Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Bismillah, Aku Berhijab


__ADS_3

Wajah cantik nan sembab itu terpantul dari cerman hias di depan. Kedua tangannya pagi itu cukup lama menggenggam kain segi empat yang sudah ia bagi menjadi segitiga. Matanya memerah menatap dalam kain yang tak lain adalah jilbab itu.


“Ya Rabb, apa pantas aku menyentuhnya?” Sungguh Devina begitu bergemetar tubuhnya saat memegang kain itu. Ingatannya kembali pada perlakuan buruknya yang sangat melebihi batas.


Matanya yang berjatuhan cairan bening kini menatap ke cermin lagi usai menatap jilbab.


Perlahan namun pasti, tangannya dua-dua bergerak membiarkan kain itu menutup kepalanya kemudian ia bawa ke bawah dagu.


“Terlepas apa pun perbuatan jahatku di masa lalu. Aku mohon ijinkan aku meminta ampun pada Mu…Biarkan ini menjadi pahala untuk Ibu di sana. Jangan biarkan dia menangis di atas sana, Tuhan.” Terisak menyesali mengingat bagaimana hancurnya hati sang ibu mengetahui fakta balas dendam Devina, sayangnya belum sempat Devina meminta ampun dengan hal yang lebih memalukan dari sekedar balas dendam pada sang ayah, Ibunya sudah lebih dulu pergi.


“Bismillah, aku berhijab. Ampuni aku Ya Allah.” Betapa cantiknya dan lembutnya wajah Devina berbalut hijab warna baby blue. Wajah putih dan mata yang tajam begitu kontras dengan warna hijab di kepalanya.


Pagi itu, ia berniat menyirami bunga sang ibu sembari menikmati susu di teras. Sayangnya, bunga-bunga yang gugur kembangnya membuat Devina sedih kembali.


Wajah angkuh dan ketus di paras ayu Devina, kini tak pernah pagi Alvaro lihat sejak kejadian di penjara hingga sang ibu meninggal dunia. Pagi itu setelah satu minggu ia kembali ke kota B dengan segala kesibukan pekerjaan, akhirnya Alvaro bisa menjenguk Devina di rumahhnya.


Pria itu berjalan menuju teras rumah dimana Devina duduk dengan melamun. Pria itu mengernyitkan dahinya kala melihat wanita yang ia yakin adalah Devina, namun berbeda dari biasanya.


Ada senyuman yang ia kembangkan di wajah tampannya begitu melihat indahnya ciptaan sang kuasa kali ini. Devina memanglah sangat ayu.

__ADS_1


“Kau semakin membuatku gila, Devina.” gumamnya sangat bahagia.


Hingga akhirnya manik mata Alvaro melihat jelas segelas susu yang masih utuh isinya berada di meja sebelah Devina.


Tanpa suara, ia berinisiatif untuk menyodorkan minuman yang tak lagi hangat itu.


Devina pun tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya dengan menengadah.


“Letakkan saja. Aku masih kenyang.” ucap Devina kembali membuang pandangan.


Mendengar hal itu, Alvaro menghela napas kasar. Ia pun duduk di samping Devina.


“Aku akan sangat bersalah pada Ibu jika tidak bisa membuatmu bahagia.” Penuturan Alvaro membuat lamunan Devina buyar dan mengernyit ke arahnya.


“Apa maksudmu?” tanya Devina.


“Aku sudah berjanji di depan jenazah Bu Zera untuk memastikan kau baik-baik saja, Devina.” jelas Alvaro cukup tenang.


“Pergilah. Kau bukan bagian keluarga kami.” usir Devina segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Belum sempat wanita itu pergi, Alvaro sudah lebih cepat menarik tangan Devina demi menahan tubuh wanita itu agar tidak masuk ke rumah.


“Lepaskan tanganku.” Tatapan Devina sangat dingin.


Alvaro bertanya-tanya, mengapa wanita ini kembali ketus padanya lagi? Bahkan saat di penjara Devina dengan sedihnya memohon padanya untuk memastikan sang ibu baik-baik saja.


“Dev, ikutlah denganku. Aku tidak akan tenang jika kau masih sendiri di sini.” Alvaro mengatakan kekhawatirannya dengan sangat jujur.


Bahkan ia tak perduli dengan pekerjaan yang masih tersisa untuknya. Ia tetap mendatangi ibu kota demi bertemu wanita yang sudah lama mengurung hatinya itu.


Devina melepas paksa tangannya lantaran Alvaro masih gigih menggenggam tangan itu.


Hingga akhirnya merasa tak akan sanggup merubah pendirian wanita keras kepala ini, Alvaro menarik paksa tangan Devina ke dalam mobilnya.


“Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!” Teriak Devina memukul tangan kekar Alvaro, meski akhirnya tangannya sendirilah yang terasa sakit.


Alvaro mendorong tubuh Devina tanpa memperdulikan teriakan dan berontakan Devina. Mobil ia buka dan Devina terduduk paksa di dalam.


“Buka pintunya!” Devina berteriak saat hendak membuka pintu mobil justru ia tidak bisa lantaran terkunci.

__ADS_1


“Dev, diamlah. Hijabmu bisa terlepas dan berantakan kalau kau tidak mau diam.” pinta Alvaro.


__ADS_2