Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Wawancara


__ADS_3

Sejak kejadian hari itu, kini satu minggu sudah Zera kembali menjalani rangkaian pengobatan di rumah sakit. Namun sayang, pagi ini semua orang yang di beri tugas Alvaro untuk melayani dengan baik Zera tampak riuh di rumah sakit.


Ada yang lari meminta pertolongan, ada juga yang berlari keluar menelpon sang tuan. Tepatnya jam masih menunjuk angka enam.


"Dokter! Dokter!" teriakan para anggota Alvaro.


Sedangkan di ruangan perawatan, Zera mendadak lemah tak bertenaga. Matanya mulai redup bahkan tubuhnya sudah sangat pucat dan dingin.


"Nyonya Zera, bertahanlah. Nyonya!" seruan para anggota Alvaro sangat panik sekali.


Di sini Alvaro terduduk di tempat tidur saat masih menikmati jam tidurnya pagi itu. Ia semalaman harus lembur lantaran pekerjaan yang harus ia selesaikan agar bisa kembali ke Ibukota untuk menemani Devina dan Bu Zera.


"Apa? Tolong suruh Dokter melakukan yang terbaik. Saya kesana sekarang." ujarnya bergegas membersihkan diri dan melajukan mobil yang akan menempuh perjalanan sekitar kurang lebih dua jaman.


Bertepatan dengan keadaan yang riuh di rumah sakit. Kini sosok Prass datang melangkah memasuki rumah sakit. Ia bahkan beberapa hari terakhir ini sulit tidur ketika mengingat percakapannya untuk pertama kalinya bersama Zera setelah sekian lama.


"Dengan pasien atas nama Nyonya Zera, Tuan? saat ini di pindahkan ke ruang ICU karena keadaa beliau kembali kritis." jelas wanita yang di temui oleh Prass.

__ADS_1


Mendengar hal itu kedua mata Prass membulat sempurna. "Kritis? Bagaimana bisa?" ia tak menyangka jika penyakit yang Zera derita sampai separah itu. Selama ini ia berpikir kemungkinan hanya sakit biasa saja.


Tanpa bertanya lagi, ia berlari menuju ruang ICU. Niatnya mencari Zera ingin meminta bantuan untuk melakukan tes DNA yang Zera tawarkan minggu lalu. Sayang, pihak kepolisian memberi informasi jika Ibu Zera di rawat di rumah sakit. Bahkan saat mereka meminta keterangan pada beliau, terpaksa harus datang ke rumah sakit juga.


"Apa yang terjadi dengan mu, Zera? Apa yang kalian lewati selama ini? Apa aku salah padamu meninggalkanmu? Tapi, kau yang membuat semua itu terjadi. Aku adalah korban yang sebenarnya." selama berlari Prass sangat bimbang.


Antara ia yang salah atau Zera lah yang salah. Yang ia ingin tahu saat ini apakah benar Devina anak kandungnya atau bukan? Jika memang benar, sungguh ia tidak berhak memenjarakan Devina. Bagaimana pun juga itu adalah kesalahannya. Tidak mendampingi tumbuh besar sang anak hingga memiliki sifat balas dendam seperti itu.


"Zera?" Prass menatap nanar wanita yang tengah menjalani perawatan di ruang ICU itu, bahkan terlihat jelas saat ini ia tidak membuka matanya lagi. Tiba-tiba ada perasaan sedih di hati pria yang lama sudah melupakan nama Zera.


Prass terduduk di kursi yang ada di lorong. Bagaimana mungkin ia meminta bantuan Zera untuk melakukan tes DNA sementara wanita itu saja sedang bertaruh melawan kematian. Hingga akhirnya langkahnya bergerak cepat keluar rumah sakit usai bertemu seorang dokter menanyakan perilah tes DNA.


Perjalanan menuju kantor polisi tak memakan waktu lama, kini Prass pun menghentikan mobil mewah miliknya. Sayangnya pagi itu ia di kejutkan dengan keadaan di dalam yang sangat ramai. Para wartawan dengan kamera masing-masing tampak antusias memberikan pertanyaan pada salah seorang tahanan yang membuat Prass semakin penasaran.


Ia terus melangkah semakin dekat semakin dekat. Hingga wajah cantik Devina terlihat jelas.


"Apa anda tahu jika akan berakhir di penjara seperti ini?" Pertanyaan salah seorang wartawan membuat Devina semangat menjawabnya. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu sejak lama.

__ADS_1


Devina tersenyum smirk sebelum ia menjawab pertanyaan para wartawan. "Yah ini tidak saya sangka sebenarnya. Saya merasa saya adalah anak yang di terlantarkan sejak lama, bahkan saya tidak melakukan apa pun dengan istrinya selain mengirim foto itu. Kematian yang terjadi tentu bukan saya yang menyebabkan. Tapi saya justru di penjara yang saya tidak tahu apa kesalahan saya sampai sefatal itu. Dan sekarang ia tidak pernah berniat menyelesaikan masalah ini dengan baik. Justru memenjarakan anaknya sendiri. Mungkin memang dia tidak menginginkan saya dan ibu saya hidup. Saat ini Ibu saya sedang di rawat di rumah sakit. Sekali pun ia tidak pernah melihat." Devina berbicara dengan wajah penuh amarah dan dendam.


Mulanya ia ingin menjauh dari kehidupan sang ayah, sayangnya kedatangan media justru membangkitkan gairah Devina untuk membalas semua perlakuan Prass padanya dan sang ibu.


Mendengar penuturan sang anak, Prass menghentikan langkah dan hanya mendengar semua tanya jawab di depannya. Hingga tanpa sadar Devina menatap sosok pria di balik kerumunan wartawan di depannya.


Pakaian yang ia pakai masih pakaian biasa meski hanya kaos lengan pendek dan celana selutut. Devina tampil apa adanya namun tetap terlihat sangat cantik. Bibir yang pink dan bulu mata yang lentik serta lebat membuat kecantikannya begitu nyata.


Dan pagi itu seluruh media menyiarkan berita tentang seorang pengusaha yang baru saja berduka atas kepergian sang istri kini menggemparkan dunia bisnis dan artis. Kepergian Yulia banyak yang menduga adalah karma dari apa yang Prass lakukan pada anak dan istrinya di masa lalu.


Tak hanya di media sosial dan televisi, kini Alvaro yang melajukan mobil pun turut mendengar berita dari siaran radio mobil mewahnya.


"Devina, kenapa harus seperti ini? Kamu tidak tahu ibu bagaimana sekarang?" rutuk pria tampan itu yang menilai Devina benar-benar ambisi sekali dengan balas dendamnya. Tanpa perduli kesehatan sang ibu yang terancam hilang nyawa di luar sana.


"Ya Tuhan semoga semua baik-baik saja." umpatnya geram sekali hingga tangannya bergerak menelpon seseorang.


"Ya Tuan," sapa sang sekertaris di seberang sana.

__ADS_1


"Tutup semua berita itu sebelum menyebar semakin luas. Bersihkan semuanya jangan ada yang tersisa!" Panggilan terputus seketika. Alvaro tak ingin jika sampai Zera sadar dan syok melihat pengakuan sang anak.


__ADS_2