Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Positif


__ADS_3

Tangisan tak terbendung lagi akhirnya, Devina yang berdiri di samping sang ibu menangis tanpa suara. Terlihat jelas keadaan Zera yang sangat lemah, bahkan kini ia menggenggam tangan sang ibu sembari berbisik di telinganya.


"Bu, bangunlah. Devina mohon Ibu segera sembuh." Tangisnya terisak semakin dalam.


Ia benar-benar sedih melihat keadaan sang ibu, bagaimana pun semua yang ia lakukan demi sang ibu. Membalaskan dendam pada Prass karena ia tidak rela ibunya di campakkan seperti itu.


Cukup lama ia berada di dalam ruangan itu hingga akhirnya Devina terpaksa kembali ke kantor polisi lagi. Alvaro yang berdiri di samping pintu ruang ICU itu membuat mata Devina teralihkan padanya sebelum pergi dari rumah sakit.


"Aku berhutang budi padamu. Aku mohon jaga ibuku dengan baik aku sangat memohon. Aku berjanji akan segera bebas dari hukuman ini." Devina sampai secara tak sadar menggenggam kuat tangan Alvaro.


"Iya, aku akan melakukan tanpa kau memintanya. Maka dari itu turutilah permintaan ibu, Dev. Jangan memilih jalan sendiri yang kau tidak tahu kebenarannya." Pesan dari Alvaro itu membuat Devina menganggukkan kepala.


Setelah percakapan keduanya, mereka pun berpisah. Devina pergi dengan mobil polisi. Kepergian wanita itu membuat mata Alvaro terus menatapnya dengan hampa. Wanita cantik yang sangat membuatnya tertarik begitu punya masa lalu yang kelam.


Tapi, mengapa hatinya justru memilih wanita itu hingga ia rela bolak balik antar kota untuk memastikan semuanya baik-baik saja?


"Jika hatiku memilihmu, Devina. Maka apa pun itu akan ku usahakan." batin Alvaro mantap tak ada keraguan sedikit pun di hatinya.


Sedangkan di kediaman Tuan Prass, pria itu tengah duduk di sidang oleh kedua mertuanya.

__ADS_1


"Prass, besok Mommy dan Daddy akan mengadakan doa bersama anak-anak panti." Mami menyuarakan keinginannya.


Prass hanya mengangguk setuju.


"Itu ide bagus, Mi. Tapi...Prass sepertinya tidak bisa ikut. Prass harus mengurus kasus Yulia lebih dulu sampai selesai." ujarnya beralasan yang memang itu adalah kebenarannya.


"Heh...kok nggak kelar-kelar sih? Itu perempuan harusnya sudah di siksa. Kamu kenapa masih menahan-nahan terus? Masih kekeh dengan tes DNA itu?" Mami tampak kesal mengingat sang menantu seakan tidak ingin menghukum pelaku yang menyebabkan anaknya tiada.


Prass paham apa yang di rasakan kedua pasangan itu, sayang saat ini ia tidak ingin terlalu banyak bersuara dulu. Sebab bukti masih harus ia pastikan, dan kemarahan sang mertua sepertinya akan bertambah jika tahu yang sebenarnya kelak.


"Sabar, Mami. Yulia adalah istriku. Bagaimana aku diam saja saat ada yang menghilangkan nyawa istriku." ucap Prass.


***


Kini tepat 2 minggu setelah melakukan tes DNA, akhirnya pagi-pagi sekali Tuan Prass datang ke rumah sakit. Langkahnya terasa sangat berat, entah apa yang membuatnya takut melihat kenyataan hari ini.


Ia melangkah maju dengan pandangan sangat tegang, bahkan dadanya berdebar sangat kencang kali ini.


Tok Tok Tok

__ADS_1


Ketukan ia berikan pada pintu ruangan dokter yang sudah menghubunginya barusan. Wajah tampan Prass mendapat sambutan hangat dari sang dokter saat pintu terbuka lebar.


"Silahkan masuk, Tuan Prass." ucap sang dokter ramah.


Sama sekali tak ada suara Prass keluarkan saat ini, hingga ia duduk dengan tegap. Saat itu juga Dokter menyodorkan amplop putih berlogo rumah sakit tersebut.


"Ini hasilnya sudah keluar, Tuan bisa membukanya." Segera tangan Prass bergerak meraih amplop itu dan membuka di depan sang dokter.


Terlihat jelas tangan pria itu bergetar saat membuka lembaran yang ada di dalam amplop tersebut. Entah kemana jiwa kerasnya selama ini yang mengakui Zera mengandung anak pria lain? Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini.


"Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa probabilitas Prass Aditya sebagai ayah biologis dari Devina Shanika adalah 99,9 %. Oleh karena itu Prass Aditya sebagai terduga ayah biologis dinyatakan positif dari Devina Shanika." gumaman Prass saat membaca isi kertas itu membuatnya duduk tersandar lemas di kursinya.


Matanya merah dan panas terasa saat itu. Bagaimana mungkin Devina adalah benar anaknya. Semua bayangan yang pernah ia lakukan pada Devina terlintas seketika.


Sungguh, seburuk-buruknya ia menjadi seorang ayah, tidak mungkin ia bisa bergairah melihat anaknya sendiri.


"Tidak, ini tidak benar." ucapnya lirih menolak kenyataan yang ada.


"Tuan, ini hasil yang akurat, Tuan." Dokter meyakinkan hingga ia tak bisa mencegah Prass untuk pergi dari rumah sakit itu. Lebih tepatnya hanya keluar ruangan dokter dan menuju salah satu tempat yang saat ini di jaga ketat oleh anak buah Alvaro.

__ADS_1


"Zera, kali ini kau harus menjawabku semuanya. Aku tidak akan memberikanmu kesempatan pergi lagi. Kau berhutang penjelasan padaku." gumamnya sembari melangkah ke ruang ICU.


__ADS_2