
Pagi itu Zera mandi dan makan semua di bantu oleh sang anak. Sakit yang ia rasa seperti tidak begitu menyiksa. Sebab anaknya selalu memperlakukannya dengan sayang.
“Kamu tidak bekerja, Dev?” tanya sang ibu lemah lembut.
Devina kini tengah memotong-motong buah. Senyuman menghiasi wajah cantiknya. Rambut yang ia curly begitu indah dengan tubuh tingginya.
“Devina lagi libur, Bu. Gantian sama yang lainnya. Kan kemarin-kemarin di suruh lembur terus. Kalau kerja terus, bisa-bisa Devina yang gantiin posisi Ibu di rumah sakit.” ujarnya terkekeh.
Zera ikut terkekeh mendengar gurauan sang anak.
Akhirnya mereka menikmati buah segar yang Devina bawa sebelumnya.
Kehangatan itu berlangsung cukup lama. Satu hari ini Devina menghabiskan waktunya untuk bersama sang ibu. Saldo mbangking miliknya sudah cukup membuat Devina tenang.
“Bu, nanti malam Devina bertemu teman sebentar yah? Tidak akan lama kok.” tutur Devina di sela-sela mereka berbaring dengan satu ranjang yang sama.
Zera hanya mengangguk. Rasanya tidak berhak ia melarang anaknya untuk bahagia. Sedangkan dirinya hanya memberi beban pada sang anak.
“Pergilah, Dev. Selalu ingat pesan Ibu. Jaga diri baik-baik. Buat dirimu jadi wanita berharga, Nak. Jangan bodoh seperti Ibu.” Suara nasihat itu terdengar penuh arti yang mendalam untuk Devina.
Dendamnya semakin terasa mendarah daging tiap kali mengingat kesengsaraannya dan sang ibu.
__ADS_1
“Iya, Bu.” jawab Devina.
Perbincangan keduanya berakhir saat mereka memutuskan untuk istirahat siang. Dengkuran halus terdengar dari Devina. Tampaknya ia benar-benar menikmati tidur siangnya sangat baik.
Hingga jam menunjuk pada angka dua, Devina mengerjapkan matanya. Rasanya istirahat siang ini sudah cukup untuk tubuhnya. Ia pun bangun dan duduk di kursi sembari memainkan ponsel. Sang ibu masih terlihat memejamkan mata.
Tring!
Suara notifikasi pesan membuat Devina membuka pesan itu.
“Restauran Kenari, jam tujuh malam.” Sebuah pesan dari nomor baru Devina baca.
Tak lama setelahnya, sebuah pesan dari kontak bernama Tuan Prass masuk.
Sudah bukan satu dua pria yang ia temui seperti ini, Tuan Prass adalah pria dari sekian banyaknya yang berlaku genit pada Devina.
“Ibu, Devina pulang dulu yah. Mau siap-siap, nanti setelah bertemu teman Devina langsung ke sini lagi. Ibu istirahat yah.” Ciuman ia daratkan di kening sang ibu.
Devina pergi tanpa menunggu sang ibu bangun. Ia tak ingin membuat ibunya terganggu.
***
__ADS_1
Waktu yang begitu di tunggu oleh Prass akhirnya tiba. Wajah tampannya tersenyum kecil saat melihat sosok wanita yang baru turun dari mobil orang suruhan Prass.
Yah, Devina di jemput oleh anak buah pria itu dan di antarkan ke restauran tempat mereka berjanjian.
Sebuah ruang VVIP menjadi tempat pertemuan keduanya.
Wajah cantik dengan pakaian setelan berwarna hitam membuat kulit putih Devina begitu menyala malam itu.
“Selamat malam, Tuan Prass.” Devina menunduk hormat dan di sambut senyuman puas di wajah Tuan Prass.
“Devina, ayo silahkan duduk. Saya sudah menunggumu sejak tadi. Ayo,” dengan elegan Devina duduk kemudian meletakkan tas di sisi kirinya.
Ia hanya diam sedikit menebar senyuman yang penuh pesona itu.
“Devina, saya tidak suka basa basi. Saya ingin ke intinya.” ujar Tuan Prass to the point.
Devina duduk tenang dan diam. Menunggu apa yang menjadi tujuan Prass bertemu dengannya.
“Menikahlah denganku, Devina.” Satu kalimat yang membuat Devina sedikit kaget, namun ia begitu pandai menutupi keterkejutan itu.
Ia menoleh ke arah Tuan Prass.
__ADS_1
“Cih memang semua lelaki sama saja.” umpatnya dalam hati.