
Satu bulan sejak kepergian Devina bersama Alvaro di Kota B yang terkenal asri itu.
“Sudah sarapan?” Pertanyaan Alvaro membuyarkan lamunan Devina di meja resepsionis itu.
Yah, dengan berbekal ijazah SMA terakhir sungguh sulit Alvaro membawa Devina masuk ke perusahaannya meski itu adalah miliknya sendiri.
“Sudah, Tuan.” Devina menjawab dengan sangat sopan.
Sejak sebulan pula ia mendapatkan didikan dari Alvaro dengan baik.
“Baiklah. Bekerja dengan giat.” Wajah tegas dan hangat tanpa senyuman seakan kian hari kian menghipnotis pandangan dingin Devina pada Alvaro.
Hanya anggukan patuh yang Devina berikan saat Alvaro berlalu dari meja resepsionist itu. Sementara dari arah lain beberapa mata karyawan menatap tak suka dengan kehadiran Devina. Meski sebagai resepsionis, ia begitu memukau. Wajah cantik dan tubuh yang memang bak model tentu selalu menjadi pusat perhatian para pekerja pria di sana.
Sayangnya, Devina bukanlah wanita yang lemah. Ia sosok yang berani dan suka dengan tantangan.
“Kalau tidak suka, jangan seperti itu. Bicaralah pada Tuan Al.” suara Devina semakin membuat geng wanita di sudut ruangan itu mencibir lalu bubar tanpa kata.
“Bukan tandinganku sama sekali. Tidak ada perlawanan.” gumam Devina terkekeh kemudian ia duduk dengan anggun.
__ADS_1
Pekerjaan hari itu masih seperti biasa, tak terlalu sibuk hingga waktu siang menjelang. Waktunya para pekerja berlalu lalang di hadapan Devina.
“Dev, kantin yuk. Laper banget nih.” ujar sang teman yang satu profesi dengannya.
Devina merasa perutnya masih kenyang sebab ia makan dengan sangat banyak di apartemen tadi pagi sebelum bekerja.
“Makanlah, aku masih kenyang.” jawab Devina.
Mendengar kata itu, sang teman pun berlalu meninggalkan Devina seorang diri.
Tak lama setelah itu terdengar suara pria. “Devina, makan siang bareng yuk. Kita-kita traktir deh.”
“Ehem,” semua terlonjak kaget kala menyadari suara siapa itu.
“Tidak makan siang?” Pertama Alvaro bertanya pada para pria itu. Meski berikutnya ia menatap ke arah Devina.
“Eh ini mau, Tuan. Mau makan siang.” Tanpa kata empat pria itu berlalu menganggukkan kepalanya.
“Selamat siang, Tuan.” Devina menyapa dengan hormat.
__ADS_1
Alvaro diam menatapnya. “Temani saya makan siang.” ujarnya.
Devina kaget tentu saat mendengar ajakan atau perintah itu. Pelan, ia pun menganggukkan kepalanya.
Keduanya berjalan menuju mobil yang siap mengantar sang pemilik keluar dari area gedung kantor tersebut.
Tanpa Devina tahu dari sisi yang berbeda, tampak seorang pria yang kini mulai terlihat matang usianya. Duduk meneguk segelas air putih sembari menatap beberapa kali area luar restauran.
“Mereka belum sampai-sampai juga. Apa mungkin Tuan Alvaro baru saja berangkat? Huh semoga ini adalah waktu yang baik.” gumamnya seketika di buyarkan saat mendengar suara di samping yang ceria.
“Papah, kok Kakak cantiknya belum datang juga sih? Kan kata Papah kita mau ketemu sama Kakak cantik?” celetuk bocah yang duduk di samping sang ayah.
“Aluna lelah? Sabar yah, Nak? Sebentar lagi pasti ketemu. Setelah itu kita akan istirahat di hotel. Senangkan Aluna?”
Tuan Prass tersenyum hangat sembari mengusap kepala sang anak. Wajahnya hangat dan teduh, namun hatinya tampak sangat berdegup membayangkan apakah hati Devina akan menghangat padanya?
Jika membayangkan saja rasanya sangat sulit. Terlebih ia tahu bagaimana Devina begitu dendam padanya.
“Asik tidur di hotel yang bagus kan, Pah? Aluna suka, mau berenang juga Papah.” tuturnya ceria. Dan Tuan Prass hanya mengangguk.
__ADS_1
Di sini Aluna sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Sang anak begitu ceria dan meneduhkan pikirannya yang kalut.