
Hari sudah beranjak siang, sebentar lagi waktu menunjukkan jam makan siang. Namun, Prass masih setia duduk di sisi Zera yang belum sadarkan diri.
Ia berharap dengan kedatangannya, wanita itu akan sadar. Prass berkeras akan tetap berada di rumah sakit setelah Zera menjelaskan padanya. Hingga tak terasa waktu mulai gelap. Sore menyapa dengan indahnya warna langit di luar sana.
"Tuan, silahkan makan dulu di luar. Biar kami yang menjaganya." salah seorang anak buah Alvaro berucap dengan sopan.
Sayang, ucapannya hanya di acuhkan oleh Prass. Ia memilih menatap wajah Zera. Wanita yang pernah ia sangat cintai itu.
"Permisi, Tuan." anak buah Alvaro memilih pergi. Setidaknya ia sudah memberi peringatan. Jika sampai pingsan jangan salahkan dia.
"Zera, bangunlah. Aku mohon, ada yang harus kau pertanggung jawabkan di sini. Katakan pada ku apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Prass memohon.
Jawaban yang ia tunggu hanya alat pendeteksi jantung saja yang menjawab dengan suaranya. Zera masih tetap diam seribu bahasa menikmati mimpi panjangnya.
__ADS_1
"Bapak, di mohon untuk keluar dulu. Karena kami akan melakukan pengecekan kembali pada pasien." sang suster meminta Prass keluar.
Langkah berat ia tetap usaha keluar dari ruangan itu. Wajahnya tampak pucat dan sedih. Tak perduli dengan sapaan hormat anak buah Alvaro, pria itu hanya berjalan menuju tempat makan yang ada di rumah sakit itu. Ia kini baru sadar jika perutnya sangat lapar, bahkan tubuh tegap itu sudah melemah karena tak ada terisi makan dan minuman.
"Zera, aku mohon dengan sangat sadarlah. Jangan membuatku tersiksa dengan pemikiran ini. Aku benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui yang sebenarnya. Mengapa Devina anakku? Lalu siapa pria itu?" dalam hati pun ia terus bertanya hal yang sama meski tangannya bergerak untuk menyuapi mulutnya makanan.
Tepat jam delapan malam ia kembali ke ruang usai menyegarkan wajah dengan mencuci wajahnya.
"Ada apa ini?" tanya Prass panik saat melihat ruang ICU kembali di masuki oleh dokter dan beberapa perawat.
Prass mengusap wajahnya kasar penuh emosi. Akhirnya ia pun memilih berdiri mondar mandir di depan ruangan itu dengan gelisah.
"Keluarga Nyonya Zera?" pertanyaan suster yang membuka pintu ruang ICU.
__ADS_1
Prass berbalik badan dan menghadap suster. "Saya, Sus." ucapnya cepat.
"Pasien meminta anda datang." sang suster masuk kembali tanpa mengatakan apa pun.
Segera Prass menyusul masuk, begitu ia masuk matanya melihat jelas kedua mata yang sejak pagi tertutup kini terbuka dengan tatapan sendu dan lemah.
"Pra-as." sapaan yang begitu lemah Prass dengar.
"Zera, bertahanlah. Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Aku sudah melakukan tes DNA dengan Devina, Zera." Air mata jatuh begitu deras saat Zera mendengar kata itu. Hatinya sangat lega mendengar Prass mau melakukan apa yang ia minta.
Bahkan tanpa terasa air mata Prass ikut jatuh saat itu, sungguh tidak setega itu melihat Zera, wanita masa lalu menangis di depannya.
"Maafkan aku, Zera. Maafkan aku." Pelukan yang sangat hangat begitu Zera rindukan sejak mengandung benih pria ini, akhirnya kembali menghangatkan tubunya yang rapuh.
__ADS_1
Zera begitu menikmati pelukan Prass, meski ia tahu ini bukanlah hal yang benar. Pernikahan mereka sudah lama tidak bersama. Apakah itu artinya mereka bukan sepasang suami istri lagi? Entahlah yang terpenting saat ini Zera ingin menikmati untuk terakhir kalinya pelukan itu.