Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Malam Devina dan Alvaro


__ADS_3

Keadaan yang selalu di isi dengan perasaan dendam telah hanyut terbawa waktu yang kian mengalir. Berkat pria yang tepat di sisi Devina nyatanya mampu membuat pikiran wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat. Siapa sangka setiap waktu bersama sosok Alvaro, nyatanya membuat sosok wanita yang keras kepala tak lagi seperti biasa.


Bahkan semua ucapan yang ia lontarkan pada orang-orang di sekelilingnya terdengar begitu sopan tanpa menyakiti siapa pun yang mendengarnya.


Memang benar, berada di lingkungan yang tepat akan mampu mengubah siapa pun menjadi sosok yang tepat pula. Namun, sebaliknya jika kau berada di lingkungan yang buruk. Pelan tanpa di sadari semuanya akan mengikuti lingkungan. Sedikit banyak perlahan pasti akan berubah menyesuaikan. Tetapi, semua tergantung komitmen pada diri masing-masing lagi.


Tepat satu bulan usai pertemuan Alvaro, Devina, Tuan Prass dan Aluna. Hari ini semua ternyata sudah berjalan dengan baik. Satu bulan waktu yang Tuan Prass berikan untuk sang calon menantu mempersiapkan segala sesuatu, akhirnya Devina telah resmi di persunting pria tampan nan baik hatinya itu.


"Papah titipkan Devina denganmu, Alvaro. Papah percaya kau pria yang tepat melebihi sayang papah pada Devina. Dengan segala kekurangan Papah, Papah harap kalian memaklumi semua yang terjadi sebelumnya. Berbahagialah kalian kelak dan saling mengasihi." Itulah pesan terakhir Tuan Prass saat acara Ijab kabul dan resepsi usai sudah.


Senyuman bahagia Alvaro dan Devina sama-sama mengembang saat itu juga. Rasanya semua seperti mimpi untuk Devina.

__ADS_1


Tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan sang suami saat ini. "Bu, Devina sudah menikahi pria yang ibu selalu banggakan. Semoga ibu bahagia di sana melihat hari ini yah, Bu? Devina rindu sekali dengan Ibu. Sekarang bukan ibu lagi yang Devina temani tidur. Tetapi pria baik ini."


Diam-diam Devina pun mengagumi sosok suaminya itu kala berbincang dengan Tuan Prass.


"Besok bangunlah pagi, kita akan ke makam ibumu. Setelah itu baru kalian berangkat untuk bulan madu." pintah Tuan Prass yang di angguki oleh kedua pengantin baru itu.


"Yah, Aluna sendiri lagi dong, Papah." celetuk bocah kecil itu merasa kehilangan sosok kakak cantiknya.


"Tenang saja, nanti kakak pulang dari jalan-jalan Aluna bisa kok sesekali ke rumah kita, iyakan, Al?" tanya Devina menatap sang suami.


Alvaro pun mengangguk tersenyum mengiyakan permintaan sang istri.

__ADS_1


Malam pun semakin larut hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar di mana kamar Devina selama ini berada. Malam pertama akan mereka habiskan di kediaman Tuan Prass. Alvaro tentu tak akan keberatan, sebab esok hari mereka pun akan segera berangkat menikmati hari menjadi pengantin baru.


Suasana hening tercipta beberapa saat ketika keduanya tiba di dalam kamar. Wajah cantik yang sedari tadi hanya tersenyum, kini tampak menekuk sedih. Entah apa yang jadi penyebabnya. Yang jelas Alvaro tahu sang istri tengah memikirkan sesuatu saat ini.


"Hei, ada apa?" tanyanya mendekati Devina yang duduk di sisi tempat tidur.


Devina menoleh dengan pandangan lemah sekilas. Tampaknya ia tak tertarik mengatakan apa pun saat ini.


"Dev, katakan. Status kita malam ini sudah berbeda." tegas Alvaro seakan ingin menyadarkan jika ia dan Devina tak boleh lagi menyembunyikan sesuatu.


Sekilas Devina menundukkan kepalanya. Memejamkan mata menahan sesuatu yang sesak di dadanya.

__ADS_1


"Aku bersalah dalam hal ini..." tuturnya terhenti lantaran tak tahu melanjutkan dengan rangkaian kata apa lagi.Kening  Alvaro mengernyit heran mendengarnya.


__ADS_2