
Sama seperti sebelumnya, Devina menolak secara halus. Dan itu membuat seorang Prass memasang wajah datar. Tak seceria sebelumnya. Ia sungguh menginginkan Devina.
“Aku tidak pernah bermimpi menjadi istri kedua, Tuan Prass. Apa kata orang jika mereka tahu aku menjadi istri kedua dari seorang Tuan Prass dan Nyonya Yulia?” Tantang Devina seolah ia menunjukkan dirinya yang bisa mendapatkan lebih dari itu.
Prass mendesah kesal. “Mereka tidak akan tahu. Kita bisa menikah siri. Aku akan menjamin semua fasilitasmi, Devina.”
Mendengar tawaran yang sudah biasa bagi Devina, ia hanya bergerak menenggak minuman di depannya tanpa berniat menjawab.
Prass bisa melihat wajah Devina yang sangat tidak tertarik. Dengan terpaksa ia pun meraih tangan Devina lembut.
“I’am sorry. Ayo kita makan. Maafkan aku jika membuatnya kesal. Aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita.” Senyuman manis ia paksakan demi membuat wanita di depannya kembali tidak kesal.
Devina hanya merespon dengan menaikkan sebelah alis lalu tersenyum pula. “Setelah makan, maukah kau berbelanja denganku?” Tawaran yang begitu menggiurkan tentunya.
Namun, sepintar mungkin Devina menarik bibirnya tersenyum kecil tanpa respon yang berlebihan. Tetaplah elegan dan jual mahal sekalipun murahan. Itulah kunci kesuksesan seorang Devina Shanika.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Devina. Aku tertarik padamu sejak pertama kali melihat wajahmu.” Punggung tangan Devina yang sedari tadi Prass genggam di atas meja ia kecup perlahan.
Devina sedikit risih, entah mengapa. Yang jelas ia tidak nyaman dengan perlakuan Prass padanya. Padahal pada pria lainnya ia sudah biasa melakukan hal yang lebih.
“Ayo selesaikan makan mu.” Prass memotongkan steak untuk Devina. Lagi dan lagi hal itu tak membuat Devina merespon dengan baik.
“Maaf, Tuan. Sepertinya saya bisa memakannya sendiri. Terimakasih.” Tangan putih dan mulus Devina mengambil sendok yang Prass pegang untuknya tadi.
Cukup lama mereka berada di ruangan VVIP tersebut. Tak ada pertemuan yang saling bersentuhan, Devina sangat menjaga jarak seolah ia merasa ada yang tidak nyaman di hatinya.
“Ada apa denganku? Tidak biasanya seperti ini? Apa aku ilfiel dengannya? Tapi apa sebabnya? Apa karena dia mengajakku menikah siri? Ah sudahlah tidak penting.” batin Devina bertanya-tanya.
“Devina,” panggil Tuan Prass.
“Iya, Tuan. Ada apa?” tanya Devina segera sadar dari lamunan singkat itu.
__ADS_1
“Besok malam bisa menemani saya bertemu klien?” Tawaran yang menggiurkan tentu sangat senang Devina lakukan.
“Bisa, Tuan. Kebetulan saya besok tidak ada jadwal tamu.” ujarnya dengan senang hati.
Kini Tuan Prass kembali memainkan ponsel dan setelah itu ia menyerahkan pada Devina.
“Ketik nomor rekeningmu. Nanti sekertarisku akan mentransfer padamu.” Yah, Tuan Prass sangat hati-hati mengenai jejak permainannya. Istrinya Yulia sangat teliti.
Jika tidak mau karirnya hancur, Tuan Prass harus bermain cantik. Istrinya bukan wanita bodoh yang bisa di tipu seenaknya.
“Baik, Tuan.” jawab Devina.
Tak lama kemudian setelah Devina mengetik nomor rekening miliknya. Sebuah notifikasi kembali masuk.
Mata cokelat Devina hampir menghijau melihat nominal yang sangat membuatnya ingin berloncat kegirangan.
__ADS_1
“150 juta, Tuan tidak salah?” tanya Devina berusaha menenangkan debaran jantungnya kala itu. Rasanya jantung itu ingin memberontak keluar.
Tuan Prass tersenyum. “Tidak ada yang salah jika itu untuk wanita sepertimu. Kau sangat berharga di mataku, Devina.” ujarnya dengan jujur.