Bismillah, Aku Berhijab

Bismillah, Aku Berhijab
Pemakaman


__ADS_3

Devina terus menangis di dada bidang milik Alvaro, begitu pun Alvaro yang mencoba untuk tetap menenangkan wanita itu. Hingga akhirnya Prass yang melihat itu tak kuasa untuk menahan diri. Ia sadar sangat salah pada Zera dan Devina selama ini. Sumpah demi apa pun Prass benar tak menyangka jika dalang di balik ini semua adalah orangtuanya yang bahkan saat ini tak bisa lagi ia tuntut untuk mempertanggung jawabkan semua yang sudah terjadi.


"Devina," Pelan tangan Prass menyentuh pundak Devina.


Suara tangisan Devina pun terhenti, dan Alvaro melepaskan pelukannya. Devina terisak kemudian menoleh pada sumber suara. Matanya menatap pria yang begitu ia benci.


"Anda?" Suara Devina terdengar lirih hingga air matanya menetes tanpa tangisan lagi saat menatap wajah pria di depannya ini yang sudah sangat lama ia pikirkan bagaimana wajah sang ayah, wajah pria yang sudah membuatnya menderita dengan sang ibu.


"Pergi dari sini saya bilang. Pergi!" Devina tak akan sudi lagi bahkan untuk berbicara apa pun. Ia hanya ingin Prass pergi dari hadapannya dan sang ibu.


Prass tampak menggelengkan kepalanya berkeras agar tetap berada di ruangan itu. Sepertinya sifat keras Bimala menurun pada sang ayah.

__ADS_1


"Kita harus bicara, Devina." ucap Prass.


Devina menggeleng engggan bicara. Hanya tangan yang ia tunjuk ke arah pintu meminta Prass untuk keluar. Alvaro mengangguk memberi isyarat pada Prass agar pergi dulu. Patuh, pria paruh baya itu pun pergi dan tinggallah Devina bersama Alvaro.


Cukup lama wanita itu menangisi mendiang sang ibu, hingga Alvaro meminta anak buahnya mengurus semua prosesi pemakaman.


Sementara di luar sana, Prass sudah memastikan tak ada polisi yang menunggu Devina kembali ke kantor polisi sebab anaknya sudah di bebaskan atas permintaan Prass sendiri.


Segalanya telah di persiapkan, dan kini semua sudah berkumpul di pemakaman. Devina tak pernah lepas dari genggaman seorang Alvaro. Sungguh menyedihkan, tak ada keluarga dekat mau pun jauh. Devina hanya mengandalkan anak buah Alvaro saja yang ikut turut mendoakan mereka. Bahkan tetangga hanya terdekat dari rumahnya saja yang turut hadir di sana.


Ternyata pria itu memberikan waktu untuk Prass bicara dengan Devina.

__ADS_1


Devina tampak sesekali memegang nisan itu dan menatap nama. Matanya berusaha berkali-kali menyadarkan dirinya jika itu benar nama sang ibu. Berharap ini semua adalah mimpi buruk yang menimpanya. Namun, semua itu bukanlah mimpi. Itu kebenaran.


"Sebelum meninggal, ibumu mengatakan semuanya padaku, Dev." tutur Tuan Prass namun nampaknya Devina tak menanggapi ucapan pria itu.


Tak perduli. Prass terus melanjutkan ucapannya.


"Semua yang terjadi bukan aku tahu. Ibumu di ancam oleh orang untuk membuatku pergi. Aku pergi meninggalkan kalian bukan karena sengaja. Tapi karena ibumu tidur bersama pria lain." Mata sendu dan sembab Devina membola kala mendengar sang ibu yang tiada di fitnah seperti itu oleh pria di depannya.


"Apa katamu? pria lain? aku bukan anak kecil yang mudah anda tipu. Sekarang pergilah." Devina lelah sekali jika harus bersuara tinggi kali ini.


Prass menggelengkan kepala. "Pria itu suruhan orang itu, dan ibumu di ancam. Tapi tak ada melakukan apa pun. Dan aku salah paham. Aku meninggalkan kalian selama bertahun-tahun karena ku pikir ibumu telah selingkuh. Aku salah, Devina. Maafkan aku..." Prass tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan tanpa adanya dukungan dari Zera. Sungguh ia tak tahu apa susunan katanya sudah benar atau tidak saat ini.

__ADS_1


Air mata Devina kembali menetes, sulit baginya percaya dengan ucapan pria yang paling ia benci. Namun, mendengar kejujuran pria itu membuat hatinya sedikit penasaran. Apa saja yang terjadi dan bagaimana ia tahu seluruh kebenarannya saat ini. Sedangkan sang ibu sampai detik terakhir bertemu dengannya pun tak mau membuka masalalu itu.


"Sebelum meninggal, ibumu sudah menjelaskan semuanya pada ku. Kau benar anakku, Devina. Maafkan aku yang menelantarkan kalian. Sungguh itu bukan kemauan ku." Prass menatap dalam mata Devina. Gadis cantik yang pernah menguji kesetiaannya pada Yulia, mendiang istrinya.


__ADS_2