
Pagi menyapa kembali, sungguh waktu sangat cepat berlalu. Devina terbangun dari tidurnya. Ia bersiap untuk segera pulang.
“Dev, nanti siang pemeriksaan lanjutan ibu keluar. Kemarin sore dokter beri tahu ibu.” Zera melihat sang anak yang hendak pergi. Devina mengangguk paham.
Hari ini ia memang berniat untuk menanyakan hal itu. “Iya, Bu. Ini Devina mau kesana. Semoga ibu jauh lebih baik yah.” ujarnya.
Zera mengangguk tersenyum.
Disinilah sekarang Devina berdiri. Tampak wanita di depannya memberikan lembaran kertas yang menuliskan hasil pemeriksaan Zera. Terlalu sibuk dengan kerjaan membuat Devina sulit untuk bertemu dengan sang dokter.
“Keadaan pasien sejauh ini sudah membaik. Hanya saja masih harus di rawat beberapa hari kedepan. Karena pengobatan melalui infus di butuhkan untuk kesembuhan pasien Ibu Zera.” ujarnya menerangkan.
Devina pun paham, akhirnya ia meninggalkan rumah sakit dan kembali ke ruangan rawat sang ibu.
“Bagaimana? Apa ibu sudah boleh pulang? Kapan, Dev?” tanyanya.
Belum sempat Devina menjawab. Suara ketukan pintu sudah terdengar saat itu.
“Permisi, pasien atas nama Ibu Zera?” pertanyaan itu membuat Devina dan sang ibu menoleh penasaran.
__ADS_1
“Ibu saya, Sus. Ada apa?” tanya Devina.
Suster itu tampak tersenyum dan melangkah mendekat setelah mengetahui siapa yang harus ia tuju di ruangan ini.
“Ini makanan, kue, serta buah yang di titipkan dari seseorang untuk Ibu Zera.” Kening Devina mengernyit heran melihat banyaknya makanan mewah dan lezat di sana.
“Dari siapa, Sus?” tanya Zera begitu penasaran sekali.
Devina masih menatap makanan itu penuh tanya.
“Saya tidak tahu, Bu. Katanya dari calon menantu.”
“Hah?” Terkejut. Sungguh Devina terkejut mendengar kata menantu. Siapa yang sudah mengarang cerita itu.
“Terimakasih, yah Sus.” ujar Zera senang.
Sedangkan Devina masih tidak bisa menduga. Lantaran tak hanya satu pria yang mengejarnya. Bisa jadi itu pria-pria yang mengencaninya satu malam kan.
“Sus, tidak. Ini di buang saja. Saya tidak tahu siapa yang kasih ini.” pintahnya tak mau menerima makanan itu.
__ADS_1
“Dev, kenapa bicara begitu? Memang siapa lagi jika bukan Tuan Alvaro? Kamu ini ada-ada saja. Sudah Suster tinggalkan saja makanannya.”
Manik mata Devina mendelik kaget mendengar nama Tuan Alvaro. Iya yah, mengapa ia tidak terpikir ke sana. Satu-satunya pria yang tahu keadaan Ibu Devina di rumah sakit hanya dia.
***
Sedangkan di kantor tampak Tuan Prass memutar-mutar ponselnya saat itu. Matanya terus menatap jalanan yang menampilan padatnya kendaraan di kota itu.
“Aku tidak boleh agresif. Devina akan semakin liar jika aku memaksanya. Aku ingin hubungan ini menyenangkan.” Pikirannya berusaha mencari jalan apa yang akan ia lakukan pertama kali untuk mendekati Devina kembali.
Seketika senyuman menghiasi wajah Tuan Prass.
“Halo, Tuan.” Sapaan suara lembut di seberang sana membuat senyuman mengembang di wajah tampan Tuan Prass.
Rasanya sungguh lega kala ponselnya bisa tersambung dengan sosok wanita yang mengobrak abrik hatinya saat ini.
“Devina, saya minta maaf jika terjadi sesuatu padamu semalam. Sungguh semua di luar kendali saya.” ujarnya berakting. Nyatanya ia masih cukup sadar saat semalam ingin menguasai Devina. Sayangnya pengaruh alkohol membuatnya bergairah sekali.
“Em, saya mengerti, Tuan. Semoga lain kali tidak terjadi seperti itu.” sahut Devina.
__ADS_1
Ingin rasanya ia menjauh dari pria yang ternyata adalah ayahnya. Tapi, dia tidak boleh menyerah begitu saja. Tuan Prass adalah target utama Devina.
“Apa kau benar mau memaafkan saya, Devina? Sungguh saya menyesali hal semalam.