kembalilah ke rumah sakit. Biar saya yang mengurus Devina di sini. Ibu ikut bersama orang saya." ujarnya tahu jika wanita paruh baya di depannya ini masih membutuhkan perawatan rumah sakit.
Sungguh hati Zera menghangat mendengar permintaan pria di depannya. Tidak salah ia meyakini Alvaro adalah pria yang cocok untuk sang anak. Meski sebenarnya ia tidak tahu bagaimana keadaan Devina yang sebenarnya.
Namun, Zera mengingat satu hal, ia pun mengurungkan niatnya untuk menurut.
"Maaf, Nak. ada yang harus Ibu selesaikan dengan seseorang di sini. Ibu yakin ini akan selesai." ujar Zera yang membuat Alvaro tahu jika ia tidak boleh terlalu mencampuri. Sementara ia tidak akan pergi begitu saja sebelum semuanya selesai.
"Baiklah, Ibu saya temani. Tapi saya mau bicara dengan Devina sebentar boleh, Bu?" tanyanya meminta waktu untuk berdua.
Tanpa bertanya, Zera megangguk memberi ijin. Ia pun merasa harus menunggu seseorang dan bicara empat mata.
Ia pergi dan kini tinggallah Devina dan Alvaro. Devina acuh, ia bersedekap dada sembari membuang pandangan ke arah pintu. Ia bisa melihat jika saat ini mata Alvaro tengah menatapnya dalam.
"Membahagiakan seseorang di usia senjanya sepertinya tidak akan sulit. Apa tidak bisa untuk memberikan ketenangan untuknya jika membahagiakan pun kau tidak bisa?" Pertanyaan yang pertama kali menyapa indera pendengaran Devina sungguh membuat wanita itu terbakar amarah.
Tidak kenal, tidak membantu, tidak tau apa-apa. Lantas apa yang membuatnya berhak menghakimi Devina. Seketika mata yang memandang pintu, Devina alihkan menatap tajam Alvaro.
"Anda tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan ikut campur!" ujarnya marah.
"Jika tidak ingin membuat Ibu bahagia, berikan saja padaku. Aku akan membahagiakan beliau setulus hati saya." Kembali Alvaro menjawab dengan tenang.
Tak ada jawaban dari Devina.
"Dokter mengatakan keadaan Ibu sangat memprihatinkan. Kau tahu itu, tetapi justru membuatnya rela keluar dari rumah sakit. Masalah ini bisa menjadi boomerang untukmu, jangan sampai kau menyesal telah membuat ibu tidak ingin di rawat lagi." Usai berkata seperti itu, Alvaro bergegas keluar ruangan.
__ADS_1
Devina terdiam sejenak, pikirannya kembali mengingat ucapan demi ucapan yang Alvaro katakan. Uang yang ia sediakan tentu tidak akan mampu membuat sang ibu mau masuk kembali ke rumah sakit. Siapa yang mengurusnya? Siapa yang menjaganya? Siapa yang memperhatikannya? Sungguh Devina tidak memikirkan itu semua. Dan saat ini ia baru tersadar jika uang tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan selama ini untuk sang ibu.
Berbeda halnya dengan suasana di ruang lainnya.
Kedatangan Prass bersama dua mertuanya membuat Zera berdiri mematung. Langkahnya terhenti seketika. Jantungnya berdebar sangat kencang, bertahun-tahun berpisah tak saling mengenal. Nyatanya tak membuatnya bisa menghilangkan perasaan itu seluruhnya.
"Apa rasa itu masih ada? Kenapa harus mencintai pria sepertinya? Kenapa aku masih memiliki rasa itu?" batik Zera sembari melanjutkan langkah.
Ia bisa melihat tatapan kemarahan Prass padanya.
"Apa yang kau rencanakan untuk anak dan istriku, Zera? Puas kau menghancurkan keluargaku?" Tuduhan Prass membuat Zera menggelengkan kepalanya sedih. Matanya yang penuh cinta pada pria di depannya sungguh tergenangi cairan bening. Sayang, ketulusan itu sampai saat ini pun masih belum bisa terlihat oleh pria di depannya.
"Tidak, Prass." ucapnya menahan kesedihan.
Ini hal yang paling ia takutkan, Prass akan menuduhnya yang melakukan ini semua.
Tanpa keduanya sadari, tiba-tiba saja satu tamparan melayang di pipi Zera.
Plak!!
"Arhg!" Zera terjatuh ke lantai dengan rintihannya.
"Ibu!" Sosok pria yang berjalan mendekat tiba-tiba berlari dan teriak. Ia meraih tubuh Zera di lantai dengan perasaan cemas. Tubuh wanita itu sudah sangat lemah, mengapa harus mendapatkan tamparan yang tidak seharusnya ia dapatkan?
"Kau yang membunuh anakku? Kau yang menculik cucuku?" suara marah dari seorang wanita tua bergetar menunjuk Zera yang masih terduduk di lantai.
Air matanya menetes saat mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Jangan menuduh Bu Zera. Kalian tidak berhak seperti ini padanya!" Avaro sangat marah. Ia balik menunjuk Prass dan mertuanya. Satu tangannya berusaha memapah tubuh Zera hingga berdiri tegap.
__ADS_1