
Senyuman terpancar lebar malam itu menemani kepulangan Devina menuju rumah sakit. Lelah yang ia rasakan setiap malam biasanya kini tak ia rasakan lagi. Dan ia bisa ke rumah sakit dengan tubuh yang nyaman bertemu sang ibu.
“Bu,” Suara Devina terdengar di ambang pintu saat masuk ke ruangan Zera. Wanita paruh baya yang baru saja ingin memejamkan mata, ia urungkan saat melihat sang anak datang.
“Dev, sudah pulang Nak?” tanya Zera tersenyum pada Devina.
Devina melangkah mendekati wanita yang begitu ia sayangi.
“Iya, Bu. Ibu ingin makan apa?” Dengan lembut ia memijat lengan sang ibu sembari bertanya.
Sudah tak asing lagi Zera melihat perhatian sang anak. Namun, ia hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Devina.
“Ibu sudah makan tadi. Ayo istirahatlah. Kamu pasti lelah kan?”
***
Tanpa terasa kini malam yang di tunggu-tunggu oleh Prass.
Di sebuah rumah megah yang hanya berlantai satu, tampak seorang wanita berlari mengejar pria yang tak lain adalah suaminya.
__ADS_1
“Pah! Papah! Tunggu. Papah mau kemana? Malam ini tidak ada pekerjaan kan?” Yulia bertanya sembari menggenggam lengan kekar milik Tuan Prass.
“Mah, Papah sudah terlambat. Papah ada pertemuan dengan klien.” jawab Tuan Prass berusaha melepaskan genggaman tangan sang istri.
Sedikit lagi ia sampai di mobil jika saja sang istri tidak menahannya. Mendengar ucapan sang suami, Yulia segera menggelengkan kepala.
“Pah, Mamah bisa bersiap sebentar. Papah biasa juga selalu bawa Mamah kan?” Ia sungguh merasa aneh melihat suaminya pergi seorang diri. Ini bukan Tuan Prass jika pergi sendiri bertemu klien.
“Mah, malam ini tidak ada acara dinner. Hanya pertemuan khusus membahas pekerjaan.” Segera pria itu menghempaskan tangan Yulia pelan dan masuk ke dalam mobil.
Tatapan mata Yulia bergerak memperhatikan mobil yang melaju meninggalkan pelataran rumah megah itu. Napasnya terasa memburu, feeling seorang istri rasanya sungguh ia rasakan. Untuk pertama kalinya ia merasa janggal pada sang suami.
Gelisah tentu saja, namun ia tetap berusaha berpikir tenang dan positif pada sang suami.
Sedangkan di sebuah hotel, tampak wanita cantik baru di bukakan pintu mobil oleh pria yang berstatus pengawal, mereka di perintah oleh Tuannya untuk mengantar gadis pilihannya menemani pertemuan malam ini.
“Silahkan Nona.” ucap pria itu.
Devina melangkah memasuki sebuah restaurant VVIP di hotel bintang lima tersebut.
__ADS_1
Di sana duduk tiga orang pria dengan penampilan yang sangat rapi dan berkelas. Tak lupa seorang wanita juga duduk di sana.
“Oh jadi sama-sama bawa hiburan?” kekeh Devina dalam hatinya.
Ia melangkah dengan penuh percaya diri, Devina tersenyum saat mendapat sambutan Tuan Prass.
“Devina, duduklah.” ujar Tuan Prass menarik kursi untuk Devina duduki.
Malam itu mereka menikmati makan malam dengan tenang di iringi pernincangan bisnis. Hingga jam menunjukkan pukul 10 malam, pertemuan pun berakhir dengan jabatan tangan.
Sekali lagi, Devina melihat pria yang berusaha menggodanya. Namun, dia memilih acuh dan melenggang bersama Tuan Prass.
“Dev, kepalaku pusing. Bisa bantu aku ke kamar?” Suara berat Tuan Prass terdengar. Devina paham Tuan Prass pasti sudah dalam tingkat kesadaran yang rendah akibat alkohol tadi.
Di dalam kamar, mereka tiba dengan Devina memapah Tuan Prass menuju tempat tidur.
“Tuan, saya harus pulang,” usai memastikan membantu Tuan Prass, Devina berusaha pergi.
Sayang, langkahnya belum menjauh. Tuan Prass sudah menggenggam erat tangan wanita cantik itu dan menariknya kuat hingga tubuh tinggi Devina tertelungkup di atas tubuh Tuan Prass.
__ADS_1
Mata hitam Devina membulat sempurna.