Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Masa Lalu


__ADS_3

Dua pasang mata yang bertatap begitu dalam, jelas terlihat kini ada kerinduan yang mendalam. Tak dapat di pungkiri meski lama membenci dan meninggalkan tanpa mau mengingat nama itu lagi selama bertahun-tahun di hatinya, kini Prass menyadari perasaan yang sangat ingin ia buang dan lupakan itu ternyata masih ada di dalam hati yang paling dasar.


Hatinya sakit melihat Zera tak berdaya seperti ini, bahkan wanita cantik itu tak lagi bersinar saat ini. Bibir yang selalu tersenyum dengan warna pink natural kini hanya tampak seperti mayat hidup. Sangat pucat dan mata yang cekung ke dalam, bahkan pipi cuby yang selalu ia cubit dulu kini sudah sangat tirus.


"Apa kau senang melihat hasilnya, Prass?" tanya lirih Zera menatap sang pria di depannya yang juga menatapnya dengan mata berembun.


Prass seketika mengangguk sembari mengatupkan kedua bibir yang ingin menangis itu, rasa penyesalan ia sangat rasakan kali ini. Devina benar darah dagingnya, bagaimana bisa ia tak mau mengakui gadis itu?


"Ya, aku senang dan sedih melihat hasilnya. Aku sedih karena aku sempat ingin melukai fisiknya." batin Prass ingin mengatakan bagaimana ia sangat terpancing untuk menjadikan Devina kekasih simpanannya. Tapi rasanya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ia mengakui semua kesalahannya. Mengingat keadaan Zera sedang sangat mengkhawatirkan.


"Terimakasih menjaga anak kita dengan baik. Aku benar-benar menyesal tidak mengakui Devina anakku." lanjut Prass tertunduk sedih.


Ada senyum terbit di bibir pucat milik Zera. "Ia mengusap pelan punggung tangan Prass.


"Jagalah dia dengan baik, maafkan aku yang gagal mendidiknya selama ini, Prass. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin," Zera menghirup napas dalam-dalam dan kembali berucap.


"Aku mohon Prass, bebaskan Devina dari sana. Ini permintaan pertama dan terakhirku. Aku sudah tidak kuat lagi menunggu Devina lebih lama." Wajah Prass yang semula menunduk seketika menengadah menatap wajah Zera. Ia menggeleng saat mendengar kata Zera.


"Zera, tidak. Kau bicara apa? Devina masih membutuhkanmu. Kau tidak boleh berkata seperti ini." ucapnya merasa takut jika Zera mengatakan itu adalah permintaan terakhirnya sebelum ia benar-benar pergi dari dunia ini.


"Aku minta maaf, Prass. Kejadian waktu itu aku terpaksa melakukannya. Ayah Rinto memaksaku untuk melakukan perintahnya." Belum usai ketakutan Prass, kini ucapan Zera kembali membuat dada pria itu sangat terkejut. Matanya melotot kala mendengar nama Ayah Rinto yang tak lain adalah ayahnya yang sudah berpulang karena serangan jantung.


Zera menangis mengingat kenangan masa lalu yang menyakitkan untuknya.


Prass menggeleng.


Flashback on

__ADS_1


Siang hari di kala terik matahari begitu panas, Zera berjalan pulang dari rumah sakit usai mengontrol kandungannya yang masih berusia delapan minggu.


Kebahagiaan itu menjadi lengkap kala keluarga kecil Prass dan Zera di karuniai seorang anak di rahim milik Zera. Meski pernikahan mereka tak mendapatkan restu dari orangtua Prass.


Pernikahan siri mereka lakukan sebelum mendapatkan restu dari kedua orangtua Prass. Zera yakin, suatu saat nanti mereka pasti akan mendapatkan restu, itulah yang ia yakini.


"Zera!" Teriakan terdengar menggema dari arah luar halaman saat Zera hendak menutup pintu rumahnya.


Kembali wanita itu membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Senyum yang begitu lebar ia berikan pada kedua mertuanya saat melangkah mendekat. Meski Zera tahu saat itu wajah mereka sangat tidak baik padanya.


"Ayah, Ibu, silahkan masuk. Zera buatkan minum hangat dulu. Prass belum pulang kerja di jam segini, Ayah, Ibu." ucapnya sangat ramah bahkan Zera ingin meraih tangan kedua mertuanya untuk ia cium. Sayang, perlakuannya di acuhkan oleh mereka.


"Yah, langsung saja." pintah wanita paruh baya itu pada sang suami.


"Zera, kami sangat beritikad baik datang bicara baik-baik denganmu kali inik. Jadi kami harap untuk kamu bisa menghargai kami." Suara tegas milik Ayah Rinto membuat Zera meneguk kasar salivahnya.


Ia sangat takut menghadapi ini semua seorang diri. Dalam hatinya sangat berharap sang suami tiba-tiba datang seperti banyak kejadian di drama. Sayangnya, semua hanya harapan.


"Anakmu akan menjadi taruhannya kalau kamu tidak menuruti kami."


Mata Zera membulat kaget, kedua tangannya reflek memeluk perut rata itu, seolah ingin melindunginya. Ia menggeleng ketakutan kala mendengar anaknya di bawa-bawa.


"Tinggalkan Prass dan bawa anak itu bersama mu. Kami berjanji tidak akan mengganggu kalian, tapi kalau kau bersikeras mempertahankan anakku, Prass. Aku tidak bisa menjamin anakmu akan lahir di waktunya tiba. Kau bisa lihat itu?" Mata Zera menatap banyaknya pria berbaju hitam yang berdiri di masing-masing sudut sekitar rumahnya yang sederhana tak memiliki pagar rumah yang tinggi. Semua berdiri menampakkan diri mereka masing-masing saat mata Zera menatap arah yang sang mertua tunjuk.


Saat itu juga Zera meneguk salivahnya susah payah. Takut, tentu saja ia sangat takut. Bahkan tanpa sadar Zera sudah meneteskan air matanya kala itu.


"Ayah, bagaimana bisa aku meninggalkan Prass? Kami saling mencintai. Tidak bisakah kalian memberiku kesempatan untuk membuktikan aku layak untuk Prass?" Zera bersikeras mempertahankan pernikahannya di depan sang mertua.

__ADS_1


Ia melihat wajah tegas kedua mertuanya sangat berwibawa ketika menghadapi masalah. Tak ada sikap arogan yang biasa para mertua lakukan pada menantunya. Hanya ucapan yang tenang namun penuh ancaman.


"Kalau kau mencintai Prass, berikan dia kehidupan yang baik. Dan kau tidak bisa melakukan itu sendiri tanpa kami,Zera. Tinggalkan anakku dan ikuti perintahku. Kau dan anakmu akan tenang. Bahkan jika kau bersikeras mempertahankan anakku, Prass. Maka aku tidak akan segan menembak anakku sendiri beserta anak di perutmu itu."


"Hah?" Tubuh Zera bergetar ketakutan nyaris hampir jatuh kalau saja ia tak langsung berpegangan pada sisi pintu yang terbuka.


Dan persetujuan Zera lakukan sesuai perintah sang mertua. Ia pun tidur di kamar bersama pria yang sama sekali ia tidak kenal.


Sebuah rekaman cctv yang baru di pasang di kamar itu membuat Zera sama sekali tak bisa berkutik. Jika saja ia menolak, maka pria yang bersamanya akan menembak perut Zera.


Hingga akhirnya sore tepat pukul lima, suara teriakan Prass terdengar di luar kamar.


"Zera! Sayang! Aku pulang. Papah pulang, Nak." Teriakan bahagia Prass saat itu membuat mata Zera semakin ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin. Namun, ia tetap menahannya demi sang anak dan suami tetap aman.


Hingga terdengarlah teriakan penuh amarah kala tangan besar Prass membuka pintu kamar.


"Zera! Baj*ingan!" pekiknya menghambur memukul pria di belakang Zera.


Dengan wajah akting kaku, Zera membuka mata dan pura-pura kaget. "Prass?" ucapnya namun saat itu juga tangan besar Prass sudah menamparnya meski tangan sebelah sibuk memukuli pria itu.


"Kamu keterlaluan, Zera. Kau menggunakan aku untuk menutupi kehamilanmu itu? Iya!" teriaknya membuat tubuh Zera terkejut.


Amarah menguasai diri Prass, pria itu terus memukul dan menangis. Hingga ia pergi di hari itu juga tanpa bertanya apa pun dengan Zera dan pria selingkuhan Zera.


Mobil ia lajukan menuju sebuah apartemen yang lama tak ia huni. Di sanalah pria itu menumpahkan semua kekecewaannya. Tanpa ia tahu yang terjadi sebenarnya.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2