
"Tuan, Nyonya Zera sudah di alihkan ke ruang ICU. Untuk saat ini masih dalam pemantauan Dokter." laporan anak buah Alvaro membuat pria itu memilih mengalihkan tujuannya ke kantor polisi.
Ke rumah sakit saat ini tidak akan membuat keadaan berubah. Ia tahu apa yang bisa membuat Zera kembali semangat hidup lagi. Ia harus menuju kantor polisi menemui Devina.
Satu jam sudah sejak ia mendapat kabar di pertengahan jalan, akhirnya pria tampan itu sampai di kantor polisi. Salah satu anggota kepolisian segera menyambut kedatangan pria itu dengan hormatnya dan menemani Alvaro berjalan ke sebuah ruang pembesukan.
"Silahkan,Tuan. Kebetulan sedang ada Tuan Prass juga." Alvaro tak bersuara hanya mengangguk lalu masuk bergabung dengan Devina dan Tuan Prass.
Ia rasa ini akan jauh lebih baik pastinya. Sementara Tuan Prass tampak mengangguk sedikit hormat pada pria di depannya ini. Devina acuh dengan dua pria yang bersamanya.
Yang jelas ia begitu sangat puas dengan hasil wawancara hari ini yang sangat menjatuhkan nama Prass.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu Devina. Hanya saja saya ingin membuktikan apa benar dia anak saya atau bukan. Oleh sebab itu saya ingin melakukan tes DNA." Tuan Prass berucap dengan formal pada Alvaro.
__ADS_1
Tentu saja mendengar hal itu Devina seketika mendelikkan matanya. "Tes DNA? Apa saya tidak salah dengar? Tuan Prass, maaf. Saya tidak akan pernah mau melakukan hal itu." ujarnya berterus terang tanpa takut apa pun.
Dan Tuan Prass sudah menduga sebelumnya ini akan terjadi. Itulah sebabnya ia ingin Zera membantunya. Sayang wanita itu justru kini tengah kritis.
Alvaro mengambil keputusan untuk bicara, karena ialah yang bisa menjadi penengah di ruang itu. Tarikan napas dalam segera ia hela kasar begitu menatap wajah cantik Devina yang membuat jantung berdegup kencang. Ya, tanpa ada yang tahu, setiap kali Alvaro dekat dengan Devina. Ia tampak kesulitan mengatur rasa gugup itu.
"Bu Zera kritis pagi tadi," ucapan Alvaro membuat wajah acuh Devina menoleh kaget padanya. Sungguh Devina sangat kaget mendengar kabar sang ibu.
Wajah yang puas usai mempermalukan sang ayah, kini berubah sangat sedih. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Jika tak mengingat kasus yang ia lakukan beberapa waktu lalu, sungguh ia ingin saat ini juga lari menemui sang ibu dan menemaninya.
"Bagaimana bisa kau bertanya Ibu baik-baik saja setelah melihat anaknya melakukan hal yang sangat tidak dia inginkan, Dev?" tanyanya membaut Devina menunduk sadar.
Ia meneteskan air mata sedih. Kini hanya satu keinginannya, yaitu keluar dari kantor polisi dan memastikan keadaan sang ibu.
__ADS_1
"Dengan semua yang kau lakukan tanpa persetujuan sang Ibu, sekali pun rumah sakit itu dan dokter milikmu tidak akan mampu membuat ibu sembuh. Karena sakitnya yang sesungguhnya adalah ada pada anaknya." Dada Devina seperti terhantam batu yang tajam. Ia sangat menyadari apa yang Alvaro katakan memang benar.
Bahkan Prass yang menjadi saksi di depannya hanya bisa menatap sedih air mata Devina. Ada ara yang tak bisa ia artikan saat melihat wanita cantik di depannya menangis. Bukan rasa ingin memiliki, namun entah ia pun tidak tahu itu.
Hanya satu jalan yang ia tahu, Devina melepaskan genggamannya pada tangan Alvaro dan beralih menggenggam tangan Prass. Pria yang sangat ia benci, ini adalah satu-satunya jalan ia bisa menemui sang ibu. Bahkan Devina bisa melihat tak ada dendam di wajah Prass saat ia memohon.
"Tuan Prass, tolong lepaskan saya. Saat ini saja, terserah jika anda mau menghukum saya sampai mati pun tidak apa. Asal ijinkan saya menemui Ibu di rumah sakit. Saya mohon kasihani kami, Tuan. Ibu satu-satunya orang yang saya punya. Saya tidak akan mengganggu anda jika anda tidak ingin mengakui saya." Devina menangis terisak menangkupkan kedua tangannya di depan Prass.
Buka marah atau lainnya, justru Prass hanya mengatakan, "Lakukan tes DNA, maka saya akan mengijinkanmu ke rumah sakit menemui ibumu." satu permintaan yang menjadi tujuan utama pria paruh baya itu datang akhirnya sedikit lagi akan tercapai.
Tak bisa menolak, Devina hanya mengangguk pasrah.
Kala mendapatkan persetujuan, segera Tuan Prass mengutus tim medis ke kantor polisi atas dasar kekuasaan pria itu. Semuanya berjalan lancar meski hasil tes DNA harus menunggu beberapa waktu. Yang terpenting ia ingin kebimbangan dan kebenaran terjawab semua.
__ADS_1
Sesuai janji yang mereka sepakati, akhirnya Devina di ijinkan keluar ke rumah namun tetap dalam pengawasan petugas kepolisian. Bagaimana pun juga Tuan Prass belum bisa melepaskan Devina sebab ia belum mendapatkan hasil tes DNA tersebut.