Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
ke Kantor Polisi


__ADS_3

Keheningan akhirnya terpecahkan saat suara pelan dan wajah tertunduk itu berani mengatakan yang sejujurnya.


"Benar, Pi. Berita itu benar. Sebelumnya Yulia ke kantor dan kami bertengkar. Saya tidak tahu apa yang terjadi awalnya, hingga Yulia tabrakan." Sejenak Tuan Prass mengusap wajahnya kasar.


"Kemungkinan ia mengendarai mobil dengan keadaan kacau. Karena di ponsel saya melihat ada seseorang mengirim foto saya dengan wanita yang tidak terlihat wajahnya." sang mertua menarik napas dalam. Kepalanya mendadak pusing mendengar persoalan rumah tangga sang menantu dan anaknya.


Tinggal berjauhan membuat mereka berpikir jika rumah tangga sang anak baik-baik saja seperti yang selalu tersorot media. Pembisnis sukses dengan istri yang mengharumkan nama negara merupakan pasangan serasi dan patut menjadi idola. Itulah yang selalu mereka dengar di berita.


Sayangnya, semua lengah dengan apa yang terjadi. Bahkan media pun tidak tahu soal prahara rumah tangga mereka akhir-akhir ini yang sering kacau.


"Kamu menyelingkuhi anakku, Prass?" Suara serak yang tak kuat lagi berteriak nyatanya sampai membuat sang istri di samping terjingkat kaget.


Tubuh pria tua itu bergetar saat berdiri dari duduknya. Kekecewaannya sudah terasa begitu jelas melihat sang menantu yang selama ini mereka banggakan.

__ADS_1


"Tidak, Pi. Saya juga tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun. Saya di jebak, Pi." kilah Prass yang merasa memang ia tidak berselingkuh.


Yah, ia dan Devina tidak punya hubungan apa pun sampai detik ini. Hanya sebatas calon rekan hidup. Sayang, ia tidak tahu jika semua adalah tak tik Devina.


"Maafkan saya, Pi. Saya punya masalalu dengan wanita yang mungkin ia ingin balas saya melalui keluarga saya." ia benar meminta maaf penuh rasa bersalah. Bagaimana pun Yulia adalah wanita yang begitu ia cintai. Yulia adalah wanita yang mendampinginya hingga sampai sesukses ini. Banyak campur tangan wanita itu dalam bisnisnya.


"Pi, tenanglah. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Ada Aluna di kamarnya. Tidak baik dia mendengar keributan." ucap wantia tua yang akhirnya menenangkan sang suami.


Sejenak Prass terdiam. Ia harus jujur kali ini. Dan ingin semuanya selesai sampai di sini. Ia tidak kuat jika harus berpikir hal lain sementara kesedihannya di tinggal sang istri masih begitu membekas.


"Dulu saya menikah siri dengan seorang wanita, Pi. Tapi karena saya tidak percaya setelah mengetahui dia tidur dengan pria lain. Saat itu keadaannya sedang mengandung anak yang entah anak siapa. Saya yakin, itu bukan anak saya. Saya meninggalkannya. Tapi, saat saya ke kantor polisi mengurus kasus penculikan Aluna, saya bertemu dia."


Semakin di buat terkejut kedua orangtua Yulia mendengar jika cucu satu-satu mereka di culik tanpa mereka tahu.

__ADS_1


"Apa? Di culik katamu?" dua mata itu membulat sempurna. Sementara Tuan Prass hanya mampu menganggukkan kepalanya.


"Kita sebaiknya pergi ke kantor polisi, Pi. Saya masih menahan mereka sambil menunggu pemakaman Yulia selesai." Tuan Prass tak sanggup lagi jika harus menjelaskan pada kedua mertuanya. Ia lebih memilih meminta penjelasan dengan wanita masa lalunya itu.


Sebelum pergi, ia bergegas menuju kamar sang anak. Di sana Aluna tampak berbaring tanpa melakukan apa pun. Ia hanya menatap kosong ke atas nakas yang memperlihatkan foto dirinya dan kedua orangtua yang berpelukan ceria.


Air mata pun masih terus mengalir di pelupuk matanya.


"Aluna," Prass mengusap air mata itu pelan dan mencium kepala sang anak lembut.


Tak ada jawaban. Aluna masih diam dan tak menoleh sedikit pun.


"Papah harus pergi ke kantor polisi sama Papi. Aluna di rumah dengan Mami yah?" ucapnya pamitan meski masih tak ada respon dari sang anak.

__ADS_1


__ADS_2